Sembilan tahun lalu, suami Laras membakar dirinya di dalam mobil.
Laras menceritakannya tanpa mengubah nada. Seolah ia sudah terlalu sering menyusun detail agar orang lain dapat mendengar tanpa ikut terbakar.
Namanya Hendra. Ia mengelola koperasi kecil untuk pedagang pasar. Ketika salah satu mitra pendanaan gagal, Hendra mengambil pinjaman pribadi untuk menutup uang anggota. Pinjaman berpindah ke jaringan ilegal. Foto keluarga disebar. Rekaman suara Hendra menangis dikirim kepada para pedagang yang selama ini menghormatinya.
"Saya pendamping koperasi," kata Laras. "Pekerjaan saya menjelaskan risiko utang. Karena itu, semua orang menganggap kami paling tahu cara keluar."
Ia meminta bantuan kepada bank, polisi, keluarga Hendra, pengurus pasar, dan lembaga pendamping. Beberapa membantu. Tidak cukup cepat. Seorang adik Hendra bersedia melunasi sebagian, tetapi meminta mereka menjual rumah terlebih dahulu. Polisi meminta bukti ancaman fisik. Koperasi menuntut pertanggungjawaban.
Hendra pergi pada malam ketika rekaman tangisnya tersebar.
"Dia menulis pesan kepada saya," kata Laras. "Katanya, jangan cari. Saya tetap mencari."
Mobil ditemukan di lahan kosong. Api sudah padam. Tidak ada seorang pun mendengar Hendra dari dalam.
Beberapa minggu kemudian, amplop datang kepada Laras.
Ia menulis nama pemilik jaringan yang memerintahkan teror. Pada ruang kematian:
BAKAR DIA HIDUP-HIDUP TANPA ADA YANG MENDENGAR.
Lelaki itu mati tiga hari kemudian di ruang karaoke pribadi. Kebakaran hanya menghanguskan satu sofa dan tubuhnya. Sistem alarm tidak berbunyi. Orang-orang di ruangan sebelah tidak mendengar teriakan.
"Utang suami saya lunas," kata Laras. "Uang anggota koperasi kembali. Semua orang menyebut saya kuat. Tidak ada yang bertanya siapa yang saya bunuh."
Nisa menatap tangannya sendiri.
"Lalu amplop datang kepada korban yang saya dampingi. Saya pikir ini jalan. Kami mulai membantu satu sama lain. Membeli tagihan. Mengumpulkan bukti. Mengambil data. Menghentikan DC. Ada orang yang punya akses. Ada orang yang berani melakukan apa yang hukum belum sempat lakukan."
"Sampai kalian jadi begini?" tanya Mira.
"Jadi apa?"
"Kelompok yang membuat orang menulis kematian."
Laras tersenyum sedih. "Tidak ada yang kami paksa menulis."
"Kalian biarkan mereka putus asa."
"Kami datang setelah mereka putus asa."
Nisa teringat makanan di meja, obat Zahra, pengacara, dan pesan yang membersihkan namanya. Perhatian Laras nyata. Itulah yang membuatnya sulit menolak kalimat berikutnya.
"Manusia suka menyebut bantuan itu gratis," kata Laras. "Padahal mereka menagih rasa malu, kepatuhan, kesopanan, atau cerita tentang bagaimana korban berubah menjadi lebih baik. Sang Pelunas tidak munafik. Ia menagih."
Seorang ibu bernama Sulastri mengangkat tangan. "Menagih apa?"
Laras memandang semua anggota baru.
"Satu operasi."
Ia mengangkat satu jari.
"Tiga orang."
Tiga jari.
"Dua puluh satu malam."
Ruangan membeku.
"Apa maksudnya tiga orang?" tanya Teguh.
"Kalian membawa tiga orang yang berada di titik seperti kalian dulu. Tidak perlu meyakinkan mereka menyembah apa pun. Temukan, dengarkan, bantu sampai amplop memilih."
"Kalau kami enggak mau?" kata Nisa.
"Boleh pulang."
Diaz mendengus. "Sesederhana itu?"
"Pintu tidak dikunci."
Semua orang melihat pintu.
Laras melanjutkan, "Namun pelunasan memiliki bunga. Tagihan dapat kembali. Perlindungan berhenti. Orang yang kalian tulis sudah mati atau rusak, dan Nama Lunas membutuhkan pengganti jika kontrak tidak diselesaikan."
"Jadi ini ancaman," kata Mira.
"Ini konsekuensi yang disembunyikan dari kalian," jawab Laras. "Saya tidak akan menyebutnya hal lain."
"Kenapa tidak ada di kertas pertama?"
"Kalau semua bunga pinjaman ditulis dengan huruf besar pada halaman pertama, apakah kalian masih menekan setuju?"
"Mungkin enggak."
"Tepat."
Laras tidak tampak malu.
"Sang Pelunas belajar dari manusia. Pertolongan paling mudah diterima ketika harganya dijelaskan setelah penerima tidak mungkin mengembalikan manfaat."
Nisa merasa mual.
"Ibu tahu ini jahat."
"Saya tahu ini bekerja."
"Itu bukan hal yang sama."
"Tidak," kata Laras. "Tetapi ketika anakmu sakit, mana yang datang lebih dulu, sesuatu yang baik atau sesuatu yang bekerja?"
Nisa tidak menjawab.
Laras membagikan kartu kecil dengan simbol amplop bercelah hangus. Di balik setiap kartu, abu membentuk angka dua puluh satu. Satu angka akan hilang setiap tengah malam.
"Mulai malam ini kalian disebut Orang Lunas. Selesaikan satu operasi untuk memahami cara pelunasan bekerja. Bawa tiga orang agar manfaat kalian tetap ada."
Teguh melihat kartu itu. "Kalau berhasil?"
"Utang tidak kembali. Usaha tumbuh. Keluarga aman. Kalian dapat menolong orang lain tanpa menunggu mereka mati di depan kantor yang masih memproses formulir."
Kata menolong beredar di ruangan seperti aroma makanan hangat.
Nisa berdiri. "Saya pulang."
Laras mengangguk.