Tahun 1970 ketika masa tidak ada lagi antisemitisme, sejak bulan Juli sampai Februari, Yossi Bennayoun hanya hidup dengan pemikiran kematian berikutnya. Ia menyongsong ulang tahun kedua puluh sembilan, di momen yang sulit itu; mengakhiri nyawanya sendiri terasa lebih masuk akal, daripada melanjutkan hidup yang diambang ketidakpastian, tetapi mengapa ia tidak melakukannya sampai hari ini? Alasannya masih belum diketahui. Padahal, waktu itu menurut keyakinan para rekan kerjanya, jauh lebih mudah melangkahi ambang pintu kematian tersebut, daripada menelan sebutir peluru kaliber 22.
Selama hari-hari itu dia hidup seperti seorang somnambuls, atau seperti orang yang berjalan belum sadar bahwa dia sedang tertidur pulas. Waktu matahari terbit, dia bangun, menggosok gigi, mengenakan Pakaian yang ada, menuang oli ke rantai sepedanya, dan pergi ke tempat kerjanya, lalu mengisi jurnal harian. Dilihat-lihat mirip seperti orang diterpa oleh angin kencang mencengkam. Berpegangan pada tiang lampu jalan erat-erat. Ben menjalankan rutinitas sehari-hari, hanya bergerak sesuai jadwal yang ada di depan mata.
Dia sangat jarang berbicara, dengan siapa pun, kecuali kalau ada urusan yang tidak bisa dihindari. Lalu kembali kerumah dan menyendiri, duduk di lantai, bersandar ke dinding, dan merenungkan kematian atau kegagalan hidup. Di hadapannya ternganga jurang ngarai besar nan gelap, begitu dalam hingga langsung mencapai inti bumi. Yang terlihat di situ adalah kehampaan yang menjelma awan pekat dan semak-semak rindang dipenuhi makhluk paling primitif di bumi. Tersisa sebelas bulan lagi baginya menginjak kepala tiga, namun duri-duri itu masih saja tersangkut di lehernya.
Duri-duri itu bernama arah hidupnya. Berbagai macam jenis kematian, entah, sudah berapa kali dilaluinya. Mulai dari sekarat yang ringan, hingga yang sekarat seperti dikubur hidup-hidup. Akan tetapi bagi dirinya hal tersebut hanyalah angka, angka yang berganti seiring langkah kaki melembek, anak rambut yang kian hari kian memutih, dan kerutan bersarang diantara dahi dan sekitaran alis mata. Teringat masa lalu adalah makanan bergizi menurutnya, betapa keruh dirinya sekarang, tidak memiliki siapa-siapa di sisinya. Selain kucingnya yang ia beri nama Arthur.
Dan sisanya, yang tersisa hanya peninggalan barang-barang milik kedua orang tuanya, yang tak begitu berharga, jika langsung dilihat dari nilainya. Tas, guci, sepatu kulit, rompi wol, dan perabotan umum rumah tangga yang di wasiatkan kedua orang tuanya melalui nenek yang mengasuh Ben dari kecil. Tak begitu juga dikatakan beruntung dan tak begitu juga dapat dikatakan tidak beruntung, pasalnya, semua ini tidak dimuat dalam daftar keinginannya. Untuk mendobrak dinding batin miliknya, terkadang Ben perlu melihat benda-benda tersebut atau sekadar memakainya.
Dikala ia ingin mengenang jauh masa lalunya, melalui ingatan kecil di lemari kepalanya. Namun, tidak ada tanda sinyal mercusuar yang dijatuhkan. Seakan-akan memori itu masih mentah didalam dirinya, ia tak pernah mengingat apapun. Memori-memori yang lewat dikepalanya hanya tangisan, dan tawa girang saat masih balita. Kehangatan yang pernah dirasakan meluap dan merayap keluar ke cerobong asap, seiring ia memandangi foto dirinya kecil dan orangtuanya yang terbingkai rapih di sebelah vas bunga pada meja kecil. Lupa kapan terakhir kalinya ia dipeluk, lupa kapan pertama kalinya ia dimandikan disebuah bak mandi.
Itulah takdir. Masa lalu dan takdir seakan tak mau menjemput Ben, tetapi sebaliknya, ia malah ditendang jauh-jauh hingga terpental ke sebuah pulau berhantu. Berisi para bajak laut kelaparan, kemudian Ben disandera, diikat dibawah pohon birch besar, serta tubuhnya dikuliti satu-persatu. Kerap sesekali, ia pernah bertanya-tanya. Didalam dirinya, muncul beberapa kali. Mengapa rasanya sulit melepaskan masa lalu tersebut? Bukankah sebaiknya bergegas ke lintasan yang ada di hadapan dirinya? Dan mengatur ulang semua sedemikian rupa. Jawabannya tentu tidak pernah ia temui, hingga ia mandiri seperti sekarang.
