Malam Pelunasan dimulai dengan tujuh gelas air dan satu tungku.
Para anggota duduk mengelilingi lingkaran abu. Mereka datang dari rumah aman, bengkel, rumah sakit, dan kamar-kamar kontrakan yang pernah menjadi tempat mereka menunggu mati. Sebagian membawa pasangan. Sebagian membawa foto anak.
Nisa duduk di kanan Laras.
Devina berada di sisi kirinya.
Teguh dan Sri duduk dekat pintu. Wati menjaga anak-anak di ruangan belakang, termasuk Zahra. Diaz berdiri dengan Tangan Abu lain di sepanjang dinding.
Mira tidak terlihat.
Namun suaranya merintih dari lantai bawah.
Laras mengangkat Buku Abu.
"Malam ini bukan malam untuk menerima pertolongan," katanya. "Malam ini kita mengakui siapa yang sudah datang."
Satu per satu anggota maju.
Mereka menyebut utang yang hilang, tubuh yang dihukum, pekerjaan yang kembali, dan keluarga yang selamat. Setelah setiap kesaksian, mereka mengucapkan pengakuan.
ENGKAULAH YANG DATANG MENOLONGKU.
Abu naik dari tungku dan menempel pada dahi mereka.
Ketika giliran Nisa tiba, ia tidak berlutut.
"Saya datang bukan hanya untuk berterima kasih," katanya. "Saya datang untuk menjaga pintu."
Laras memandangnya dengan campuran bangga dan takut.
Dari lantai bawah, Mira mulai tertawa.
Suara itu tidak lagi sepenuhnya manusia.