HANGUS JADI ABU

Indra S Miraj
Chapter #16

BAB 15: Tidur Tanpa Mimpi

Nisa tidur sebelas jam.

Ia tidak pernah tidur selama itu sejak Zahra lahir. Tubuhnya tergeletak dalam posisi yang sama sampai matahari mencapai lantai dekat kasur. Tidak ada mimpi. Tidak ada suara motor, getaran, atau wajah Ferdy. Hanya kegelapan yang utuh dan tidak meminta apa pun.

Ketika bangun, Zahra duduk di sampingnya sambil menyusun balok.

"Bunda mati?"

Nisa langsung duduk.

"Jangan ngomong begitu."

"Aku bangunin enggak bangun-bangun."

"Kenapa enggak panggil tetangga?"

"Kata Bunda jangan buka pintu."

Rasa bersalah menembus sisa kantuk. Nisa memeriksa jam. Pukul 10.18. Ia mengambil ponsel.

Tidak ada panggilan dari Ferdy.

Tidak ada nomor asing.

Hanya pesan dari Wati yang dikirim setelah ia pulang:

Aku datang tadi. Aku akan datang lagi kalau kamu siap. Susunya buat Zahra.

Nisa membaca sambil memegang kotak susu penyok.

Ia tahu kakaknya tidak sepenuhnya meninggalkan. Namun Wati juga tidak dapat tinggal ketika ancaman mulai menyentuh keluarganya sendiri.

Ia membuka aplikasi pinjaman. Dua tidak dapat diakses. Satu menunjukkan pemeliharaan. Dua lain menampilkan tagihan seperti biasa.

Mungkin amplop tadi malam hanya akibat kelelahan. Mungkin Nisa menulis dan membakar kertas biasa dalam keadaan tidak sadar. Ia mencari piring seng.

Piring itu bersih.

Tidak ada bekas gosong.

Di bawah kukunya ada abu.

Nisa mencuci tangan. Abu hilang, lalu muncul lagi di bawah kuku jari telunjuk. Ia menggosok dengan sikat sampai kulit memerah.

Ponsel tetap sunyi.

Kesunyian itu menakutkan pada jam pertama. Pada jam kedua, ia mulai dapat mendengar suara lain. Zahra menyanyi. Pedagang sayur lewat. Mesin cuci tetangga. Sendok menyentuh piring. Kehidupan yang selama ini tenggelam di bawah notifikasi.

Nisa membuat nasi goreng dengan telur terakhir.

"Hari ini sekolah?" tanya Zahra.

"Belum."

"Besok?"

"Kita lihat."

"Ferdy enggak marah lagi?"

Spatula berhenti.

"Kamu tahu Ferdy?"

"Bunda sering bilang namanya waktu tidur."

Nisa mematikan kompor. Ia berjongkok di depan anaknya.

"Kalau ada orang tanya tentang dia, jangan jawab."

"Dia orang jahat?"

"Iya."

"Kenapa polisi enggak tangkap?"

Nisa tidak punya jawaban yang dapat diberikan kepada anak empat tahun.

"Karena belum ketemu."

Zahra berpikir. "Kalau ketemu, bilang jangan ganggu Bunda."

Nisa memeluknya.

Pada pukul dua belas, sebuah pesan dari nomor baru masuk.

Nisa hampir menjatuhkan ponsel.

Isinya bukan makian.

PEMBAYARAN ANDA TELAH DITERIMA.

Pesan kedua:

AKUN DITUTUP.

Pesan ketiga datang dari aplikasi lain.

TAGIHAN DISELESAIKAN.

Dalam lima menit, lima aplikasi memperlihatkan saldo nol.

Nisa memeriksa rekening. Tidak ada uang keluar. Ia menelepon layanan pelanggan, tetapi nomor sudah tidak aktif. Ia masuk ke email. Ada surat yang menyatakan seluruh kewajiban dialihkan dan diselesaikan oleh pihak ketiga.

Ia tidak merasa lega.

Belum.

Tubuh yang terlalu lama takut tidak percaya pada keselamatan yang datang cepat.

Nisa menunggu ancaman berikutnya.

Tidak ada.

Menjelang malam, ia menyadari rahangnya tidak lagi terkunci. Bahunya turun. Ia dapat menelan makanan tanpa mual.

Di tempat tidur, Zahra memegang wajah ibunya.

Lihat selengkapnya