HANGUS JADI ABU

Indra S Miraj
Chapter #31

BAB 30: Mata yang Pulang Membawa Berita

Devina mulai pulang satu atau dua malam setiap minggu.

Ia mengatakan ingin mengambil pakaian. Kadang ia tinggal minum teh. Andika berusaha tidak mendesak, takut setiap pertanyaan akan terdengar seperti tuduhan kedua.

Jarak itu membuat Devina dapat melihat semuanya.

Catatan nama narasumber tergeletak di meja. Jadwal pertemuan dengan penyidik tertulis pada kalender. Andika menerima telepon di dapur dan mengira adiknya memakai earphone

Devina tidak membobol satu akun pun.

Ia hanya memotret kertas, mengingat nama, dan bertanya dengan nada seorang adik yang mulai berdamai.

"Besok Kakak ke mana?"

"Ketemu mantan anggota."

"Yang di Bekasi?"

"Kok tahu?"

"Kakak pernah bilang."

Setiap jawaban diteruskan kepada Nisa.

Nisa memberikannya kepada Diaz.

Jemaah Abu selalu tiba lebih dahulu.

Mantan anggota di Bekasi menghilang sebelum Andika datang. Lemari arsip sudah kosong saat polisi menggeledah sebuah rumah. Seorang saksi menarik kesaksian setelah Diaz berdiri semalaman di depan rumah ibunya sambil membawa kaleng berisi abu.

Andika mulai percaya ada penyadapan.

Ia mengganti ponsel, memindahkan dokumen, dan mengadakan pertemuan di tempat acak.

Tidak ada yang berubah.

Ia tidak pernah mempertimbangkan bahwa pintu yang dipakai Jemaah memiliki kunci rumahnya sendiri.

* * *

Pada pertemuan ketujuhnya, Devina duduk di lingkaran lantai dua.

Tautan rekamannya masih beredar. Kampus menunda sidang, tetapi teman-temannya tidak kembali. Rio menghilang. Hanya Yayasan Rumah Pulih yang menyediakan pengacara, pendamping, dan kamar tanpa cermin besar.

Laras tidak meminta Devina berterima kasih kepada yayasan.

Ia bertanya siapa yang datang.

Lihat selengkapnya