HANGUS JADI ABU

Indra S Miraj
Chapter #27

Bab 26: Undangan untuk Wartawan

Undangan untuk Andika tidak dikirim melalui surel.

Tiga perempuan dari Yayasan Rumah Pulih datang ke kantornya pada siang hari. Mereka membawa map perkara, kuitansi rumah sakit, foto ancaman, dan makanan untuk seluruh redaksi. Nisa berada di antara mereka.

"Kami tidak meminta tulisan bagus," katanya. "Kami meminta Mas melihat sendiri."

Andika menerima alamat Rawamangun dan datang malam berikutnya dengan buku catatan, perekam, serta seorang pengacara yang menunggu di luar.

Gedung bekas call center itu tidak lagi terlihat seperti kandang. Lantai dasarnya dicat putih. Gambar anak-anak menutup noda lama pada dinding. Di dapur, dua ibu memasak untuk penghuni rumah aman.

Laras menunjukkan ruang bantuan hukum, kamar singgah, lemari obat, dan daftar pekerjaan yang disediakan anggota.

"Semua ini tidak tampak seperti sekte," kata Andika.

"Karena bantuan tidak berubah menjadi palsu hanya karena orang yang memberikannya punya keyakinan yang tidak Mas sukai."

"Keyakinan yang membunuh."

"Keyakinan yang datang setelah orang lain membiarkan mereka dibunuh pelan-pelan."

Andika mewawancarai anggota selama tiga jam.

Teguh menunjukkan pembukuan bengkel. Sri duduk di sampingnya, belum memakai pin abu, tetapi tidak menyangkal ketika suaminya menyebut Sang Pelunas sebagai penolong. Pertiwi memperlihatkan saldo nol. Seorang mahasiswa mengatakan yayasan menemaninya ketika kampus menyalahkan foto palsu yang dibuat penagih.

Semua kesaksian benar.

Kebenaran itulah yang membuat ruangan berbahaya.

* * *

Setelah tengah malam, Laras membawa Andika ke lantai dua.

Dua puluh tiga orang duduk melingkar. Tidak ada layar besar, presentasi, atau musik. Hanya sebuah tungku kecil dan tumpukan amplop.

Laras meminta Andika duduk.

"Kami ingin Mas menulis dari dalam."

"Sebagai wartawan?"

"Sebagai orang yang mengakui apa yang dilihat."

"Kalian ingin legitimasi."

"Kami ingin orang yang masih percaya pada institusi mengerti bahwa ada pertolongan yang tidak membutuhkan izin mereka."

Beberapa anggota mulai memohon. Mereka mengatakan satu artikel Andika dapat membawa korban sebelum penagih membuat mereka bunuh diri. Mereka menjanjikan bukti, akses, dan kisah yang tidak dimiliki wartawan lain.

Laras meletakkan amplop kosong di depan Andika.

"Mas tidak perlu menulis nama. Katakan saja bahwa ketika mereka ditinggalkan, Sang Pelunas datang."

Abu di dalam tungku bergerak.

Suara keluar dari sana, tersusun dari puluhan bisikan.

"Andika Pratama."

Dinding belakang menggembung seperti kulit yang bernapas. Dari cat putih muncul wajah-wajah orang yang pernah mati karena nama di amplop. Mulut mereka membuka bersama.

Lihat selengkapnya