Tentang masa depannya pun, kebetulan terkadang terlihat samar-samar. Pekerjaannya yang sekarang, memang betul tidak terikat kesepakatan hukum atau persetujuan tinta diatas kertas, melainkan bergantung kepada keputusan kepemilikan antar pribadi. Tetapi disisi lain, tidak ada yang dapat menjamin semuanya. Baik pemilik bar maupun Ben sendiri. Asalkan hubungan keduanya cukup baik, Ben tidak akan pernah kehilangan pekerjannya. Dan atau, Ben tiba-tiba berkeinginan menjajal hal lain. Seperti cita-cita rumitnya sejak dari remaja itu, hidup sebagai seorang jurnalis.
Tapi apa boleh buat, pemikiran semacam itu adalah sebuah hal yang tidak lagi pragmatis menurutnya. Mengingat umurnya tahun depan berkepala tiga, sudah tidak termasuk kategori layak masa uji coba. Bisa dibilang, hidupnya berada di tahap sedang mengerucut seperti piramid ditengah hamparan padang pasir. Menjadi jurnalis pernah ada di daftar keinginan Ben. Ia menyusunnya, seperti merakit sesuatu yang ingin ia jaga dalam waktu lama. Selama lebih dari satu dekade, ia membangun rencana itu sedikit demi sedikit.
Namun pada suatu waktu, rangkaian kejadian datang tanpa ia duga. Seseorang datang lalu merusak cetak biru yang selama ini ia susun. Rencana yang ia jaga lama itu runtuh begitu saja, tanpa menyisakan apa-apa. Yossi Bennayoun sendiri gemar mengarang cerita, seperti menulis beberapa karangan, dan kemudian ditumpahkan ke dalam sebuah buku jurnalnya, bersampul coklat tua dari kulit domba. Atau semata-mata menulis beberapa momen-momen yang ia alami pada hari itu. Kata-kata seringkali menjadi rumah bagi pemilik nama Yossi Bennayoun.
Saat berusia dua puluh tiga tahun, Ben memutuskan untuk menjadi jurnalis. Keputusan itu ia anggap sebagai momen penting dalam hidupnya. Namun pada saat yang hampir bersamaan, datang sesuatu yang tidak ia duga, sebuah badai musim dingin, bukan hanya dalam arti cuaca, tetapi juga dalam hidupnya. Seperti musibah yang memilihnya secara diam-diam, badai itu hinggap di pundaknya. Peristiwa itulah yang perlahan merusak cetak biru yang selama ini ia susun. Apa yang sebelumnya terasa pasti, mendadak berubah arah, meninggalkan Ben dengan rencana yang tidak lagi utuh seperti semula.
Pada pertengahan musim dingin yang bersitahan rasa sakit, sebagai simbolis, badai tersebut adalah seseorang yang datang tanpa permisi di kehidupannya. Laki-laki dan perempuan, sepasang suami istri. Singkat cerita, datang kedalam kehidupannya tiba-tiba. Ben bertemu mereka berdua di depan rumahnya, saat Ben sedang duduk di beranda kecil yang hanya muat dua kursi dan satu meja, menikmati kesoliterannya bersama buku dan Arthur. Seperti rubah merah yang menunggu musim dingin selesai.
Pasangan itu menyapa Ben dari arah jalan. Penampilan mereka tampak lusuh. Pria itu membawa tas besar di punggungnya, yang tampaknya berisi beberapa potong pakaian dan persediaan makanan, cukup untuk bertahan selama seminggu berdua. Ben terdiam sejenak, memandangi mereka tanpa berkata apa-apa. Lalu, dengan suara sedikit redup, mereka mengajukan dua pertanyaan singkat.
“Tuan… dengan siapa tuan tinggal?”
Ben menjawab jujur, tanpa ragu.
“Sendiri.”
Beberapa detik setelah Ben menjawab, mereka mulai bercerita. Kisah itu mengalir, seolah dilukiskan di atas sesuatu yang masih bersih dalam tubuh Ben. Mereka bercerita tentang apa yang terjadi sekitar sepuluh hari lalu. Tentang keputusan yang mereka ambil, yaitu menikah. Tapi kenapa hanya karena menikah, mereka di usir? Alasannya karena, hubungan mereka tidak sejalan dengan cara pandang orang-orang pada masa itu. Mereka menikah sebagai saudara kandung, sesuatu yang dianggap melanggar batas yang tidak tertulis.
