HANGUS JADI ABU

Indra S Miraj
Chapter #3

BAB 2: Tujuh Juta

Tiga bulan sebelumnya, Nisa belum tahu bahwa dua belas menit dapat memisahkan rasa syukur dari rasa takut.Zahra kejang pukul 22.13.

Sebelum itu, demamnya hanya terlihat seperti demam biasa. Tubuh hangat, mata sayu, dan rengekan kecil setiap kali dibangunkan untuk minum. Nisa sudah memberi obat penurun panas, mengompres, dan menghubungi klinik yang biasa mereka datangi. Perawat menyuruhnya mengawasi suhu.

Pada pukul sepuluh lewat, tubuh Zahra mendadak kaku.

Sendok yang dipegang anak itu jatuh. Matanya bergerak ke atas. Kedua tangan mengepal, lalu seluruh tubuhnya bergetar begitu keras sampai kasur berbunyi.

"Zahra."

Nisa memegang bahunya.

"Zahra, lihat Bunda."

Anak itu tidak melihat siapa pun.

Nisa tidak ingat bagaimana ia membawa Zahra keluar kontrakan. Ia hanya ingat sandal kiri anaknya tertinggal, pintu tidak dikunci, dan suara tetangga yang menyuruh memasukkan sendok ke mulut. Seseorang memanggil ojek. Seseorang memegang tas. Di sepanjang perjalanan, Nisa memeluk tubuh kecil yang panas sambil mengulang nama anaknya seperti nama itu dapat menjadi tali.

UGD meminta deposit sebelum rawat inap.

Petugas administrasi mengatakannya dengan suara lembut. Tidak ada ancaman. Tidak ada penolakan untuk tindakan darurat. Zahra sudah mendapat pertolongan pertama, tetapi dokter menyarankan observasi dan pemeriksaan lanjutan. Perkiraan biaya awal tujuh juta.

Nisa melihat angka itu pada layar kasir.

Saldo rekeningnya satu juta delapan ratus tiga puluh dua ribu.

Ia menelepon Arief, mantan suaminya. Telepon pertama tidak diangkat. Telepon kedua ditolak. Pada telepon ketiga, sebuah pesan masuk.

Lagi di luar kota. Besok pagi ya.

Nisa mengetik bahwa Zahra berada di UGD. Tanda centang berubah dua, tetapi tidak ada balasan.

Ia menelepon Wati.

"Berapa?" tanya kakaknya.

"Tujuh. Aku punya hampir dua."

Di seberang terdengar televisi dan suara anak-anak. Wati mengecilkan volume.

"Aku enggak pegang segitu, Nis. Baru bayar uang masuk sekolah Fajar. Aku coba tanya Mas Deni, tapi dia tidur."

"Bisa sekarang, Teh? Dokter minta Zahra dirawat."

"Aku coba bangunin. Tapi jangan berharap banyak dulu, ya."

Nisa menelepon koperasi kantor. Tidak ada layanan malam. Ia mengirim pesan kepada atasannya. Pak Budi membalas bahwa kasbon harus diajukan melalui formulir dan persetujuan kepala cabang. Paling cepat dua hari kerja.

Ia menelepon tiga teman. Satu tidak mengangkat. Satu hanya punya lima ratus ribu. Satu lagi mengirim satu juta sambil meminta maaf.

Pukul 22.58, Nisa duduk di lorong rumah sakit dengan empat juta tiga ratus ribu yang masih belum ada.

Di sampingnya, Zahra tidur setelah obat masuk. Selang infus menempel pada tangan kecilnya. Bekas air mata mengering di pipi. Nisa menatap monitor yang berkedip hijau, lalu menatap iklan di ponselnya.

BUTUH DANA DARURAT? CAIR SAMPAI 10 JUTA DALAM 10 MENIT.

Iklan itu muncul setelah ia mencari "pinjaman biaya rumah sakit malam hari". Di bawahnya ada ribuan ulasan. Logo perusahaan biru muda. Foto perempuan berkemeja putih sedang tersenyum sambil memeluk anak.

Nisa tahu pinjaman daring berbahaya. Ia pernah membaca berita tentang bunga tinggi dan penagihan kasar. Ia memeriksa nama aplikasi di sebuah daftar, tetapi ada dua nama yang hampir sama. Salah satunya terdaftar. Yang di layar menggunakan ejaan sedikit berbeda, sesuatu yang tidak terlihat aneh ketika mata sudah berair dan anak terbaring di UGD.

Ia mengunduh aplikasi.

Izin kontak.

Ia menolak.

Aplikasi tidak melanjutkan.

Izin galeri.

Ia menolak lagi.

Muncul pemberitahuan bahwa verifikasi tidak dapat diproses tanpa akses untuk keamanan pengguna.

Nisa melihat Zahra.

Ia menekan IZINKAN.

Lihat selengkapnya