HANGUS JADI ABU

Indra S Miraj
Chapter #12

BAB 11: Orang yang Masih Mengetuk

Wati membeli dua bungkus nasi, susu kotak untuk Zahra, dan roti yang Nisa suka sejak kecil.

Ia tidak memberi tahu Mas Deni.

Sejak telepon kemarin, suara adiknya terus menempel di kepala. Aku lagi minta tempat aman, Teh. Wati telah mengulang jawabannya berkali-kali dan setiap pengulangan membuatnya terdengar lebih buruk. Ia memang takut. Nomor Mas Deni sudah menerima ancaman. Foto anak-anak mereka diambil dari media sosial. Namun ketakutan tidak mengubah kenyataan bahwa Nisa meminta tempat tidur dan Wati menjawab dengan pelajaran.

Pukul sembilan pagi, Wati mengirim pesan:

Aku ke sana. Bawa makanan. Kalau kamu mau, kamu dan Zahra ikut ke rumah dulu.

Centang satu.

Ia mencoba menelepon. Tidak aktif.

Wati berangkat tetap.

* * *

Ponsel Nisa aktif, tetapi layarnya berkedip dan jaringan di gang sering hilang.

Ia sedang menatapnya ketika pesan Wati seharusnya masuk. Tidak ada apa-apa. Hanya empat pesan dari nomor tak dikenal dan dua iklan pinjaman baru.

Sejak subuh, Zahra demam ringan. Bukan kejang, hanya hangat dan rewel, tetapi tubuh Nisa mengingat malam rumah sakit dengan ketepatan yang kejam.

Ia menelepon Wati.

Panggilan gagal.

Wati tiba pukul 10.12 dan mengetuk pintu.

"Nis? Ini Teteh."

Nisa berada di kamar mandi belakang ketika ketukan pertama terdengar. Keran menyala dan Zahra baru saja muntah pada bajunya.

Ketukan kedua membuatnya membeku.

Lihat selengkapnya