HANGUS JADI ABU

Indra S Miraj
Chapter #23

BAB 22: Bunga yang Disembunyikan

Nama laki-laki yang terbakar di depan Nisa adalah Bima Rahadian.

Ia bekerja sebagai petugas keamanan pusat perbelanjaan dan memiliki dua anak. Enam bulan lalu, istrinya meminjam untuk biaya operasi ibunya. Setelah menerima amplop, Bima menulis nama supervisor penagihan dan meminta lelaki itu hangus seperti semua foto keluarganya yang disebar. Target mati di dalam mobil.

Bima berhasil membawa dua orang.

Orang ketiga menghilang sehari sebelum tenggat.

Malam kedua puluh satu, Bima datang ke gedung Rawamangun sambil membawa uang tunai.

"Saya bayar berapa pun," katanya.

Laras berdiri dekat meja registrasi. "Bukan uang yang diminta."

"Saya bawa dua orang. Kurang satu. Kasih satu malam."

"Malam tidak bisa dipinjam."

Bima berlutut.

Nisa berada di ruangan karena dipanggil untuk operasi pertama. Ia belum memutuskan akan ikut. Teguh berdiri di sampingnya. Mira memegang kartu tenggat yang tulisannya terus bergerak. Diaz bersandar dekat pintu.

"Anak saya," kata Bima. "Kalau saya enggak pulang, siapa yang urus?"

"Kamu tahu tenggatnya."

"Orang ketiga takut. Bukan salah saya."

Laras berjongkok dan memegang bahunya. Wajahnya sungguh sedih.

"Tidak ada anggota yang gagal," katanya. "Hanya ada Nama Pengganti."

Bima batuk.

Butir abu keluar dari mulut.

Ia melihat telapak tangannya. Garis-garis hitam merambat di bawah kulit seperti akar terbakar.

"Mbak Laras."

"Saya di sini."

"Tolong."

"Saya di sini."

"Hentikan."

Laras menangis. "Saya tidak bisa memilih untukmu."

Panas tumbuh dari dalam dada Bima. Kaosnya tetap utuh, tetapi kulit di bawahnya memerah, lalu memancarkan cahaya. Asap keluar dari hidung. Ia menjerit dan memukul dada sendiri.

Nisa maju.

Diaz menahannya.

"Bantu dia!"

"Enggak ada yang bisa."

"Padamkan!"

"Apinya di dalam."

Bima jatuh miring. Kulit wajah menghitam dan retak. Dari setiap retakan keluar cahaya merah. Kursi plastik yang disentuhnya tidak terbakar. Lantai tidak hangus. Tubuhnya menjadi kertas yang dinyalakan dari inti.

Ia terus menyebut nama anaknya sampai suara hilang.

Dalam waktu kurang dari dua menit, yang tersisa berbentuk manusia tetapi tidak lagi dapat dikenali.

Asap menggantung di langit-langit.

Beberapa anggota menunduk. Yang lain memandang tanpa berkedip. Laras menutup tubuh Bima dengan kain putih.

"Kalimat apa yang dia tulis?" tanya Mira.

"Hangus seperti foto," jawab salah satu Pembaca Abu.

Mira memandang Laras. "Kutukannya kembali."

"Keinginan selalu tahu jalan pulang."

"Kalian bisa bilang dari awal."

"Saya tidak memilih apa yang ditulis pada amplop pertama."

"Tapi Ibu memilih menjalankan kelompok ini."

Laras berdiri. Air mata masih ada di pipi.

"Kalau kelompok ini tidak ada, utang Bima tetap hidup, supervisornya tetap meneror, dan istrinya mungkin sudah mati. Jangan sederhanakan apa yang menyelamatkan seseorang hanya karena harganya membuatmu takut."

Lihat selengkapnya