HANGUS JADI ABU

Indra S Miraj
Chapter #6

BAB 5: Tiga Emoji Bintang

Dian memilih kafe dengan lampu paling terang di pusat perbelanjaan.

Mira datang memakai masker, topi, dan kemeja lengan panjang meskipun udara Jakarta sedang panas. Ia duduk membelakangi pintu. Setiap kali seorang laki-laki mengangkat ponsel, bahunya menegang.

"Kamu kelihatan kayak buronan," kata Dian.

"Aku memang lagi diburu."

"Maksudku, rileks sedikit."

Mira melepas masker hanya untuk minum. Di layar ponselnya, notifikasi bergerak tanpa henti. Ia telah mematikan pratinjau pesan, tetapi nama-nama akun baru terus muncul.

Dian mendorong piring kentang goreng ke tengah.

"Coba ceritanya dari awal."

Mira sudah menceritakan dari awal melalui pesan dua hari lalu. Ia tahu Dian membaca semuanya karena centang biru muncul pada setiap paragraf. Namun ia mengulang lagi. Utang sembilan setengah juta untuk menutup biaya hidup setelah kontrak kerjanya tidak diperpanjang. Aplikasi kedua untuk membayar aplikasi pertama. Tiga puluh delapan juta. Panggilan ke kantor lama. Foto KTP. Ancaman.

Dian mendengarkan sambil sesekali mengangguk.

"Aku enggak ngerti satu hal," katanya setelah Mira selesai.

"Apa?"

"Kenapa kamu enggak pulang kampung saja waktu mulai kesulitan?"

Mira menatapnya.

"Aku belum selesai cerita tentang foto."

"Aku tahu. Itu parah. Tapi maksudku dari sebelum itu. Kadang kita harus turunin gengsi."

"Aku enggak gengsi."

"Kamu selalu bilang enggak mau balik sebelum berhasil."

"Karena di sana enggak ada kerjaan yang bisa bayar utangku."

"Ya, tapi setidaknya biaya hidup lebih murah."

Mira melihat meja di antara mereka. Dian mengecat kukunya warna krem. Ada satu serpihan kecil cat kuku lepas pada jari telunjuk. Mira memusatkan perhatian pada serpihan itu agar tidak mendengar suara lain di kepalanya.

Seharusnya kamu pulang.

Seharusnya kamu lebih hati-hati.

Seharusnya kamu tidak pinjam.

Seharusnya kamu tidak percaya.

"Aku datang bukan minta strategi finansial," kata Mira.

"Terus minta apa?"

Pertanyaan itu tulus.

Mira tidak tahu cara menjawabnya tanpa terdengar kekanak-kanakan. Ia ingin Dian percaya bahwa foto itu palsu bahkan sebelum melihatnya. Ia ingin seseorang menemaninya pulang. Ia ingin tidur di rumah yang memiliki orang lain, supaya jika ada motor berhenti di depan pagar, ia tidak perlu berdiri sendirian di balik tirai.

"Aku cuma mau cerita."

"Ya aku dengerin."

"Tapi setiap aku berhenti, kamu jelasin salahku."

Dian menghela napas. "Aku berusaha bantu kamu supaya enggak kejadian lagi."

"Kejadiannya belum selesai."

Mereka diam.

Di meja sebelah, dua remaja mengambil foto minuman. Kilatan lampu membuat Mira menutup wajah.

Dian melihat gerakannya dan melembut. "Kamu bisa tidur di tempatku satu malam kalau mau. Cuma besok pagi Mama datang, jadi sebelum jam sembilan kamu harus pergi."

Tawaran itu seharusnya cukup. Mira tahu Dian hidup bersama dua teman sekamar dan harus meminta izin. Ia tahu semua orang memiliki batas. Namun kalimat sebelum jam sembilan kamu harus pergi terdengar seperti pintu yang sudah diberi waktu menutup bahkan sebelum dibuka.

"Enggak usah," katanya.

Saat mereka berpisah, Dian memeluknya sebentar.

"Kamu kuat," katanya.

Malamnya, Dian mengirim pesan:

Semangat ya Mir ⭐⭐⭐

Mira menatap tiga emoji bintang itu. Kuning, kecil, cerah. Ia hampir tertawa karena kebencian dapat tumbuh terhadap benda yang begitu tidak bersalah.

Notifikasi berikutnya berasal dari nomor ayahnya.

Mira sekarang kerja apa sebenarnya?

Di bawah pertanyaan itu ada gambar.

Wajah Mira ditempel pada tubuh perempuan berlingerie. Di pojok gambar tertulis tarif, wilayah layanan, dan nomor teleponnya. Desainnya rapi. Logo palsu. Testimoni. Bahkan ada diskon untuk pelanggan pertama.

Mira menutup gambar, tetapi tangannya membuka lagi. Otaknya bekerja seperti ketika ia masih menjadi staf pemasaran digital. Ia melihat jenis huruf, komposisi warna, tombol tindakan, kemungkinan target audiens, dan kalimat yang sengaja dibuat cukup samar agar dapat dibagikan tanpa langsung dihapus platform.

Mereka tidak hanya mempermalukannya.

Mereka membuat kampanye.

Lihat selengkapnya