Diaz menulis namanya sendiri di bawah daftar tagihan, lalu mencoretnya sampai kertas robek.
Nama itu masih dapat dibaca.
DIAZ RAMADHAN
Ia menambahkan satu garis lagi. Ujung bolpoin menembus kertas dan menggores meja warung yang sudah tidak lagi menjadi miliknya.
Di dinding belakang, menu bertuliskan MIE NYEMEK BANG DIAZ masih tergantung. Foto-foto makanan mulai pudar terkena uap dan minyak. Harga pada papan sudah tidak berlaku. Kursi plastik ditumpuk. Kompor dua tungku dibungkus kardus. Kulkas minuman yang disewa dari distributor akan diambil besok.
Enam bulan lalu, warung itu buka sampai pukul dua pagi. Pengemudi ojek, satpam, dan mahasiswa kos memenuhi kursi. Diaz hafal siapa yang suka cabai lima, siapa yang minta kuah sedikit, dan siapa yang selalu berutang sampai hari gajian. Ketika harga bahan naik dan jalan depan ditutup karena proyek, pembeli berkurang. Ia meminjam enam juta untuk bertahan.
Warung tutup sebelum pinjaman lunas.
Sekarang enam juta menjadi dua puluh sembilan.
Ia kembali menarik penumpang dengan motor sewaan. Pagi sampai sore untuk makan dan sewa. Malam untuk membayar tagihan yang tidak pernah mengecil. Tiga hari lalu pemilik rental memberi batas: kalau tunggakan tidak dibayar malam ini, motor diambil.
Ponsel Diaz menyala.
Pesan dari adiknya, Rika.
Kak, orangnya telepon lagi. Dia bilang tahu kampusku.
Diaz mengetik:
Blokir. Jangan jawab.
Nomornya beda terus.
Jangan pulang sendiri.
Aku jadi enggak masuk kuliah.
Diaz menekan pangkal hidung. Di luar warung, hujan mulai turun. Air menetes dari ujung terpal ke ember bekas. Setiap tetesan terdengar terlalu jelas.
Ia menelepon nomor penagih.
"Jangan hubungi adik gue."
"Bayar."
"Urusan sama gue."
"Kalau urusan sama lu selesai, kita enggak cari keluarga."
"Gue bayar satu juta besok."
"Besok motor lu udah enggak ada."
"Lu mau gue kerja pakai apa?"
"Bukan masalah gue."
Diaz tertawa pendek. "Terus kalau gue enggak kerja, lu tagih siapa?"
"Adik lu lumayan."
Diaz berdiri begitu cepat sampai kursi terjungkal.
"Lu ngomong apa?"
Panggilan ditutup.
Ia menelepon kembali. Nomor tidak aktif.
Diaz memukul meja. Bolpoin meloncat dan jatuh. Setelah itu tidak ada yang berubah. Hujan tetap turun. Tagihan tetap ada. Rika tetap mengurung diri di kamar kos. Ia mengambil bolpoin dan menulis semua nomor yang telah menghubungi mereka, tetapi daftarnya terlalu panjang dan sebagian sudah tidak aktif.
Di bagian bawah kertas, tanpa tahu mengapa, ia menulis:
Kalau gue hilang, berhenti enggak?
Ia menatap kalimat itu.
Ketika ayah mereka meninggal, Diaz berjanji kepada Rika bahwa ia akan membiayai kuliah. Janji itu yang membuatnya membuka warung, mengambil pinjaman, lalu kembali mengemudi setelah warung tutup. Namun setiap usaha memperpanjang jalur orang-orang yang dapat menyentuh Rika.
Mungkin cara melindungi seseorang adalah tidak lagi berdiri dekat dengannya.
Pikiran itu begitu tenang sampai Diaz ketakutan.
Ia menghapus pesan terakhir kepada Rika, lalu membuka aplikasi pengemudi. Saldo minus. Akunnya dibekukan karena pelanggan fiktif melaporkan bahwa ia mengancam penumpang. Laporan masuk pagi tadi, setelah DC memesan perjalanan menggunakan akun palsu.
Satu pintu lagi tertutup.
Motor berhenti di depan warung.
Pemilik rental datang dengan jas hujan. Ia tidak kasar. Ia bahkan meminta maaf.
"Gue juga ditagih setoran, Di."
"Kasih sampai besok."