Alamat itu membawa Nisa ke gedung yang tampak sudah lama tidak dipakai.
Cat luarnya abu-abu kusam. Tidak ada papan perusahaan, hanya bekas baut pada dinding tempat sebuah nama pernah dipasang. Lantai dasar gelap. Pintu utama dikunci rantai. Di sisi bangunan, sebuah lorong sempit mengarah ke pintu besi dengan lampu hijau di atasnya.
Nisa datang pukul tujuh kurang sepuluh.
Ia hampir pulang tiga kali.
Pertama ketika ojek berhenti dan pengemudi bertanya apakah alamatnya benar. Kedua ketika melihat kamera kecil mengikuti gerak kepalanya. Ketiga ketika pintu terbuka sebelum ia mengetuk.
Seorang perempuan muda menyambut.
"Mbak Nisa?"
"Siapa kamu?"
"Rukmini. Mbak Laras menunggu."
Rukmini memiliki bekas luka bakar pada leher dan garis abu di pergelangan. Wajahnya pernah Nisa lihat sekilas di rumah aman ketika mengantar Mira dalam salah satu berita lama, meskipun ia tidak tahu hubungan mereka.
"Saya enggak kenal Laras."
"Beliau yang kirim makanan dan obat Zahra."
Nisa mundur setengah langkah.
"Kalian tahu anak saya."
"Kami tahu karena orang yang meneror Mbak juga tahu. Masuk dulu. Di luar ada kamera mereka yang belum kami matikan."
Kalimat itu bekerja karena rasa takut sudah terlalu akrab. Nisa masuk.
Tangga ke lantai dua dilapisi karet hitam. Di dinding ada poster pelatihan telemarketing yang belum dilepas:
SUARA ANDA ADALAH SENYUM PERUSAHAAN.
JANGAN TERIMA PENOLAKAN SEBAGAI JAWABAN.
Gedung itu dulunya pusat pelatihan penagihan. Nisa mengenali cubicle, loker nomor, ruang supervisor berkaca, dan panel yang memajang target harian. Sebagian kursi sudah dipindahkan ke sebuah ruangan besar. Dua puluh tujuh kursi plastik disusun melingkar.
Di tengah tidak ada altar.
Hanya meja panjang berisi nasi, sup, ayam goreng, air minum, susu anak, obat, pembalut, charger, dan kotak-kotak kebutuhan sehari-hari.
Orang-orang datang satu per satu. Teguh duduk dekat pintu. Mira memilih kursi yang menghadap semua jalan keluar. Diaz berdiri di pojok dengan jaket pengemudi. Nisa mengenal mereka dari foto-foto yang pernah beredar dalam grup korban, tetapi belum pernah bertemu langsung.
Ada ibu hamil, buruh, guru honorer, pedagang, mahasiswa, dan seorang lelaki tua yang terus memegang plastik berisi obat. Mereka tidak terlihat seperti sekte. Mereka terlihat seperti orang-orang yang pernah mengantre di kantor bantuan, rumah sakit, bank, dan kantor polisi.
Seorang perempuan berusia akhir empat puluhan masuk membawa termos.
"Nisa," katanya. "Zahra sudah tidak demam?"
Nisa berdiri. "Dari mana tahu?"
"Obat yang dikirim jenis untuk demam. Saya menduga."
"Siapa Ibu?"
"Laras."
Wajahnya lembut, pakaian biasa, rambut diikat rendah. Tidak ada perhiasan kecuali jam tangan kulit. Ia mendatangi setiap kursi dan menyebut nama orang tanpa melihat daftar.
"Pak Teguh, Sri sudah pulang?"
Teguh mengangguk.
"Mira, bagaimana kantor baru?"
"Belum tahu."
"Diaz, Rika ujian besok. Jangan ganggu dia malam ini."
Diaz tidak menjawab.
Laras mempersilakan semua orang makan.
Tidak ada doa pembuka. Tidak ada pidato. Selama setengah jam mereka makan dalam suara sendok, tangis, dan percakapan kecil. Seorang relawan memeriksa tekanan darah. Anak-anak bermain di ruangan samping. Seorang pengacara menjelaskan cara mencabut izin aplikasi. Dua perempuan membandingkan nomor DC.
Nisa mengambil satu porsi untuk dibawa pulang.
"Ambil dua," kata Laras. "Besok pagi kamu tidak perlu memasak."
Tidak ada seorang pun berkata salah sendiri.
Perasaan itu begitu asing sampai Nisa curiga.
Setelah makan, Laras duduk di kursi kosong dalam lingkaran.
"Kalian datang karena menerima sesuatu," katanya. "Saya tidak akan meminta kalian mengeluarkannya. Sudah tidak ada, bukan?"
Beberapa orang mengangguk.
"Kalian menulis nama. Setelah itu masalah kalian selesai."
Teguh bergerak tidak nyaman.
"Enggak semua," kata Diaz.
"Belum," jawab Laras. "Karena tulisanmu tidak memberi satu nama."
Mira mengangkat tangan seperti sedang rapat. "Siapa yang menghapus utang kami?"
"Orang-orang di ruangan ini dan orang lain yang tidak bisa hadir."
"Siapa yang membunuh Patrick?"
Ruangan menjadi sunyi.
Laras menatapnya. "Kamu."