Satu jam sebelum Ferdy mati, Diaz masih percaya tugasnya hanya membuka pintu.
Bayu membagi peran di dalam mobil tanpa menyebut nama asli siapa pun. Dua orang masuk melalui belakang. Satu memutus kamera. Satu berjaga. Diaz menggunakan kartu akses yang diperoleh dari mantan operator.
"Tidak ada senjata api," kata Bayu. "Tidak ada jejak yang tidak diminta."
"Jejak yang diminta siapa?" tanya Diaz.
Tidak ada yang menjawab.
Mereka menunggu sampai semua operator pulang. Dari seberang jalan, Diaz melihat Ferdy keluar sebentar untuk merokok, lalu kembali naik. Wajahnya biasa. Tubuhnya biasa. Tidak ada tanda bahwa ratusan orang menghafal suaranya karena takut.
Pukul 00.47, aliran pendingin ruangan diputus dari panel luar.
Bayu memutus pendingin ruangan dan listrik utama dari panel luar. Tidak seorang pun menyentuh monitor.
Ketika seluruh layar menyala kembali dengan sendirinya, semua orang di dalam mobil berhenti bernapas.
Lalu hal yang tidak dapat dijelaskan dimulai.
Diaz melihat nama Nisa Andriani muncul pada monitor tanpa ada orang yang mengetik. Operator di mobil bersumpah bukan dia. Potongan kertas pertama keluar dari mulut Ferdy sebelum Tangan Abu memasuki ruangan.
"Kita bisa pergi," bisik Diaz.
Bayu menatapnya. "Utangmu juga bisa kembali."
"Ini bukan bagian yang lu jelasin."
"Kamu bilang ingin semuanya berhenti."
"Gue enggak bilang bunuh."
"Kertasmu tidak memberi nama. Sang Pelunas memberi pekerjaan."
Tiga ketukan menjadi isyarat masuk.
Diaz menempelkan kartu. Pintu terbuka.
Di dalam, Ferdy sudah merangkak. Darah tipis mengalir dari sudut bibir. Kertas-kertas hitam menempel pada lidah dan gigi. Ponsel memutar suara korban.
Ferdy memohon.
Diaz mendengar suaranya sendiri di antara rekaman. Panggilan tiga bulan lalu, ketika warung belum tutup.
"Bang, kasih saya dua hari. Adik saya jangan dihubungi."
Lalu suara Ferdy:
"Kalau mau jadi kakak, bayar. Jangan modal sperma bapak lu doang."
Diaz tidak ingat panggilan itu direkam.
Ferdy meraih kakinya.
"Tolong."
Diaz berjongkok. Ia ingin bertanya apakah Ferdy mengingatnya. Pada layar monitor dekat mereka, foto KTP Diaz muncul dengan skor:
RESPONS TAKUT: RENDAH
TITIK TEKAN: ADIK PEREMPUAN
REKOMENDASI: ANCAM MOBILITAS KAMPUS
Seseorang telah menilai hidupnya seperti kampanye penjualan.
"Gue juga pernah bilang begitu," kata Diaz. "Waktu itu enggak ada yang berhenti."
Rahang Ferdy berbunyi.
Sudut mulutnya terbelah.
Diaz mundur, tetapi Bayu dan dua orang lain tidak menyentuh tubuh itu. Tidak ada kawat. Tidak ada tangan yang menarik. Sesuatu di dalam tenggorokan Ferdy terus mendorong kertas keluar, lembar demi lembar, masing-masing bertuliskan kalimat yang pernah ia kirim.
JUAL ANAK LU.
MATI AJA HABIS BAYAR.