HANGUS JADI ABU

Indra S Miraj
Chapter #35

BAB 34: Yang Datang

Sang Pelunas bangkit dari tungku yang terbalik.

Mula-mula hanya tangan.

Jari-jarinya terbuat dari lembaran kuitansi yang digulung mengelilingi tulang manusia. Kuku berbentuk ujung amplop. Ketika telapak menyentuh lantai, ubin meninggalkan bekas hangus menyerupai nama.

Tubuh berikutnya keluar terlalu besar untuk tungku.

Lapisan kertas terbakar menempel pada daging basah. Dadanya berlubang seperti perapian. Di dalamnya ada wajah-wajah kecil yang menjerit tanpa suara. Kepalanya tidak memiliki mata. Pada tempat wajah seharusnya berada, puluhan mulut menyebut jumlah utang, bunga, dan permohonan terakhir orang-orang yang pernah menerima amplop.

Polisi melihatnya.

Sebagian menembak.

Peluru menembus dan keluar sebagai koin panas. Sang Pelunas tidak membalas. Mereka tidak pernah menerima pertolongannya.

Ia mencari orang-orang yang terikat.

* * *

Seorang perempuan yang ikut Harun menarik pin abu dari bajunya.

"Saya tidak kenal dia," katanya.

Mulut Sang Pelunas mengulang kalimat yang pernah ditulis perempuan itu untuk seorang penagih.

BIARKAN DIA TERSEDAK SEMUA UANG YANG DIAMBILNYA.

Gigi perempuan itu berubah menjadi koin. Rahangnya menggembung. Ratusan keping keluar dari tenggorokan, merobek pipi dan memenuhi mulut sampai ia tidak dapat bernapas.

Lelaki lain berlari menuju jendela sambil meneriakkan bahwa semua mukjizat adalah kebohongan.

Ia pernah meminta seorang DC jatuh dari lantai tertinggi kantornya.

Gravitasi membalik hanya untuk tubuhnya.

Ia jatuh ke langit-langit, menembus beton, lalu jatuh lagi ke lantai dengan tulang yang sudah patah dari arah pertama.

Setiap penyangkalan memanggil pulang kalimat lama.

Kulit terbakar dari dalam.

Lengan terlipat menjadi tagihan.

Mata dipenuhi abu.

Bau daging, tinta, dan plastik terbakar menyatu di udara.

Diaz menebas tali penghalang dan membuka jalan menuju ruangan anak. Ia tidak menarik pengakuannya. Sang Pelunas melewatinya seperti melewati tiang yang sudah diberi tanda.

"Keluar!" teriaknya.

* * *

Teguh kehilangan Sri di tengah asap.

Ia menemukannya dekat tangga, tertimpa lemari kecil. Api merambat pada dinding di belakangnya. Sri batuk sampai darah menodai telapak.

"Tinggalin aku," katanya.

Teguh mengangkat lemari. Kulit telapak tangannya terkelupas karena panas.

"Kita pulang bareng."

"Dia marah."

Lihat selengkapnya