Meski tahu itu akan ditolak. Sehari setelah pernikahan, pada waktu yang hampir bersamaan, mereka diusir dari rumah oleh orang tua mereka sendiri. Keputusan itu jelas nekat, dan jelas menentang hukum sosial yang berlaku. Tentu saja, kalau seluruh penghuni planet bumi disatukan, mungkin yang melakukan hal semacam itu hanya delapan persen. Lagipula sudah sepatutnya mereka mendapatkan ganjaran itu, jika aturan sosial dijalankan tanpa pengecualian. Namun, disaat itu, yang tersisa di hadapan Ben hanyalah dua orang yang sedang berusaha untuk bertahan hidup.
Bagi mereka, keputusan itu tidak terasa menentang hukum alam maupun norma yang berlaku, selama itu tidak ada pihak yang dirugikan. Setidaknya, itulah keyakinan yang mereka pegang. Dengan cara pandang itu, mereka merasa apa yang mereka lakukan masih bisa dibenarkan, meski dunia di sekeliling mereka berkata sebaliknya. Namun kenyataan tidak berjalan sesuai keyakinan mereka. Tanpa tempat untuk kembali, mereka harus bertahan sendiri. Selama beberapa hari, mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menjalani hari-hari tanpa arah yang pasti.
Mirip perilaku kelompok gipsi, mereka tidur secara berpindah-pindah, dari satu tempat ke tempat lain. Kemudian, pertanyaan kedua dipisahkan antar kesedihan dan kemurahan hati. Mereka meminta, tidak, lebih tepatnya mereka memohon kepada Ben agar diberikan tempat tinggal sementara dalam beberapa waktu yang tidak dapat di janjikan. Mungkin disini, Ben pada dasarnya bukanlah orang yang lebih suka dibilang baik, tetapi ia lebih suka dibilang intuitif atau percaya pada gerak hatinya.
Setelah mendengar cerita itu, raut wajah Ben berubah. Ada rasa muram yang bercampur dengan prihatin. Ia tidak banyak bicara, tetapi dari caranya menatap, terlihat ia sedang mempertimbangkan sesuatu. Tak lama kemudian, ia mengambil sebuah keputusan, tapi begitu berarti. Ben membuka pintu rumahnya dan menawarkan ruang tamunya yang sempit, sekitar lima kali enam meter, untuk mereka tempati selama beberapa hari. Ia menggelar selimut di dekat tungku api, menjadikannya alas tidur agar mereka tetap hangat.
Gerakannya tenang, tanpa kesan berlebihan, seolah hal itu memang sudah semestinya dilakukan. Menjelang malam, setelah suasana sedikit lebih tenang, barulah mereka bertiga saling menyebutkan nama masing-masing. Sebuah awal kecil, di tengah keadaan yang tidak mereka rencanakan. Jim Milton dan Abigail Robert, awal mula kehancuran. Kiamat kecil bagi Ben. Seminggu setelah mereka singgah, tak ada sesuatu yang salah, tak ada hal-hal janggal. Sampai pada akhirnya di hari ke sepuluh, ketika Ben pulang kerja, mereka sudah tidak ada, menghilang.
Tidak ada tanda apa-apa yang ditinggalkan, tetapi masalahnya terletak disitu. Mesin tik dan brankas kecil miliknya juga ikut menghilang, sepuluh menit pertama, Ben belum menyadari hal itu. Setelah ia memasuki kamar, ia melihat semua lacinya terbuka, serta mesin tik yang biasanya berdiri diatas meja samping ranjangnya juga hilang begitu saja. Detik itu, darahnya seperti dilelehkan. Sungguh malang nasibnya, sudah jatuh tertiban papan iklan. Begitu kira-kira peribahasa yang cocok untuknya.
Meskipun dimata orang lain kehilangan itu terasa biasa saja, tetapi baginya, yang mengetahui hanya dirinya sendiri. Mesin tik, dan isi brankas. Untuk nominal ataupun nilainya, andaikan diklasifikasikan secara rinci. Berdasarkan nilai kurensi saat itu, harga sebuah mesin tik sekitar 110 dm (deutsche mark), angka yang cukup tinggi, pasalnya mesin tik disini cukup berharga. Ben harus menyisihkan separuh gajinya untuk membeli barang semacam itu. Betapa pun keras usahanya untuk mengembalikan kedudukan, hanya berdiri dan menelan ludah bukanlah sebuah jalan keluar.
