Rekaman Devina muncul pada pukul 06.12.
Tautan pertama dikirim ke grup kampus. Potongan gambar berikutnya masuk ke akun gosip. Sebelum pukul tujuh, wajah Devina memenuhi telepon orang-orang yang pernah duduk satu kelas dengannya.
Tidak ada bagian tubuh yang perlu diperlihatkan agar penghinaan bekerja. Namanya, wajahnya, dan satu detik suaranya sudah cukup membuat ribuan orang merasa memiliki hak menilai.
Devina bangun karena tiga puluh tujuh panggilan.
Rio tidak dapat dihubungi.
Teman terdekatnya menulis agar ia tidak datang ke kampus dulu. Ketua program studi meminta pertemuan. Akun media sosialnya dipenuhi kata-kata kotor. Orang-orang mengirim potongan rekaman itu kembali kepadanya, seolah ia belum cukup tahu tubuh siapa yang sedang ditonton.
Andika masuk ke kamar tanpa mengetuk.
"Itu benar kamu?"
Devina menatapnya dari lantai.
Pertanyaan pertama seorang kakak seharusnya apakah ia aman.
Andika tahu itu beberapa detik terlambat.
"Kenapa kamu mau bikin beginian?"
Wajah Devina berubah.
"Keluar."
"Gue bukan nyalahin. Gue perlu tahu sumbernya."
"Keluar."
"Rio yang sebar?"
Devina mengambil gelas dan melempar. Benda itu pecah di dekat pintu.
"Kalian semua sama."
Andika membeku.
"Siapa?"
"Semua orang yang bilang mau bantu, terus pertanyaan pertama selalu apa salahku."