Pagi itu, matahari menumpahkan sinarnya yang hangat dan terang, menyelimuti jalanan yang riuh oleh kendaraan. Meski deru mesin dan klakson saling bersahutan, udara pagi tetap terasa menyenangkan.
Di sebuah kafe yang terletak di pinggir jalan raya yang tak pernah sepi, ada seorang barista yang selalu menyenangkan para pengunjungnya. Bukan hanya karena minuman ataupun makanan ringan, tetapi juga senyumnya.
" Alana, espresso satu, ya! " Kalimat ini berulang kali diucapkan—hanya berganti nama hidangan dan jumlahnya saja. Kenapa dia tidak dipanggil kak, atau panggilan lainnya? Karena hampir semua orang mengenalnya.
Alana bukanlah orang terkenal yang lahir di keluarga kaya nan terpandang. Ia hanyalah seorang barista yang lahir dari keluarga sederhana. Ketulusan dan kebaikan hatinyalah yang membawa namanya sampai terdengar oleh semua orang.
Hari itu, suasana kafe sangat ramai, padat dan panas. Tetapi Alana tak mengeluh, ia senang dengan apa yang ia lakukan setiap hari—menyiapkan biji kopi, memadatkan kopi dengan tangan cekatannya, mengekstrak espresso yang harum, memanaskan susu hingga berbusa lembut, dan menyiapkan hidangan dengan senyum dan perhatian.
Tapi sepertinya, hari ini akan agak berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Matahari telah mencapai titik puncaknya, menandakan hari sudah siang.
Sebuah mobil mewah yang mencuri perhatian berhenti di depan kafe tempat Alana bekerja. Tak ada satupun mata yang tidak tertuju pada mobil itu—termasuk Alana. Pintu mobil perlahan terbuka, keluar seorang pemuda dengan pakaian kasual. Bisa dibilang, pakaiannya tidak cocok dengan mobil mewahnya.
Pemuda itu memasuki kafe. Semua mata melihat pemuda itu lekat-lekat sambil berbisik-bisik.
" Semuanya berbisik-bisik, ada apa dengan pemuda ini?" Hati Alana bertanya-tanya.
Pria itu duduk di kursi bar. Tepat di hadapan Alana.
" Pesan apa? Latte, americano, espresso, dan banyak lagi. Lihat saja di menu." ujar Alana sambil menyodorkan menu dengan ramah.
Pemuda itu mengangguk. Ia mengambil menu dari tangan Alana dan membacanya.
" Hot chocolate dengan marshmallow di atasnya, tolong." Pinta pemuda itu.
" Nama kamu siapa? Saya belum pernah lihat kamu berkunjung ke sini." Alana mencari-cari kotak susu di kulkas.
" Arkana, saya Arkana Kalangga. Kamu siapa? " ujarnya sembari menopang dagu.