Hampir, Tapi Tak Pernah

Bear Winter
Chapter #10

Bab 10 — Hujan Tanpa Berteduh Bersama

Langit sudah mendung sejak siang.

Awan menggantung rendah di atas gedung-gedung kampus, kelabu dan berat, seolah menunggu waktu yang tepat untuk jatuh. Udara terasa lembap. Lengket. Seperti sesuatu yang belum selesai.

Lula menutup laptopnya di perpustakaan ketika suara gemuruh pertama terdengar.

Hujan.

Ia melirik jam di pergelangan tangan. Sudah hampir sore. Biasanya, di waktu seperti ini, ia akan berdiri di depan lobi, menunggu satu motor berhenti di depannya.

Dulu.

Sekarang ia hanya memasukkan buku ke dalam tas dan berjalan sendiri menuju koridor depan.

Hujan turun deras dalam hitungan detik. Bukan gerimis pelan. Tapi hujan yang seperti ingin menghapus jejak.

Mahasiswa berlarian kecil mencari tempat berteduh. Beberapa tertawa. Beberapa mengeluh.

Lula berdiri di bawah atap lobi, memandangi air yang memantul dari aspal. Aroma tanah basah naik ke udara.

Ia menyukai hujan.

Hujan selalu jujur. Ia turun tanpa pura-pura.

Langkah kaki berhenti di sampingnya.

Tanpa perlu menoleh, Lula tahu siapa.

“Gak bawa payung?” suara Akbar terdengar datar, hampir seperti basa-basi biasa.

“Enggak,” jawab Lula singkat.

Dulu, jawaban itu akan diikuti dengan, Yaudah bareng aja nanti.

Sekarang, tidak ada lanjutan.

Hanya suara hujan yang memukul atap seng.

Mereka berdiri berdampingan. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Seperti dua orang asing yang kebetulan berteduh di tempat yang sama.

“Lama juga ya,” kata Akbar, mencoba membuka percakapan.

“Hujannya?” Lula bertanya ringan.

“Iya.”

“Semoga cepat reda.”

Tidak ada makna tersembunyi dalam nadanya.

Dan justru itu yang membuat Akbar merasa ada sesuatu yang benar-benar berubah.

Dulu, bahkan dalam diam, ada arus yang terasa di antara mereka. Percakapan tidak pernah benar-benar kosong.

Sekarang, kata-kata terasa seperti kewajiban sosial.

Hujan semakin deras.

Beberapa mahasiswa memutuskan menerobos. Teriakan kecil terdengar ketika sepatu mereka terciprat air.

Akbar memandangi parkiran yang mulai kabur oleh tirai hujan.

“Aku bisa anter,” ucapnya tiba-tiba.

Lihat selengkapnya