Setelah melambaikan tangan, Alana tetap berdiri. Memandang punggung Arkana yang perlahan menjauh.
" Hei, Alana. Kamu kenapa? " Suara seseorang membuat Alana terkejut.
" Eh! Astaga.. Keisha, kalau ngomong pelanin dikit dong! " Alana mengelus-elus dadanya.
Keisha tertawa kecil. " Maafin ya. Oh iya! Kelihatannya kamu suka dia, ya?"
Mata Alana terbelalak. " Hah? Nggak lah! Bukan tipe aku, kok. Kamu jangan mengada-ngada, ya! "
Keisha tersenyum menggoda sambil menyenggol Alana dengan sikunya. " Iya apa? Biasanya orang yang lagi jatuh cinta itu banyak menghindar, loh..."
" Oh iya, kamu dari tadi megangin kertas. Apa tuh? Jangan-jangan, surat dari dia?!" Keisha membuka mulutnya lebar-lebar, seolah terkejut.
Alana menyembunyikan kertas itu ke sakunya. " Bukan, bukan. Cuma kertas biasa. Bukan hal yang spesial. *
Keisha makin penasaran. " Huh, gitu aja disembunyiin. Bilang aja, nomor telepon atau surat, kan?"
"Nggak, bukan! " Alana sungguh terkejut.
" Ssst.. aku gak akan kasih tau siapa siapa. Kamu suka dia, kan? Iya, kan? " Keisha tersenyum.
" Nggak akan. " jawab Alana.
" Dia itu terkenal loh, karena kamu juga lumayan terkenal, kalian cocok! " Keisha kembali menyenggol Alana dengan sikunya.
" Sudahlah, Keisha." ujar Alana.
Jam operasional kafe telah berakhir. Alana menemui Keisha saat mau pulang.
" Hei, mau ketemu dia, kan? Aku ikut, ya! Boleh ya.. " pintanya dengan mata berbinar.
" Bukan, Keisha. Tapi kalau kamu mau ikut aku pulang, boleh. Ayo!" ujar Alana.
Di perjalanan, mereka selalu mengobrol. Dua-duanya memang cerewet. Pantas saja mereka —ternyata perilakunya sama. Sama-sama cerewet.
Mereka melewati sebuah taman indah. Taman yang biasanya ramai itu sepi. Hanya beberapa orang di sana. Tak sampai 10 orang.
Keisha menunjuk sebuah bangku yang ada di taman. " Alana, itu tuh. Ada bangku kosong. Dekat sama bunga bunga lagi, duduk di sana sebentar, yuk? Rumah kita juga tidak jauh dari sini. "
" Yuk. Aku juga haus nih. Mau minum sebentar. " Alana langsung berjalan ke arah bangku tersebut.
Mereka duduk-duduk santai, mengobrol, dan kadang sibuk dengan ponsel masing-masing.
Ada seorang pemuda lewat di depan mereka. Pemuda yang rasanya Alana kenal—itu Arkana.