Wati datang ke Yayasan Rumah Pulih karena Nisa mengundangnya makan.
Mas Deni ikut. Ia tidak ingin istrinya pergi sendiri ke tempat yang disebutnya perkumpulan orang putus asa.
Zahra berlari memeluk Wati. Untuk beberapa menit, mereka dapat berpura-pura menjadi keluarga yang hanya sedang berkunjung. Anak-anak bermain. Nisa menuangkan teh. Deni memuji gedung dan menanyakan siapa pemberi dananya.
Laras menjawab dengan ramah.
"Orang-orang yang sudah ditolong."
"Kalau benar bisa melunasi utang, kenapa enggak dibuka buat semua orang?"
"Tidak semua orang siap mengakui harga pertolongan."
Deni tertawa kecil. "Saya enggak percaya begituan."
Wati menunduk.
Nisa melihat bedak yang terlalu tebal di dekat tulang pipi kakaknya. Ketika Wati mengangkat gelas, lengan bajunya tersingkap dan menunjukkan lebam kekuningan.
"Kena apa?"
Wati buru-buru menurunkan lengan. "Kebentur lemari."
Deni menjawab pada saat yang sama. "Jatuh di kamar mandi."
Dua kebohongan menabrak di atas meja.
Deni berdiri. "Kita pulang."
Wati ikut bangkit tanpa menatap Nisa.
Di depan pintu, Nisa berkata, "Teteh bisa tinggal kapan saja."
Deni menoleh. "Jangan ikut campur rumah tangga orang."
"Kalau rumah tangganya masuk ke kulit kakak saya, itu sudah kelihatan dari luar."
Deni menarik pergelangan Wati terlalu keras.
Diaz bergerak dari sisi ruangan, tetapi Nisa mengangkat tangan.
Belum.
* * *
Malam itu Wati menelepon dari kamar mandi.
Suaranya sangat kecil.
"Dia punya orang lain."
Nisa menutup pintu kamar agar Zahra tidak mendengar.