HANGUS JADI ABU

Indra S Miraj
Chapter #3

BAB 3: Sebar

Pukul 09.07, Rani berhenti mengetik.

Gerakannya sangat kecil. Kedua tangannya menggantung di atas papan ketik, lalu perlahan turun ke meja. Ia menatap layar ponsel, bukan Nisa.

Di meja lain, seseorang menarik napas pendek.

Nisa sedang memasukkan nomor surat jalan ketika telepon kantor berdering tiga kali berturut-turut. Panggilan pertama ditutup begitu dijawab. Panggilan kedua memutar suara laki-laki yang berkata, "Karyawan kalian maling data." Panggilan ketiga meminta disambungkan kepada "Nisa yang jualan badan".

Pak Budi keluar dari ruang HR.

"Nisa, ikut saya sebentar."

Tidak ada yang melihat wajahnya ketika ia berdiri. Itulah yang paling menyakitkan. Kalau mereka menatap, Nisa mungkin masih dapat marah. Orang-orang justru memusatkan perhatian pada monitor, tumpukan dokumen, cangkir, apa pun yang dapat membuat mereka tidak terlibat.

Ponsel Nisa bergetar di saku.

Di ruang HR, pendingin udara terlalu dingin. Pak Budi menutup pintu, lalu meletakkan ponselnya di meja dengan layar menghadap bawah.

"Saya mau tanya dulu," katanya. "Ini foto editan?"

Nisa tidak menjawab. Pertanyaan itu terasa seperti tamparan meskipun nada Pak Budi lembut.

"Editan, Pak."

"Yakin?"

"Itu wajah saya ditempel. Bapak bisa lihat lehernya. Warna kulitnya beda."

"Saya bukan nuduh."

"Tapi Bapak tanya yakin."

Pak Budi mengusap kening. Ia berusia sekitar lima puluh tahun dan biasanya memperlakukan Nisa dengan baik. Ketika Zahra dirawat, ia mengizinkan Nisa bekerja dari rumah selama dua hari meskipun prosedur perusahaan tidak mengenal kerja jarak jauh untuk staf administrasi. Kebaikan lama itu membuat percakapan sekarang semakin sulit.

"Sudah ada tiga klien yang menerima," katanya. "Satu di antaranya kirim ke direktur."

"Nomor saya dicuri aplikasi."

"Saya mengerti."

"Mereka juga kirim ke sekolah anak saya."

Pak Budi memandangnya untuk pertama kali. Ada iba di sana. Ada juga rasa takut.

"Kamu punya masalah pinjaman?"

Nisa ingin mengatakan bahwa ia tidak punya masalah pinjaman. Ia punya anak yang kejang, sistem pinjaman yang berbohong, dan orang-orang yang memakai rasa malu sebagai senjata. Tetapi ia tahu kalimat panjang akan terdengar seperti alasan.

"Ada tagihan yang sedang saya selesaikan."

"Berapa?"

"Saya pinjam tujuh juta."

"Sekarang?"

Nisa diam.

"Berapa, Nis?"

"Tiga puluh empat."

Pak Budi bersandar. Reaksinya hanya sepersekian detik, tetapi Nisa melihatnya. Mata yang membesar. Bibir yang hampir mengatakan sesuatu lalu ditahan.

"Kok bisa?"

Itulah pertanyaan yang selalu datang. Bukan apa yang mereka lakukan kepadamu. Bukan apakah kamu aman. Selalu kok bisa, seolah penderitaan baru layak dipercaya setelah korban berhasil membuktikan bahwa ia tidak ikut menyebabkannya.

"Bunga dan beberapa aplikasi," jawab Nisa.

"Kenapa ambil beberapa?"

"Untuk menutup yang pertama."

"Ya, itu gali lubang tutup lubang."

Nisa menatap meja. Ada goresan berbentuk setengah lingkaran di dekat tangannya. Ia mengikuti garis itu dengan kuku agar tidak menangis.

Pak Budi segera menyadari ucapannya.

"Maaf. Saya cuma sedang mencoba mengerti."

"Saya juga."

Ponsel di meja Pak Budi bergetar. Ia tidak membaliknya.

"Untuk sementara, perusahaan perlu melindungi hubungan dengan klien."

Nisa mengangkat kepala.

"Maksudnya?"

"Kamu cuti dulu."

"Berapa lama?"

"Sampai situasi tenang."

"Cuti dibayar?"

Pak Budi tidak langsung menjawab.

Di luar ruang HR, mesin fotokopi mulai bekerja. Suara kertas ditarik satu per satu terdengar seperti hitungan mundur.

"Kita belum punya skema untuk kasus seperti ini," katanya. "Saya usahakan ada bantuan, tapi untuk sekarang cuti di luar tanggungan."

"Kalau saya enggak digaji, saya bayar pakai apa?"

Lihat selengkapnya