HANGUS JADI ABU

Indra S Miraj
Chapter #8

BAB 7: Dua Puluh Tiga Tubuh

Andika menyimpan foto mayat di folder bernama INVOICE agar Devina tidak membukanya tanpa sengaja.

Itu kebiasaan lama. Ketika masih bekerja penuh waktu di redaksi, ia menamai dokumen sensitif dengan istilah membosankan: notulen, pajak, daftar belanja. Kebiasaan itu bertahan setelah ia menjadi jurnalis independen. Laptopnya penuh folder yang terdengar seperti urusan administrasi, padahal isinya bukti pencucian uang, percakapan pejabat, nama sumber, dan dalam delapan bulan terakhir, dua puluh tiga tubuh yang mengalami luka hampir mustahil.

Andika membuka foto keempat belas.

Seorang supervisor penagihan di Bekasi ditemukan di kamar mandi dengan kuku penuh abu. Tidak ada tanda kebakaran. Seorang direktur perusahaan pinjaman di Tangerang kehilangan kemampuan bicara setelah lidahnya dipenuhi angka-angka kecil yang tampak seperti tato dari bawah kulit. Seorang operator data di Surabaya terus meneriakkan nomor KTP orang asing sampai pembuluh darah di matanya pecah.

Polisi mencatat sebagian sebagai pembunuhan, sebagian sebagai gangguan kesehatan, sebagian belum disimpulkan.

Andika melihat sistem.

Ia menempelkan dua puluh tiga foto pada dinding ruang kerjanya. Di bawah setiap foto ada nama, jabatan, aplikasi terkait, tanggal teror terakhir, tanggal gangguan, dan status korban pinjaman yang pernah mereka tangani.

Devina berdiri di pintu sambil membawa dua cangkir teh.

"Kalau orang normal lihat kamar ini, Kakak dikira pembunuh berantai."

"Pembunuh berantai biasanya lebih rapi."

"Pembunuh berantai juga bilang begitu."

Andika menerima teh. "Obat sudah?"

"Sudah."

"Yang putih?"

"Dua-duanya."

"Bohong."

Devina mengeluarkan tablet dari saku dan menelannya di depan Andika. "Puas?"

"Minum."

"Kakak cocok jadi DC."

Andika menatapnya.

"Maaf," kata Devina. "Becandanya jelek."

Mereka tinggal di rumah peninggalan orang tua di Duren Sawit. Rumah satu lantai dengan lantai teraso, jendela kayu, dan halaman kecil yang terlalu sempit untuk mobil. Andika beberapa kali ingin menjualnya setelah ibu meninggal, tetapi Devina menolak. Anak itu, yang sekarang berusia dua puluh satu dan membenci dipanggil anak, lahir dengan kelainan jantung bawaan. Rumah tersebut adalah satu-satunya tempat yang tidak mengingatkannya pada rumah sakit.

"Ada pola baru?" tanya Devina.

Andika menunjuk deretan tanggal.

"Semua orang yang pernah mereka tagih berhenti menerima teror tujuh hari sebelum pelakunya jatuh."

"Itu bagus, kan?"

"Terlalu seragam."

"Mungkin mereka bikin grup balas dendam."

"Kalau iya, mereka punya orang di banyak kota, akses data, uang, dan cara membuat luka yang belum bisa dijelaskan dokter."

Devina menyesap teh. "Kakak enggak percaya santet, tapi percaya dokter belum bisa jelasin."

"Dua kalimat itu bisa benar bersamaan."

Andika memperbesar foto tempat kejadian perkara dari kasus pertama. Gambar diambil di call center ilegal setelah seorang operator bernama Ferdy ditemukan mati. Polisi menutup perkara dari publik karena kondisi tubuh memicu spekulasi. Sumber Andika di kepolisian mengirim enam foto.

Pada foto pertama, tubuh Ferdy duduk di kursi.

Pada foto kedua, meja dan ponsel.

Pada foto ketiga, lantai penuh potongan kertas.

Andika memperbesar sudut kanan bawah.

Sesuatu berwarna cokelat terjepit di bawah kaki meja. Bentuknya persegi panjang. Salah satu ujungnya hitam.

"Amplop?" tanya Devina.

"Mungkin."

"Semua orang mati dapat undangan dulu?"

"Atau seseorang membawa undangan."

Andika mengambil buku catatan. Di halaman baru ia menulis:

TUJUH HARI. AMPLOP. KORBAN BERHENTI DITAGIH.

Ponselnya berbunyi. Pesan dari Maya, editor yang masih bekerja sama dengannya.

Ada satu lagi. Patrick Kurniawan. Ruang rapat. Polisi belum rilis.

Patrick adalah nama yang sudah enam bulan berada di bagian atas papan. Secara resmi ia komisaris dua perusahaan teknologi dan investor beberapa aplikasi keuangan. Secara tidak resmi, namanya muncul di antara dua puluh enam perusahaan cangkang yang menerima pembayaran dari aplikasi pinjaman ilegal. Ia tidak pernah terdaftar sebagai pemilik manfaat akhir. Tanda tangannya tidak muncul. Orang-orang di bawahnya menggunakan kata "Pak P" dan "pemegang payung".

Lihat selengkapnya