Patrick Kurniawan meninggal di tengah presentasi kuartal ketiga.
Ia sedang menjelaskan pertumbuhan pendapatan dari segmen pengguna berisiko tinggi. Di layar, grafik berwarna hijau bergerak naik. Patrick memakai istilah retention, recovery, dan lifetime value. Ia tidak pernah menyebut kata ibu, anak, demam, atau takut.
Menurut berita, ia berhenti bicara pada slide berjudul COMPOUNDING OPPORTUNITY.
Air hitam keluar dari hidung.
Tubuhnya membengkak dalam waktu kurang dari tiga menit. Kancing kemeja terlepas. Cairan memenuhi paru-paru meskipun ruang rapat kering. Ketika orang-orang mencoba membawanya ke pintu, akses terkunci dan sistem gedung menolak semua kartu.
Mira membaca kronologi itu dari artikel Andika Pratama.
Ia muntah di wastafel rumah aman.
Kalimat yang ditulisnya tidak pernah dipublikasikan. Namun satu sumber anonim menyebut secarik kertas ditemukan dekat tubuh:
TENGGELAM DALAM KEUNTUNGAN YANG IA AMBIL.
Mira membasuh mulut.
Laras berdiri di pintu.
"Ibu tahu dia akan mati begitu?"
"Saya tahu permintaanmu akan dibaca."
"Siapa yang membunuh?"
"Yang kamu panggil."
"Siapa?"
"Yang datang."
Mira menyalakan keran lagi agar tidak mendengar jawabannya.
Di berita berikutnya, petugas forensik membantah rumor tentang kertas. Perusahaan Patrick menyatakan kematiannya akibat kondisi medis. Saham mitra turun. Beberapa aplikasi menutup layanan sementara.
Ponsel baru Mira berbunyi.
Transfer sebesar sembilan juta lima ratus ribu masuk.
Keterangan:
PENGEMBALIAN KELEBIHAN BUNGA
"Saya enggak mau uang ini."
"Bisa kamu berikan kepada orang lain," kata Laras.
"Dari mana?"
"Perusahaan perantara."
"Ibu tahu?"
"Kami tahu banyak jalur yang selama ini dipakai mengambil uang korban."
"Kami?"
Laras tidak menjawab.
Mira membuka rekening dan melihat transaksi. Nama pengirim adalah perusahaan konsultasi yang pernah membayar agensi tempatnya bekerja. Ia mencari profilnya. Direkturnya beralamat sama dengan salah satu aplikasi cangkang.
Ini bukan sihir, setidaknya tidak semuanya.
Ada perusahaan. Ada rekening. Ada manusia yang memindahkan uang.
"Siapa yang menghapus foto?"
"Orang kami."
"Siapa yang menghapus utang?"