HANGUS JADI ABU

Indra S Miraj
Chapter #4

BAB 4: Bengkel yang sepi

Teguh dapat mengenali pelanggan dari suara motor sebelum kendaraan itu memasuki bengkelnya.

Mesin bebek tua dengan rantai kendur milik Pak Jajang terdengar seperti kaleng diisi batu. Skuter putih Bu Ratih selalu mencicit ketika rem belakang ditekan. Motor sport milik anak pemilik toko bangunan meraung berlebihan sejak ujung gang, seolah perlu mengumumkan bahwa pemiliknya mampu membeli bensin pertamax turbo.

Pagi itu, tidak ada suara yang masuk.

Teguh duduk di bangku pendek di depan bengkelnya sambil memegang kunci pas. Papan nama BENGKEL TEGUH MOTOR bergoyang ditiup angin. Tiga montir yang biasa bekerja dengannya tinggal satu. Yayan sedang membongkar karburator motor titipan yang pemiliknya belum mengambil selama dua minggu.

"Pak Jajang jadi ke sini enggak, Kang?" tanya Yayan.

"Katanya jam sembilan."

Sekarang hampir jam sebelas.

Teguh membuka percakapan dengan Pak Jajang. Pesan terakhirnya sudah dibaca.

Pak, kampas remnya sudah datang. Bisa dikerjakan hari ini.

Tidak ada balasan.

Nomor lain masuk.

"Dengan Teguh Motor."

"Bapak penipu, ya?"

Suara perempuan. Teguh berdiri.

"Maaf, siapa?"

"Saya dapat pesan katanya Bapak pakai suku cadang curian. Nomor rangka motor pelanggan juga dijual."

"Itu bohong, Bu. Siapa yang kirim?"

"Kalau bohong kenapa orangnya punya foto KTP Bapak?"

Telepon ditutup.

Yayan pura-pura tidak mendengar. Tangannya mengencangkan baut yang sama dua kali.

Teguh membuka grup pelanggan. Ia dikeluarkan dari dua grup komunitas motor pagi tadi. Di grup yang masih dapat dilihatnya, seseorang mengunggah foto KTP Teguh, foto rumah, dan daftar utang. Di bawahnya ada pesan:

HATI-HATI BENGKEL INI. PEMILIK GAGAL BAYAR 46 JUTA. DIDUGA JUAL PART PELANGGAN UNTUK BAYAR UTANG.

Angka empat puluh enam juta membuat dadanya panas. Ia meminjam sebelas juta untuk membeli kompresor dan stok suku cadang ketika bengkel sepi setelah istrinya sakit. Sisanya lahir dari perpanjangan, denda, dan pinjaman lain yang ditawarkan sebagai jalan keluar.

Brandon menelepon.

"Pagi, Bos Bengkel."

"Lu apain pelanggan gue?"

"Kita edukasi."

"Urusan utang sama gue."

"Kalau sama lu doang, lu enggak bayar."

"Gue udah transfer tiga juta minggu lalu."

"Itu biaya kunjungan."

"Enggak ada yang datang."

Brandon tertawa. "Niat datang juga biaya."

Teguh mencengkeram kunci pas sampai buku jarinya memutih.

"Tarik semua pesan lu."

"Bayar empat puluh enam."

"Pokok gue sebelas."

"Itu dulu. Dulu lu juga masih punya nama baik."

Panggilan ditutup.

Pada pukul dua belas, seorang pelanggan datang hanya untuk mengambil motor yang belum selesai. Ia tidak menuduh Teguh, tetapi meminta semua komponen lama dikembalikan dan memotret nomor mesin sebelum pergi. Teguh menurunkan motornya dari standar tanpa berkata apa-apa.

Yayan melepas celemek kerja.

"Saya pulang dulu, Kang."

"Masih siang."

Lihat selengkapnya