Ferdy mengirim foto Zahra pukul 16.41.
Foto itu bukan dari media sosial.
Zahra berdiri di depan gerbang sekolah, mengenakan seragam merah muda dan membawa botol minum berbentuk kelinci. Gambar diambil pada hari terakhir ia masuk, dari jarak cukup dekat untuk menangkap plester kecil pada lututnya.
Di bawah foto tertulis:
JAM PULANGNYA MASIH SAMA?
Nisa langsung menelepon Bu Lina.
"Bu, CCTV sekolah masih simpan rekaman minggu lalu?"
"Kenapa?"
"Ada orang foto Zahra."
Bu Lina terdiam, lalu meminta Nisa mengirim gambar. Lima menit kemudian ia menelepon kembali. Kamera luar sekolah rusak sejak bulan lalu.
"Kami bisa minta satpam lebih waspada," katanya.
"Dia enggak masuk sekolah."
"Saya tahu. Mungkin foto lama."
"Itu bukan foto dari saya."
"Saya percaya, Bu."
Kalimat itu seharusnya menenangkan. Tidak.
Nisa mengunci pintu, jendela, dan lubang ventilasi dengan kain. Ia mengisi tas kecil berisi pakaian Zahra, obat, akta kelahiran, dan sisa uang. Ia tidak punya tempat tujuan.
Pukul 17.02 ia menelepon Arief.
Ditolak.
Pukul 17.05 ia menelepon Wati meskipun nomornya sudah dihapus.
Tidak aktif.
Pukul 17.09 ia menelepon Pak Budi.
Tidak diangkat.
Pukul 17.12 ia menelepon nomor pribadi Sari dari bantuan hukum.
Telepon berdering, lalu masuk kotak suara. Sari sedang mendampingi korban lain di kepolisian.
Pukul 17.16 ia menelepon Ustaz Rahman.
Nomornya sibuk.
Lima orang.
Lima pintu.
Tidak ada yang menjawab pada saat yang sama.
Zahra duduk di lantai sambil menggambar rumah. Ia membuat atap merah, dua jendela, matahari besar, dan tiga orang bergandengan tangan.
"Yang satu siapa?" tanya Nisa.
"Bunda."
"Yang kecil?"
"Aku."
"Yang ini?"
Zahra mengangkat bahu. "Orang baik."
Nisa memeluknya dari belakang.
"Kalau ada yang ketuk, jangan buka."
"Kalau orang baik?"
"Orang baik juga tunggu Bunda."
Menjelang magrib, listrik padam.
Hanya rumah Nisa.
Meteran di depan tidak berbunyi. Saldo listrik masih ada. Ia mengintip di ujung gang, seorang laki-laki berjaket berdiri di dekat motor sambil memegang ponsel.
Nisa mundur.
Pesan masuk:
GELAP YA?
Ia menarik lemari plastik ke depan pintu. Zahra mulai menangis karena panas dan gelap. Nisa menyalakan senter, tetapi baterai ponsel tinggal delapan belas persen.
"Kita ke belakang," katanya.
Tidak ada pintu belakang. Hanya kamar mandi dengan ventilasi sempit yang mengarah ke tembok tetangga.
Pukul 18.29, seseorang mengetuk.
Tok.
Nisa memeluk Zahra.
Tok.
"Bu Nisa," kata suara laki-laki. "Paket."
Tidak ada paket.
Tok.
Ketukan ketiga membuat seluruh perangkat di rumah menyala.
Ponsel lama yang sudah mati di laci.