Hantu Perang Di Tembok Berlin

Oleh: Achmad Nanda Suryadi

Blurb

Di kota Berlin yang masih menyimpan gema perang, Alfredolf Müller memulai hidup keduanya dengan cara yang nyaris kehilangan bentuk asli. Ia pernah menjadi bagian dari sesuatu yang besar dan kejam, sebuah masa yang membentuknya tanpa benar-benar memberinya pilihan. Namun setelah semuanya runtuh, ia tidak mencari penebusan atau kemuliaan. Ia hanya membuka sebuah bar kecil, menjaga api tetap menyala, dan membiarkan hidup berjalan tanpa banyak penjelasan. Dari tempat itulah, cerita-cerita kecil tentang manusia yang tersisa mulai berkumpul.
Salah satunya adalah Ben. Pria 29 tahun berprofesi sebagai bartender, hidup sendirian. Kedua orang tua meninggal karena perang, keluarganya adalah Yahudi Sephardic Maroko, keturunan yahudi asli yang bermigrasi ke jerman pada tahun 1938, kelompok etnis Yahudi yang berasal dari Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal). Ayah ibunya menutupi identitas asli mereka selama bertahun-tahun, karena pada tahun itu situasi di Jerman sangat buruk untuk etnis tersebut, pembantaian etnis yahudi yang masih berkeliaran. Hingga tak ada satupun yang mengetahui latar belakang orangtuanya.
Yossi Bennayoun lahir di Berlin, tepat dua tahun kelahirannya, orang tua Ben di kirim untuk ikut perang melawan Iran, yang pada saat itu masih bernama Persia. Ia dirawat oleh tetangganya, seorang nenek berusia 80 tahun, hingga dewasa, ia belajar mencari kehidupan yang berlari tanpa kasih sayang orang tua. Sejak kecil, Ben tumbuh dalam bayang-bayang sejarah yang tidak ia alami sendiri, namun diam-diam hidup di dalam dirinya. Ia tidak sepenuhnya mengerti tentang penderitaan yang dilalui keluarganya, tetapi ia merasakannya, dalam jarak, dalam dingin yang tidak biasa, dan dalam perasaan bahwa dunia tidak pernah benar-benar menjadi tempat yang aman.
Bagi Ben, hidup tidak pernah terasa seperti sesuatu yang utuh. Ia bekerja di bar milik Alfred dengan ritme yang teratur namun sering kali kosong, menyajikan minuman, membersihkan meja, lalu pulang ke rumahnya, yang tidak benar-benar terasa seperti rumah. Di sana, ia menghabiskan waktu bersama kesunyian dan kucingnya. Mengulang kebiasaan yang sama, seolah hidup adalah sesuatu yang harus diulang, bukan dijalani. Masa lalunya menyisakan jejak yang kejam: kehilangan, pengkhianatan, dan runtuhnya mimpi yang pernah ia percaya. Semua itu tidak lagi ia tangisi, tetapi diam-diam membentuk cara ia memandang dunia, datar, jauh, dan tanpa harapan yang jelas.
Hingga Diandra datang. Pertemuan mereka tidak istimewa, bahkan nyaris terasa kebetulan yang terlalu biasa. Di Cornerstone, sebuah psikiater yang sudah lama berdiri. Mereka bertemu. Namun dari pertemuan itu, Ben mulai merasakan pergeseran kecil dalam dirinya. Diandra tidak berusaha mengubahnya, tidak pula menawarkannya jalan keluar. Ia hanya hadir, dengan cara yang sulit dijelaskan. Bersamanya, dunia yang selama ini terasa tumpul perlahan memiliki bentuk kembali, meski samar. Namun, di saat yang sama, sesuatu dalam diri Ben mulai retak.
Suara-suara yang sepenuhnya berasal dari luar mulai mengisi kepalanya. Pikiran-pikiran yang semula dapat ia kendalikan perlahan berubah menjadi sesuatu yang asing. Batas antara kenyataan dan halusinasi menjadi kabur, seperti cermin yang tidak lagi mampu memantulkan dengan jujur. Skizofrenia datang tanpa alasan, sebagai kabut, yang pelan, menutup, dan mengubah cara Ben melihat dunia, termasuk cara ia melihat Diandra.
Di tengah ketidakpastian itu, mereka pernah berdiri bersama dalam sebuah sakramen, sebuah momen yang seharusnya sakral, di Cologne Katedral, namun bagi Ben terasa seperti pertemuan antara iman, kehilangan, dan harapan yang tidak pernah sepenuhnya ia mengerti. Diandra, dalam diamnya, menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar manusia, ia adalah penanda, atau mungkin ilusi terakhir yang masih ingin Ben percayai.
Lalu, seperti sesuatu yang tidak pernah benar-benar dimiliki, Diandra pergi. Kepergiannya banyak meninggalkan jejak di kepalanya. Salah satunya alasan masa lalunya yang masih membabi buta di kepalanya, yaitu. Kematian orang tuanya. Yang tersisa hanyalah ruang kosong yang perlahan dipenuhi oleh kesadaran, bahwa tidak semua kehadiran ditakdirkan untuk bertahan.
Dalam geming yang kembali, Ben menuliskan semacam ode, bukan untuk memanggil Diandra kembali, melainkan untuk mengakui bahwa ia pernah ada, entah sebagai manusia, kenangan, atau bagian dari dirinya yang tidak pernah selesai. Sebuah perpisahan yang tidak meminta jawaban, hanya penerimaan.
Dan di antara sisa-sisa hidup yang berjalan, Ben akhirnya memahami sesuatu yang paling sederhana sekaligus paling sulit: bahwa pengalaman hanyalah nama yang manusia berikan untuk kesalahan di masa lalunya. Rasa sakit yang diterima oleh orang adalah hal mutlak, pasti akan ada. Namun, penderitaan adalah sebuah pilihan.

Lihat selengkapnya