Nama debt collector itu Alvin.
Usianya dua puluh delapan. Ia tinggal di rumah kos dekat Cakung dan bekerja untuk vendor penagihan yang berganti nama setiap dua bulan. Foto pada profilnya memperlihatkan lelaki kurus, rambut dipotong rapi, mata agak turun. Sulit menghubungkan wajah itu dengan pesan yang dikirim kepada Sulastri:
ANAK LU MANDINYA JAM LIMA YA. PAGARNYA PENDEK.
Dua mantan korban mengenali Alvin dari foto dan mengetahui ia bermain futsal setiap Selasa. Mira memeriksa warung langganannya secara langsung selama tiga malam sebelum memastikan ia biasa datang sendiri.
"Setiap Selasa dia futsal," kata Mira di dalam mobil. "Habis itu makan di warung ini. Biasanya sendiri."
Teguh menyetir minibus pinjaman. Nisa duduk di belakang. Diaz memeriksa tali plastik, masker, dan obat penenang.
"Kita mau apakan dia?" tanya Nisa.
"Bawa ke Sulastri," jawab Diaz.
"Setelah itu?"
"Dia yang memutuskan."
"Seperti Brandon?"
Teguh memegang setir lebih erat.
Diaz menoleh. "Kalau lu mau turun, turun."
"Terus nama saya jadi pengganti."
"Jadi jangan pura-pura kita punya pilihan bersih."
Mira menyimpan ponsel. "Alvin belum tentu datang kalau diajak Diaz. Nisa kirim pesan dari nomor calon korban."
Mereka membuat profil palsu seorang ibu yang ingin membayar utang tunai tanpa sepengetahuan suami. Nisa harus menelepon.
Alvin mengangkat dengan nada ramah.
"Saya takut transfernya ketahuan," kata Nisa. "Bisa ketemu?"
"Bisa, Bu. Bawa uangnya."
"Tolong jangan ada orang lain."
"Saya sendiri."
"Anak saya ikut."
"Lebih baik ditinggal."
Ada sesuatu pada cara Alvin mengucapkan anak yang membuat tangan Nisa dingin.
Mereka menunggu di dekat warung. Alvin datang memakai kaos olahraga dan membawa tas selempang. Ia tampak lebih kecil daripada bayangan Nisa tentang seorang penagih. Ia memesan teh, memeriksa ponsel, dan menguap.
Nisa turun.
"Pak Alvin?"
Ia berdiri. "Bu Rina?"
"Mobil saya di sana. Uangnya ditinggal anak."
Alvin mengikuti tanpa curiga. Ketika pintu minibus dibuka, Diaz menariknya. Teguh menutup pintu. Mira menyuntikkan penenang melalui lengan, tangan gemetar meskipun ia sudah berlatih pada bantalan.
Alvin sempat menatap Nisa.
"Bu, tolong."
Kata itu membuat waktu berhenti.
Nisa pernah mengucapkannya kepada Ferdy, Wati, polisi, dan siapa pun yang mungkin mendengar.
"Saya cuma kerja," kata Alvin. "Saya enggak tahu apa-apa."
Diaz menutup mulutnya.
Mobil bergerak.
Mereka membawa Alvin ke gudang kosong. Sulastri menunggu bersama Laras dan dua Tangan Abu lain. Perempuan itu berusia tiga puluh delapan, bekerja sebagai penjual sayur, dan memiliki anak perempuan sembilan tahun. Di tangannya ada amplop hangus.
Alvin diikat pada kursi.
Ketika sadar, ia langsung mengenali Sulastri.
"Bu, kita bisa omongin."
Sulastri memegang ponsel. Di layar ada foto anaknya dari balik pagar kamar mandi, hanya kepala dan bahu yang terlihat, tetapi niatnya jelas.
"Kamu ambil?"
"Bukan saya."
"Nomormu kirim."
"Nomor kantor dipakai banyak orang."
"Kamu bilang tahu jam mandinya."
"Template, Bu. Kita bilang begitu ke semua orang."
Kalimat itu lebih buruk daripada pengakuan.
Diaz menyerahkan pisau kepada Sulastri.
Nisa maju. "Enggak harus."
Laras menatapnya, tidak melarang.
Sulastri memegang pisau dengan dua tangan. Alvin menangis.
"Saya punya ibu," katanya.