Sembilan bulan setelah artikel Andika terbit, Yayasan Rumah Pulih tidak lagi ada.
Sebagai gantinya muncul tujuh lembaga dengan nama berbeda.
Rumah Teduh.
Pintu Pulang.
Sahabat Lunas.
Tidak satu pun memakai simbol amplop.
Semuanya menawarkan makanan, pendampingan hukum, rumah aman, pekerjaan, dan pertemuan spiritual bagi korban utang.
Nisa memimpin yang terbesar.
Di ruang kerjanya, Buku Abu disimpan di dalam lemari kayu. Nama Zahra tidak pernah muncul lagi pada halaman mana pun.
Harga perlindungan itu belum ditagih.
Nisa tidak memikirkan hari ketika tagihan datang. Ia sudah terlalu lama hidup dengan cara meminjam masa depan untuk menyelamatkan hari ini.
* * *
Teguh dan Sri menjadi pasangan kesaksian.
Dalam setiap pertemuan, mereka menunjukkan foto bengkel, rumah yang diperbaiki, dan hasil pemeriksaan kandungan.
Sri hamil setelah bertahun-tahun menunggu.
Dokter menyebutnya kehamilan yang sehat.
Saat alat USG pertama kali menangkap detak jantung, suara monitor sesaat berubah menjadi bunyi kertas diremas. Teguh dan Sri saling pandang.
Mereka tidak meminta dokter mengulang.
"Dia datang bukan cuma mengembalikan uang," kata Sri kepada pasangan-pasangan lain. "Dia mengembalikan keluarga kami."
Tidak seorang pun di ruangan bertanya apa yang kelak akan diminta dari anak itu.
* * *
Diaz menghadiri wisuda Rika dengan kemeja baru dan tangan kanan yang selalu memakai sarung tangan.
Setelah foto keluarga, ia menyerahkan surat tawaran kerja dari salah satu lembaga jaringan Nisa.