Andika menemukan Alvin di ruang rawat sebuah rumah sakit pemerintah.
Kedua matanya tertutup perban. Polisi mencatatnya sebagai korban penculikan dan kekerasan. Tidak ada luka pada bola mata, tidak ada zat kimia, dan tidak ada kerusakan saraf yang dapat menjelaskan kebutaannya. Di bawah kuku Alvin ditemukan abu. Pada ponselnya ada jejak penghapusan jarak jauh dan pemindahan data.
Andika datang sebagai jurnalis, tetapi Alvin menolak diwawancarai sampai nama Nisa disebut.
"Dia ada di mobil," katanya.
"Nisa Andriani?"
"Dia yang pancing gue."
"Siapa lagi?"
Alvin menggeleng. "Kalau gue sebut, mereka ambil yang lain."
"Yang lain apa?"
"Nama. Ingatan. Suara."
Andika meletakkan perekam di meja, tetap mati. "Siapa yang melakukan ini?"
"Orang Lunas."
"Jemaah Abu?"
Tubuh Alvin menegang. Monitor detak jantung berbunyi lebih cepat.
"Dari mana lu tahu nama itu?"
"Saya sedang mencari."
"Berhenti."
"Mereka menculik dan membutakan Anda."
"Mereka juga menghapus semua akun gue. Tagihan istri gue lunas. Ibu gue dapat uang. Kalau gue bicara, semua balik."
"Anda menagih orang dengan foto anak."
Alvin menghadap sumber suara. "Gue tahu gue bajingan. Tapi lu datang buat apa? Biar gue ngaku layak dibutakan?"
Andika tidak menjawab.
"Semuanya pengen korban bersih," lanjut Alvin. "Kalau enggak bersih, enggak enak dibela."
Kalimat itu tinggal bersama Andika ketika ia keluar.
Di lorong, Maya menelepon.
"Ada kejadian di Kuala Lumpur," katanya. "Orang Indonesia. Namanya Vincent Halim."
Andika mengenal nama itu. Vincent memimpin perusahaan perantara yang memasok daftar calon peminjam kepada banyak aplikasi. Perusahaannya membeli nomor telepon, alamat, foto identitas, dan catatan kebutuhan darurat dari pihak-pihak yang tidak pernah diketahui korban.
"Kondisinya?"
"Hidup. Kulitnya penuh nama orang."
"Tato?"
"Tumbuh dari bawah."
Vincent terbangun di apartemennya ketika nama pertama muncul pada dada. Huruf itu menonjol seperti luka bakar yang dicetak dari dalam. Setiap kali ia menyangkal mengetahui korban, lima nama baru tumbuh di perut, punggung, dan wajah.
Dalam tiga jam, kulitnya kehabisan ruang.
Sejumlah nama lalu muncul pada bagian dalam kelopak mata.
Paket dari Jakarta ditemukan di meja makan. Isinya abu, sepotong dasi lama milik Vincent, dan rekaman suara para korban yang datanya pernah dijual perusahaannya.
Vincent terlalu jauh untuk disentuh Diaz.
Sang Pelunas tidak membutuhkan jarak.
* * *
Andika menelusuri paket melalui tindakan manusia yang dapat dilihat.
Seorang perempuan bernama Siska membawanya ke gerai logistik. Adiknya menjadi korban pinjaman setelah nomor keluarga tersebar. Siska mendapatkan seutas benang dari dasi Vincent melalui mantan pegawai. Juru Arang memberi abu dan meminta rekaman kesaksian.