Ketika azan magrib terdengar, Nisa sedang berdiri di luar mushola dengan kunci cadangan di tangan.
Mushola itu hanya tiga rumah dari kontrakannya. Selama empat tahun, Nisa membantu membuka pintu samping untuk jamaah perempuan jika Bu Haji Murni terlambat. Kuncinya masih digantungkan pada gantungan bunga plastik yang dibuat Zahra.
Malam itu, lampu dalam mushola menyala hangat. Sandal berbaris di tangga. Dari balik tirai, terdengar perempuan-perempuan merapikan mukena dan memanggil anak mereka agar tidak berlari. Tidak ada yang melarang Nisa masuk.
Tidak ada tulisan tentang dirinya.
Tidak ada bisikan yang dapat ia buktikan.
Namun gambar palsu sudah masuk ke grup warga. Nisa melihat dua orang ibu menghapus pesan setelah ia muncul. Bu Haji Murni menyapanya siang tadi dengan ramah, lalu matanya turun ke ponsel Nisa. Mungkin hanya kebetulan.
Nisa memasukkan kunci ke lubang, tetapi tidak memutarnya.
Di dalam, iqamah dimulai.
Ia membayangkan berdiri di saf paling belakang. Ponsel bergetar di tas. Seseorang di sampingnya mengenali wajah dari gambar. Ia membayangkan menundukkan kepala dan tidak tahu apakah sujudnya masih ditujukan kepada Tuhan atau hanya cara bersembunyi dari mata manusia.
Nisa menarik kunci.
Ia duduk di bangku semen di luar sampai salat selesai.
* * *
Di bengkel yang gelap, Teguh menghamparkan sajadah di antara dua motor.
Ponselnya sudah dimatikan, tetapi getaran masih terasa di paha. Getaran hantu. Setiap beberapa detik, ototnya bergerak sendiri seolah perangkat itu berada di saku.
Ia mengangkat tangan.
"Allahu Akbar."
Pintu besi dipukul dari luar.
Teguh menoleh.
"Pak Teguh!" teriak seseorang. "Paket!"
Ia mencoba melanjutkan. Ketukan kembali terdengar, lebih keras.
"Paket bayar di tempat!"
Teguh tahu ia tidak memesan. Dalam dua hari, tujuh kurir datang membawa barang fiktif. Ayam potong, pakaian dalam, suku cadang mahal, dan satu peti makanan beku. Ketika ia menolak, beberapa penjual memaki karena rugi.
Ketukan ketiga.
Teguh mengakhiri salat sebelum rakaat pertama selesai. Ia menggulung sajadah, membuka pintu sedikit, dan menjelaskan kepada kurir. Lelaki itu marah, lalu melihat tulisan cat di papan dan mengerti.
"Wah, diteror pinjol, Pak?"
Teguh mengangguk.
"Salah sendiri main begituan."
Kurir mengangkat paket dan pergi.
Teguh menutup pintu. Ia tidak membuka sajadah lagi.
* * *
Mira membasuh lengan di rumah aman Jemaah Abu.
Rumah itu berada di gang tenang dan dihuni enam perempuan. Tidak ada yang menanyakan utangnya pada hari pertama. Mereka memberi kamar, pakaian, makanan, dan nomor pengacara. Ponsel baru tidak pernah menerima pesan penagihan.
Untuk tiga hari, Mira merasa keluar dari air.
Sore itu, Laras mengajaknya salat berjamaah. Mira berdiri di samping seorang ibu bernama Rukmini yang membawa bekas luka bakar pada leher. Ketika air wudu menyentuh wajah, Mira teringat gambar palsu. Ia mengusap lebih keras, seolah sesuatu menempel pada kulit.
"Pelan," kata Laras.
Mira mengangguk.
Air mengalir dari dagu. Ia membasuh lagi.
"Cukup tiga kali."
"Masih terasa."
"Apa?"
Mira tidak menjawab.
Di tengah wudu, ia berhenti. Keran tetap terbuka.
"Saya enggak bisa," katanya.
Laras mematikan air. "Tidak apa-apa."
Tidak ada ceramah. Laras menyerahkan handuk.
"Kalau saya marah sama Tuhan, saya jahat?" tanya Mira.
"Kamu sedang luka."
"Itu bukan jawaban."