Hadiah pertama Nisa adalah biaya sekolah Zahra selama setahun.
Suratnya datang dari Yayasan Rumah Pulih. Nama yayasan itu tercetak dengan huruf hijau lembut di atas gambar dua telapak tangan yang terbuka. Tidak ada simbol amplop, tidak ada kata abu, dan tidak ada satu pun kalimat yang dapat membuat orang tua murid curiga.
Hadiah kedua adalah pekerjaan Nisa yang kembali.
Hadiah ketiga adalah tidur.
Selama hampir dua minggu, tidak ada nomor asing yang membangunkannya. Zahra kembali masuk sekolah. Bu Lina menyambut di gerbang dan tidak menanyakan utang. Pak Budi menawarkan jam kerja yang lebih tetap. Wati mengirim pesan dua kali, tetapi Nisa belum menjawab.
Bukan karena ia masih marah.
Nisa sudah berhenti marah kepada orang-orang yang datang terlambat. Kemarahan membutuhkan harapan bahwa mereka seharusnya dapat berbuat lebih baik. Ia tidak lagi mempunyai harapan itu.
Rumah sakit meminta deposit.
Kantor meminta surat.
Keluarga meminta penjelasan.
Polisi meminta bukti.
Sang Pelunas meminta satu nama dan menepati seluruh janjinya.
Semua pertolongan memiliki harga. Hanya Sang Pelunas yang tidak berbohong mengenai hal itu.
* * *
Di hadapan publik, Yayasan Rumah Pulih bekerja seperti lembaga pendamping korban utang.
Lantai pertamanya berisi dapur, ruang bermain anak, lemari obat, dan meja konsultasi. Pengacara datang dua kali seminggu. Relawan membantu korban menyusun bukti ancaman. Anggota yang memiliki usaha menawarkan pekerjaan. Mereka mengantar orang ke rumah sakit, menemani pelaporan, menjaga anak, dan menyediakan kamar ketika alamat korban sudah tersebar.
Pertolongan itu nyata.
Di lantai dua, setelah pintu dikunci dan telepon disimpan, para penerima amplop duduk melingkar.
Laras tidak pernah memulai dengan doa kepada Sang Pelunas. Ia meminta setiap orang menceritakan pintu terakhir yang mereka ketuk.
Seorang ibu bercerita tentang saudara yang mengatakan salah sendiri. Seorang pengemudi menceritakan kantor polisi yang memintanya kembali ketika ancaman sudah menjadi tindakan. Seorang mahasiswa menceritakan teman-teman yang meneruskan gambar palsu sambil menulis semoga bukan kamu.
Setelah semuanya selesai, Laras bertanya dengan suara pelan.
"Ketika semua orang meminta kalian menunggu, siapa yang datang?"
Jawabannya tidak diwajibkan pada pertemuan pertama.
Pada pertemuan ketiga, sebagian besar orang mengucapkannya sendiri.
ENGKAULAH YANG DATANG MENOLONGKU.
Pengakuan itu yang diinginkan Sang Pelunas. Bukan suara yang direkam, bukan kalimat yang dipaksa keluar dari mulut orang pingsan, dan bukan kepatuhan tanpa kesadaran. Orang harus memahami kepada siapa rasa terima kasihnya diberikan.
Jemaah Abu hanya memastikan bahwa, ketika saat itu tiba, semua orang di ruangan memiliki jawaban yang sama.
* * *
Nisa menjadi wajah terbaik Yayasan Rumah Pulih.
Ia tidak perlu menghafal kesaksian. Ia cukup menunjukkan foto Zahra di rumah sakit, jumlah tagihan yang pernah membengkak, dan bukti bahwa semua saldo akhirnya menjadi nol.
Perempuan pertama yang ia dampingi bernama Pertiwi, penjahit rumahan yang suaminya meninggal dan meninggalkan cicilan. Nisa datang membawa beras, obat lambung, serta dua kotak susu. Ia mendengarkan tanpa menyela.
Ketika Pertiwi berkata bahwa ia tidak peduli siapa yang menolong asalkan telepon berhenti, udara di kamar berubah dingin.
Nisa mengenali perubahan itu.
"Kalau nanti ada sesuatu datang," katanya, "jangan langsung takut."
"Apa yang datang?"