Nisa menulis nama Ferdy tujuh kali.
Tulisan pertama rapi, seperti nama pada formulir. Tulisan kedua lebih besar. Pada tulisan ketiga, ujung bolpoin menekan sampai meninggalkan bekas di meja. Empat nama berikutnya saling menimpa hingga menjadi gumpalan tinta.
Di bawahnya ia menulis nama aplikasi, nomor penagih, dan orang-orang yang ikut menyebarkan gambar. Ia menulis Pak Budi, lalu mencoretnya. Menulis Bu Lina, lalu mencoretnya juga. Menulis Arief tanpa mencoret. Menulis Wati, menatapnya lama, lalu menambahkan tanda tanya.
Kertas Daftar Luka tidak memberi batas.
Semakin banyak nama ditulis, semakin panjang lembar itu terasa. Pada awalnya hanya seukuran kertas surat. Ketika Nisa mencapai bagian bawah, masih ada ruang putih baru di bawah tangannya. Ia menarik kertas dari meja dan lembar itu terus keluar dari amplop, seperti lidah yang tidak selesai.
Nisa melepaskannya.
Kertas kembali berukuran biasa.
Ia menyalakan lampu senter ponsel dan memeriksa sudut-sudut ruangan. Zahra tidur di kasur. Televisi kembali mati. Tidak ada siapa pun.
Pada lembar NAMA LUNAS, hanya ada dua ruang kosong:
SIAPA
dan
BAGAIMANA IA HARUS MATI
Nisa menutup kertas itu dengan telapak tangan.
Ini lelucon, pikirnya. Teror baru. Ferdy ingin merekamnya mengancam seseorang. Mungkin amplop sudah diselipkan oleh lelaki di luar. Mungkin perangkat di rumah menyala karena arus pendek atau aplikasi yang diretas.
Ia memotret seluruh isi amplop.
Foto di galeri hanya menampilkan meja kosong.
Nisa mengambil foto lagi. Tetap kosong. Dalam layar kamera, kertas itu ada. Setelah tombol ditekan, kertas hilang dari hasil.
Ia mencoba merekam video. Durasi berjalan, tetapi ketika diputar hanya terdengar napas Nisa di atas gambar hitam.
Ponsel bergetar.
Ferdy mengirim pesan suara.
"Gue kasih sampai jam empat. Setelah itu foto anak lo gue tempel di badan yang sama. Biar ibu sama anak kompak."
Nisa mematikan layar.
Ia mendengar ulang kalimat itu meskipun suara sudah berhenti. Pada kata anak, sesuatu dalam dirinya bergerak. Bukan kemarahan yang meledak. Lebih mirip benda berat yang selama ini ditahan akhirnya jatuh ke dasar.
Nisa kembali melihat lembar Nama Lunas.
Pada ruang SIAPA, ia menulis:
FERDY, ORANG YANG MENAGIH SAYA.
Huruf-huruf itu tidak menyerap seperti pada lembar pertama. Tinta berada di permukaan beberapa detik, lalu berubah lebih gelap.
Di bawahnya, ruang untuk kematian menunggu.
Nisa teringat pesan suara pertama Ferdy, hari ketika ia masih memanggilnya Ibu. Ia teringat perubahan nada setelah pembayaran tidak penuh. Kata penipu. Kata lonte. Kata-kata yang dikirim kepada ibunya, kantor, sekolah, dan orang asing. Semua kalimat itu tidak meninggalkan luka pada kulit, tetapi telah mengambil pekerjaan, rumah, dan cara Nisa melihat wajah sendiri.
Ia menyentuhkan bolpoin.
Tangannya gemetar.
"Bunda?"
Nisa menutup kertas dengan tubuh.
Zahra duduk di kasur, rambut kusut, mata setengah terbuka.
"Kenapa belum tidur?"
"Bunda kerja?"
"Iya."
"Nulis apa?"
"Daftar belanja."
Zahra turun dan berjalan mendekat. Nisa buru-buru melipat kertas. Ketika lipatan bertemu, terdengar suara kecil seperti seseorang menarik napas.
"Besok beli susu?"
"Iya."
"Sama sereal bintang."
"Kalau ada uang."
Zahra memeluk pinggangnya. "Aku punya uang."
Ia berlari ke kasur dan mengambil dompet plastik. Dua lembar sepuluh ribu yang Nisa berikan untuk jajan masih utuh.
"Ini buat Bunda."
Nisa melihat uang itu. Dua puluh ribu. Zahra menyerahkannya dengan kebanggaan seseorang yang baru menemukan solusi.
"Simpan."
"Bunda butuh."
"Bunda enggak butuh."
"Tadi Bunda bilang kalau ada uang."
Nisa menerima dua lembar itu agar Zahra berhenti memaksa. Anak tersebut tersenyum, lalu kembali ke kasur.
"Sekarang beli susu."
"Iya."
"Jangan sedih lagi."
Nisa menunggu sampai napas Zahra teratur.
Di meja, lembar Nama Lunas terbuka sendiri.
Pada bagian bawah muncul satu kalimat baru:
SATU NAMA UNTUK SEMUA YANG INGIN KAU SELAMATKAN.