Wati mengangkat telepon pada panggilan kelima.
"Kenapa dari tadi?" suaranya berbisik. "Aku lagi masak."
Nisa duduk di lantai kontrakan dengan punggung menempel pada tempat tidur. Zahra tidur siang setelah menangis karena tidak diizinkan pergi ke sekolah. Di meja ada dua piring yang belum dicuci dan surat cuti tanpa gaji dari kantor.
"Teh, aku boleh ke rumah beberapa hari?"
Di seberang, bunyi spatula berhenti.
"Kenapa?"
"Ada orang kirim foto rumah. Aku takut mereka datang."
"Deni lagi kerja dari rumah."
"Aku sama Zahra tidur di ruang tamu saja."
"Bukan masalah tempat."
Nisa menunggu.
"Mereka sudah kirim pesan ke Mas Deni juga," lanjut Wati. "Dia marah."
"Sama aku?"
"Ya sama situasinya. Kamu tahu sendiri kerjanya berhubungan sama klien. Kalau nomor kantornya ikut diteror, bisa panjang."
"Aku enggak minta uang."
"Aku tahu. Tapi kenapa bisa sampai sebanyak itu, Nis?"
Nisa menatap kukunya. Masih ada bekas tinta dari menulis nomor laporan pagi tadi.
"Sudah pernah aku ceritakan."
"Kamu bilang pinjam buat rumah sakit, bukan gali lubang sampai lima aplikasi."
"Karena yang pertama jatuh tempo."
"Seharusnya waktu itu bilang."
"Aku bilang."
"Enggak jelas."
"Aku bilang aku butuh bantuan."
"Semua orang butuh bantuan."
Kalimat itu membuat ruangan mengecil.
Wati menghela napas. "Aku bukan enggak sayang. Aku cuma mau kamu sadar ada keputusan yang salah di sini."
"Aku sudah sadar."
"Jangan defensif."
"Aku lagi minta tempat aman, Teh."
"Iya, tapi kalau kita langsung bantu tanpa kamu mengerti kesalahannya, nanti terulang."
Nisa tertawa kecil. Bukan karena lucu. Tubuhnya tidak tahu lagi suara apa yang harus dikeluarkan.
"Apa?"
"Enggak."
"Kamu selalu begitu kalau dinasihati."
Nisa melihat Zahra bergerak dalam tidur. Anak itu mengerutkan dahi, mungkin mendengar suara ibunya.
"Jadi aku boleh datang atau enggak?"
Wati diam terlalu lama.
"Aku bicara dulu sama Mas Deni."
"Kapan?"
"Nanti malam."
"Aku takut malam ini."