Nisa bangun empat menit sebelum ponselnya bergetar.
Tubuhnya sudah belajar mendahului teror. Pada minggu pertama penagihan, ia masih terkejut setiap kali layar menyala. Pada minggu ketiga, ia mulai terbangun karena bunyi motor berhenti di depan kontrakan. Pada bulan kedua, ia tidak lagi membutuhkan suara. Tepat sebelum pesan datang, jantungnya akan memukul sekali dengan keras, seperti ada yang mengetuk dari dalam dada.
Pukul 03.56, mata Nisa terbuka.
Zahra tidur membelakanginya dengan kedua lutut ditekuk. Rambut anak itu menempel di pipi. Kipas kecil di sudut kamar berputar lamban, mendorong udara panas dan bau minyak kayu putih dari tubuh Zahra. Di luar, gang masih gelap. Seseorang batuk di rumah sebelah. Keran kamar mandi menetes.
Nisa menatap ponsel di lantai, dekat kaki kasur.
Layar menyala.
NOMOR TIDAK DIKENAL
Ia tidak mengambilnya.
Ponsel berhenti, lalu bergetar lagi. Kali ini sebuah pesan masuk.
PAGI LONTE. UDAH SIAP MALU HARI INI?
Nisa memejamkan mata. Di belakang kelopak, kalimat itu tetap terlihat.
Ia meraih ponsel dan mengecilkan volume sampai nol. Getaran berikutnya merambat melalui telapak tangan. Foto profil pengirim berupa logo aplikasi pinjaman yang sudah tidak ada di playstore atau appstore. Namanya berubah tiga kali dalam dua bulan. BantuDana, DanaTeman, lalu UangKita. Di rekeningnya, nama penerima pembayaran selalu berbeda.
Pesan kedua masuk.
Sebuah foto Zahra.
Bukan foto baru. Foto itu diambil dari akun media sosial lama Nisa, ketika Zahra berulang tahun ketiga. Anak itu memakai mahkota kertas dan memegang potongan kue berwarna merah muda.
Di bawah foto, Ferdy menulis:
ANAK CANTIK SAYANG MAMANYA PENIPU.
Nisa langsung menoleh pada Zahra, seolah foto di layar dapat menyentuh tubuh anaknya. Zahra bergumam dan mengusap hidung tanpa terbangun.
"Enggak apa-apa," bisik Nisa.
Ia tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan.
Pesan suara masuk. Nisa tidak memutarnya. Ia menandai tangkapan layar, memasukkannya ke folder bukti, lalu mencatat waktu dalam dokumen yang dibuat relawan bantuan hukum:
03.58. Ancaman menggunakan foto anak. Nomor +62...
Ia sudah memiliki dua ratus enam belas tangkapan layar. Pada awalnya, mengarsipkan bukti membuatnya merasa sedang melawan. Sekarang folder itu terasa seperti lemari tempat ia menyimpan versi-versi dirinya yang dihina.
Pukul empat lewat sepuluh, ia bangun untuk menanak nasi.
Dapur kontrakan hanya selebar rentangan kedua tangannya. Ada kompor satu tungku, galon, rak plastik, dan meja kecil yang salah satu kakinya ditopang buku katalog lama. Nisa mencuci beras dalam panci sambil memegang ponsel jauh dari kamar. Setiap beberapa detik, layarnya menyala.
DITUNGGU TRANSFER 5 JUTA JAM 9.
ENGGAK ADA UANG JUAL HP.
JUAL ANAK SEKALIAN.
Pada pesan terakhir, jari Nisa berhenti mengaduk beras.
Air cucian menjadi putih. Butir-butir beras menempel di kulitnya.
Ia mengetik:
Saya sudah membayar lebih dari pokok. Tolong beri waktu. Saya sedang mengurus restrukturisasi. Jangan bawa-bawa anak saya.
Tanda centang berubah dua.
Ferdy membalas dengan emoji tertawa.
Nisa menyalakan mode pesawat.
Selama sebelas menit, dunia diam.
Ia memakai sebelas menit itu untuk menggoreng telur, mengisi botol minum Zahra, menyetrika seragam kantornya, dan menaruh dua lembar uang sepuluh ribu di dompet kecil anaknya. Ketika mode pesawat dimatikan, tiga puluh tujuh pesan masuk sekaligus. Ponsel bergetar di atas meja sampai sendok jatuh.
Zahra muncul di ambang pintu sambil mengucek mata.
"Bunda, ada gempa?"
Nisa menekan ponsel dengan telapak tangan.
"Bukan. Alarm Bunda rusak."
"Alarmnya marah?"
"Iya."
"Dimarahin balik."
Nisa tersenyum. Otot wajahnya terasa kaku, seperti sudah lama tidak dipakai. "Nanti Bunda marahin."
Zahra duduk di kursi plastik. Nisa menyuapinya nasi dan telur sambil menghafal daftar kebutuhan hari itu. Ongkos angkot. Uang makan. Iuran sekolah yang tertunda. Obat penurun panas yang tinggal setengah botol. Tagihan listrik dua hari lagi. Lima juta sebelum jam sembilan, sebuah angka yang tidak akan lahir hanya karena seseorang mengetiknya dengan huruf kapital.