HANGUS JADI ABU

Indra S Miraj
Chapter #15

BAB 14: Tuliskan Matinya

Nisa menulis kematian Ferdy pukul 00.43.

Ia membutuhkan sebelas percobaan.

Pada percobaan pertama:

Saya ingin dia berhenti.

Kertas menolak tinta. Kalimat itu memudar.

Pada percobaan kedua:

Saya ingin dia merasakan ketakutan saya.

Tinta bertahan, tetapi ruang di bawahnya tetap terbuka seolah meminta lebih.

Nisa menulis agar Ferdy kehilangan pekerjaan, dipermalukan, dipenjara, dan ditinggalkan keluarga. Semua kalimat terdengar seperti prosedur yang mungkin suatu hari terjadi. Amplop tidak bereaksi.

Di luar, motor lelaki tadi sudah pergi. Gang kembali biasa. Kesunyian memberi Nisa ruang untuk merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia duduk di meja sementara anaknya tidur, menulis kematian orang. Jika Ferdy memasang kamera, tidak diperlukan editan untuk menghancurkannya kali ini.

Namun pesan suara tentang Zahra masih ada.

Nisa memutarnya sekali.

Lalu ia menulis:

AKU INGIN DIA TERSEDAK SEMUA KATA YANG DIA KIRIMKAN KEPADAKU.

Kertas menghangat.

Huruf-huruf tenggelam ke dalam serat sampai tidak dapat dihapus.

* * *

Teguh menulis:

BIAR SEMUA NAMA YANG DIA SEBARKAN MENEMPEL DI TUBUHNYA DAN TIDAK PERNAH BISA DIHAPUS.

Begitu titik terakhir dibuat, seluruh ponsel rusak di bengkel menyala. Dari speaker terdengar puluhan orang menyebut nama mereka masing-masing. Pelan, bertumpuk, menjadi suara seperti hujan di atas atap seng.

Teguh mundur.

Di layar ponselnya, pesan dari Sri masuk.

Sudah ada solusi?

Ia melihat lembar Nama Lunas.

Sebentar lagi, ketiknya.

* * *

Mira memilih kalimat seperti memilih tajuk iklan.

Setiap kata harus tepat. Tidak boleh memberi celah. Ia tahu betapa kalimat yang ambigu dapat dibelokkan oleh algoritma, kontrak, dan manusia yang dibayar untuk menafsirkan.

Ia menulis:

BIARKAN PATRICK KURNIAWAN TENGGELAM DALAM SEMUA KEUNTUNGAN YANG IA AMBIL DARI ORANG LAIN.

Setelah itu, ia memeriksa tata bahasa.

Laras menunggu di dapur bersama tiga perempuan lain. Di atas meja ada tungku kecil berbentuk mangkuk besi.

"Harus dibakar di sini?" tanya Mira.

"Di mana pun."

"Apa yang akan terjadi?"

"Yang kamu minta."

"Secara harfiah?"

"Tidak ada orang yang dapat mengatur cara pertolongan membaca luka."

Mira hampir merobek kertas. Laras menahan tangannya, tidak kuat, hanya cukup agar Mira berhenti.

"Kalau tidak dibakar, apa yang terjadi?"

"Kamu kembali ke hidupmu."

"Itu ancaman?"

"Itu pilihan."

Mira melihat ponsel baru. Dian mengirim tangkapan layar bahwa iklan palsu sudah menyebar ke grup alumni. Seorang mantan atasan menulis pesan pendek:

Kami rasa proses rekrutmen tidak dapat dilanjutkan karena ada risiko reputasi.

Ia memikirkan ayahnya yang sakit dan kalimat jangan dibawa ke rumah.

Mira mengambil korek.

* * *

Teguh membakar amplop dengan api las.

Ujungnya menyala biru, lalu hitam pekat. Api tidak memancarkan cahaya. Justru area di sekelilingnya menjadi lebih gelap. Abu jatuh ke lantai, kemudian bergerak ke arah ponsel dan masuk melalui celah pengeras suara.

Lihat selengkapnya