HANGUS JADI ABU

Indra S Miraj
Chapter #18

BAB 17: Daftar Kontak

Brandon dikurung di ruang penyimpanan selama dua hari sebelum Teguh menerima video.

Pada hari pertama, bengkel Teguh mulai ramai. Ia bekerja dari pagi sampai malam dan hampir berhasil meyakinkan diri bahwa amplop tidak ada hubungannya dengan pelanggan yang kembali. Pada hari kedua, Sri pulang. Ia melihat antrean motor, saldo tagihan nol, dan papan nama bersih.

"Kamu bayar pakai apa?" tanyanya.

"Ada yang hapus."

"Siapa?"

"Gue enggak tahu."

Sri menunggu penjelasan lebih baik. Teguh tidak punya.

Mereka makan bersama malam itu. Sri memasak sayur asem. Untuk pertama kalinya dalam dua bulan, televisi menyala tanpa volume dikecilkan karena takut telepon. Teguh memperbaiki engsel pintu dapur. Hal sederhana itu membuatnya merasa menjadi kepala keluarga lagi.

Pukul 23.20, video masuk.

Gambar pertama gelap. Kamera menyesuaikan cahaya dan memperlihatkan Brandon duduk terikat pada kursi. Tubuhnya telanjang dari pinggang ke atas. Mulut disumpal kain.

Teguh mengenali jam besar di pergelangan tangan.

Seseorang di balik kamera berkata, "Sebutkan nama."

Kain ditarik.

"Anjing. Kalian tahu gue siapa?"

Cambuk mengenai bahu. Brandon berteriak.

"Sebutkan nama."

"Nama siapa?"

Kamera mendekat ke kulit dadanya. Di bawah permukaan, garis merah tipis mulai terbentuk. Angka muncul satu per satu seperti luka bakar yang didorong dari dalam.

0812...

Nomor telepon.

Lalu nomor lain.

Ratusan angka menjalar dari dada ke lengan, punggung, dan leher. Kulit melepuh mengikuti bentuknya. Brandon meronta sampai kursi bergeser.

Teguh menghentikan video.

Di ruang sebelah, Sri tertawa menonton acara televisi. Bengkel penuh motor yang harus dikerjakan besok. Kehidupan baik berada beberapa meter darinya, dan di layar seseorang disiksa atas kalimat yang ia tulis.

Teguh menghapus video.

Video muncul lagi.

Ia mematikan ponsel.

Ponsel menyala sendiri dan melanjutkan dari bagian terakhir.

"Teguh Setiawan," kata suara di balik kamera.

Brandon mengangkat kepala.

"Gue tahu lu," katanya terengah. "Bengkel miskin. Istri kabur. Lu pikir setelah gue mati utang lu selesai?"

Cambuk turun lagi.

Salah satu luka pada dadanya berbentuk nomor Teguh.

Teguh mendekati layar tanpa sadar.

"Nomor itu mau dihapus?" tanya suara.

Brandon menangis. "Tolong."

"Pak Teguh yang tentukan."

Lihat selengkapnya