HANGUS JADI ABU

Indra S Miraj
Chapter #20

BAB 19: Lunas

Pada hari pertama setelah kematian Ferdy, tidak ada yang menagih Nisa.

Pada hari kedua, lima aplikasi menunjukkan saldo nol.

Pada hari ketiga, akun palsu yang menawarkan jasa seksual hilang. Gambar editan dihapus dari grup satu per satu. Beberapa orang menerima pesan klarifikasi dari nomor tak dikenal:

Konten mengenai Nisa Andriani adalah hasil manipulasi dan bagian dari tindak pemerasan. Menyebarkannya kembali dapat diproses hukum.

Pesan itu disusun lebih baik daripada apa pun yang dapat ditulis Nisa dalam keadaan takut.

Pada hari keempat, Pak Budi menelepon.

"Kondisi sudah agak tenang," katanya. "Kalau kamu siap, Senin masuk."

"Cuti saya?"

"Kami ajukan sebagai cuti khusus. Tetap dibayar sebagian."

Nisa menutup mata. Uang sekolah Zahra bulan depan dapat dibayar.

"Terima kasih, Pak."

"Saya juga minta maaf. Waktu itu kami panik."

Permintaan maaf tidak mengembalikan jam-jam ketika Nisa duduk sendirian di rumah, tetapi ia menerimanya.

Pada hari kelima, Bu Lina meminta Nisa datang ke sekolah. Kepala sekolah menjelaskan kepada orang tua bahwa gambar tersebut palsu. Dua ibu menghampiri Nisa setelah pertemuan. Satu memeluknya. Satu lagi hanya berkata, "Saya sempat percaya, maaf."

Nisa tidak tahu mana yang lebih berat.

Zahra kembali ke kelas dan pulang membawa gambar rumah dengan tiga orang di depannya.

"Orang baiknya siapa sekarang?" tanya Nisa.

Zahra menunjuk sosok ketiga. "Belum tahu."

Pada hari keenam, uang masuk ke rekening Nisa. Tujuh juta rupiah, sama dengan pinjaman pertama. Keterangan transaksi:

PENGEMBALIAN BIAYA DARURAT

Nisa mencoba menghubungi bank. Rekening pengirim sah, tetapi nama perusahaan tidak dikenalnya. Ia tidak menyentuh uang tersebut selama dua hari.

Kemudian Zahra membutuhkan susu.

Nisa memakai dua puluh ribu dari uang itu.

Malamnya ia berdoa untuk pertama kali sejak semua teror dimulai. Ia menggelar sajadah di kamar setelah Zahra tidur. Ketika hendak mengangkat tangan, ia melihat noda abu di pergelangan.

Doanya berhenti.

Kepada siapa rasa lega ini harus diarahkan?

Ia tidak tahu.

* * *

Bengkel Teguh lebih ramai daripada sebelum utang.

Sebuah perusahaan pengiriman menawarkan kontrak perawatan dua puluh motor. Pesanan datang dari orang yang tidak pernah ia temui. Uang muka cukup untuk membeli kembali kompresor dan memanggil Yayan.

Sri pulang sepenuhnya.

Pada malam ketujuh, mereka makan bersama. Sri berkata, "Mungkin ini jawaban."

"Jawaban apa?"

"Doa."

Teguh melihat noda abu di pergelangan tangan, tersembunyi di bawah jam.

"Mungkin."

Ia tidak menceritakan video Brandon.

* * *

Mira menerima pekerjaan baru.

Kantornya berada di gedung kaca dengan kursi ergonomis dan mesin kopi mahal. Jabatan Campaign Strategy Lead memberinya akses pada data kampanye, segmentasi, dan tim kecil. Hari pertama, atasannya memuji cara Mira membaca perilaku pengguna.

"Kamu bisa lihat orang mau klik sebelum mereka tahu," katanya.

Mira tersenyum.

Pada layar, ia melihat iklan pinjaman dengan kalimat SOLUSI SAAT SEMUA MENOLAK. Klien agensi terhubung ke perusahaan yang sama dengan rekening pengembalian uangnya.

Ketika menanyakan kepada Laras, perempuan itu berkata, "Sekarang kamu berada di tempat yang bisa dipakai untuk mencegah orang lain mengalami hal sama."

"Atau membuatnya."

"Tergantung tangan."

Lihat selengkapnya