Sedangkan isi brankas tersebut, barangkali diibaratkan seperti manusia yang sehat sentosa, namun, tiada hujan tiada petir menyambar, manusia itu lumpuh total. Artinya, kehilangan begitu banyak. Sampai-sampai isi perut bisa keluar semua jika menghadapi kenyataan itu. Dari kesimpulan kejadian tersebut, dua hal itu mempunyai makna yang cukup berpengaruh terhadap tujuannya, memang benar hanya beberapa persen kemungkinannya. Tetapi, entah jika kedua benda tersebut digabungkan dengan tekad seorang Ben yang dulu, akan menjadi suatu hal yang mungkin.
Andai dipikir-pikir, mengapa sebaiknya ia tidak menjadi pemiijat punggung kuda saja? Karena jasa itu sangat dibutuhkan. Atau paling tidak sekadar sebagai buruh pabrik di sektor manufaktur. Padahal pada awal-awal tahun sekarang, Jerman sedang mengalami puncak "keajaiban ekonomi" (Wirtschaftswunder), yang menyebabkan kekurangan tenaga kerja yang sangat besar. Akibatnya, negara ini membutuhkan banyak tenaga kerja, baik terampil maupun tidak terampil. Sehingga tak perlu menuntut keahlian khusus seperti apa yang dikerjakan oleh Ben sehari-hari.
Di dunia ini kalau digambarkan sebagai bidak catur diatas papan kotak-kotaknya, terdapat catur warna putih dan hitam. Seandainya catur putih adalah tempat orang-orang bebas memilih apa yang disuka, dan seandainya catur hitam adalah tempat khusus bagi orang-orang yang telah kehilangan pilihannya. Maka, bisa dipastikan dengan situasi Ben saat itu, Ben satu-satunya orang yang berdiri ditengah papan; tak ada yang dipihaknya, tak ada batas jarak yang akan menghalanginya, tak ada ruang waktu sebagai dasar penebus hasratnya. Dan tak ada pilihan lain.
Meski masa-masa sulit sudah sering menjadi bagian dari hidupnya, Ben pernah menuliskan sesuatu di halaman tengah jurnalnya. Ia menulis, bahwa ia telah kehilangan banyak waktu. Ia merasa ada masa yang seharusnya menunggunya, tetapi justru berlalu begitu saja. Ia seperti seseorang yang diam-diam ditinggalkan dari sebuah kapal yang masih berlayar. Namun di antara semua itu, ada satu hal yang membuatnya tetap berpikir. Ia tidak pernah benar-benar kehilangan orang-orang terdekatnya. Dan yang lebih penting, ia masih hidup.
Dan itulah kenyataannya. Sampai detik ini, hidupnya masih berjalan. Jiwanya masih mau melangkah, meski pelan. Kesempatan-kesempatan lain masih terbuka, seperti tambang yang belum sepenuhnya digali. Hari-hari dilalui sendiri, tapi bukan berarti baginya, selamanya akan seperti ini. Bergantung pada keyakinan, atau hati kecil, semata-mata tidak sepenuhnya dikatakan sebuah kesalahan minor, karena ada sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan logika, hanya bisa dirasakan, oleh hati yang murni.
Begitu pula Yossi Bennayoun, seperti pada kematian-kematian sebelumnya. Total, sudah delapan kali ia dipecundangi, dan menariknya, jumlah nya sama ketika ia memilih berdiri lagi, meski bersusah payah. Paling tidak ia berjalan dengan jalannya sendiri. Dan bukankah, untuk sementara, skor itu masih terbilang cukup adil baginya.
*
Pada hari liburnya, hampir seluruh waktu Ben dihabiskan di rumah. Ia menjaga apa yang ia anggap sebagai warisan paling bernilai. Pagi hari dimulai dengan rutinitas yang sama: menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri, menyeduh kopi, lalu memotong ikan tuna untuk Arthur. Ikan itu ia beli langsung dari tempat pelelangan di pelabuhan Südhafen, masih segar dan berbau laut. Rumah terasa hidup dengan cara seperti itu. Tidak banyak suara, hanya langkah-langkah kecil dan kegiatan yang berulang.
Pada Rabu siang, suasana itu sedikit berubah. Ben sedang duduk sambil membaca koran, dengan lagu dari The Grass Roots mengalun pelan di latar, Karl tiba-tiba datang. Pintu diketuk, lalu terbuka.
“Hey, Arthur Morgan,” bisik Karl sambil masuk, “sudah berapa korban yang kau rusak dengan cakarmu?”