Hari berjalan terasa melambat, jauh dari setelah mimpi-mimpi keram. Ben mengelilingi bumi sendirian, ditengah waktu yang memadat. Bangun dari kekacauan, pukul delapan pagi. Ia harus segera kembali melayani, melayani tamu-tamu yang berbagai macam keahlian, karakter, ras, dan kelamin. Sebenarnya, berat tidak berat beban tersebut, bagaimanapun tetap harus ia hadapi. Tujuh Oktober 1971, Berlin memasang wajah gembira, dalam sejarah Berlin timur (GDR) memperingati berdirinya negara. Sebagai hari republik (Tag der Republik) tentu masyarakat mendapatkan jatah libur nasional, namun tidak dengan Ben dan yang lain.
Hari besar itu membuat suasana di Dessler Bar benar-benar kacau. Sejak pagi hingga menjelang petang, tidak ada waktu senggang. Semua bawahan Alfred, termasuk Ben, terus bekerja tanpa henti. Tangan mereka bergerak cepat, menyiapkan pesanan demi pesanan. Tempat itu terasa penuh sesak. Pelanggan datang silih berganti, memesan minuman, duduk sebentar, lalu pergi. Namun arusnya tidak pernah berhenti. Setiap kali pintu baru saja tertutup, dalam hitungan detik pintu itu terbuka lagi oleh orang berikutnya yang masuk.
Suasananya terasa padat dan terus bergerak. Tidak ada jeda, tidak ada waktu untuk benar-benar berhenti. Semua berjalan cepat, hampir tanpa ruang untuk bernapas. Bagi Ben, ritme itu terasa seperti seseorang yang sedang menunggu di taman. Duduk diam, tapi setiap kali mendengar langkah kaki mendekat, ia langsung menoleh, berharap sesuatu datang. Bedanya, di sini, yang datang tidak pernah berhenti, dan ia tidak punya pilihan selain terus menghadapinya. Meski begitu, di tengah ramainya hari itu, mereka tetap menjalaninya dengan perasaan yang campur aduk. Antara gembira dan bingung.
Persediaan piring-piring, gelas, dan asbak. Menjadi hal yang tidak wajar, nampaknya mereka kehabisan benda-benda itu. Tidak ada satupun dari mereka yang merencakanan, kebimbangan dan keganjilan pada hari itu. Sebab, tidak ada hari sebelum-sebelumnya mereka dibuat kewalahan oleh hal semacam itu. Kendati pun, di hari sebesar nan bersejarah itu, pun menjadi petama kalinya dalam sebuah sejarah bagi Dessler, mengenai masalah ketersediaan barang. Bahkan Alfred sendiri, sampai-sampai turun tangan untuk membantu mereka, tetapi masalah bukan hanya datang dari satu arah saja.
Serangan tidak datang dari satu arah, melainkan dua arah saling berlawanan. Arah yang pertama, orang asing dari luar maupun dari dalam Berlin sendiri, yang berkunjung. Dan arah kedua yang berlawanan, orang yang memang sering berkunjung kesana, hampir empat kali dalam sepekan atau setiap hari. Mereka adalah orang yang juga kenal dan cukup dekat dengan para pekerjanya. Kebanyakan dari mereka yang akrab dengan pemilik Bar dan pekerjanya, adalah perempuan, salah satunya bernama Magda Goebbels. Perempuan itu hampir lima kali datang dalam sepekan, pribadi yang tidak banyak diam dan cukup royal untuk masalah dirinya sendiri.
Dari betis hingga pinggulnya, tubuhnya terlihat berisi dan terawat. Wajahnya kerap menampilkan sisi paling menarik dari dirinya. Alami, tanpa dibuat-buat. Kesan itu semakin kuat dengan hidungnya yang mancung dan potongan rambut bob yang rapi. Usianya tiga puluh dua tahun. Di Dessler, para barman biasa memanggilnya dengan sebutan “Madam”, Madam Magda. Panggilan itu sudah melekat, seolah menjadi bagian dari dirinya di tempat itu. Namun, meski sering dipanggil demikian, Magda sendiri tidak terlalu menyukainya. Ia tidak pernah benar-benar menjelaskan alasannya. Terutama kepada Ben, orang yang pertama kali memanggilnya dengan sebutan itu.
Awalnya perempuan itu tidak suka kepada Ben, ia selalu dapat menemukan sesuatu yang tidak dapat disetujui pada diri Ben, baginya; Ben selalu melakukan kesalahan, Ben membuat jengkel dirinya, di setiap langkahnya. Kalau hidup bisa disayat menjadi kepingan-kepingan kecil dan setiap kepingan dapat dinilai secara terpisah, maka setiap kepingan hidup Ben tentu merupakan kejahatan baginya. Mungkin saja semua yang ada pada diri Ben dianggap menghina kecantikannya, rasa keadilannya, kebiasaannya, tradisinya, harapannya, dan ada begitu banyak sifat yang tidak sesuai.
Namun, mengapa ia bisa merasa begitu jengkel? Sulit dijelaskan. Tidak ada hubungan apa pun antara dirinya dan Ben. Alam semesta ini selalu saja punya selera humor yang aneh. Segalanya sering dimulai dari hal yang sederhana, dari tatapan. Dari sana, sesuatu bisa tumbuh. Kadang berupa ketertarikan, kadang justru kebencian, meski yang terakhir itu jarang terjadi. Pada akhirnya, semua bergantung pada bagaimana mereka menanggapinya, memadamkan perasaan itu, atau justru membiarkannya terbakar, lalu membesar.
Jika seseorang seperti Ben bergerak lebih cepat, mungkin arah ceritanya akan berbeda. Namun ia justru memilih jalan lain, menjaga jarak, bahkan dari kemungkinan yang bisa mengubahnya. Dalam dirinya, ada semacam keangkuhan yang tenang, keinginan untuk tetap berdiri sendiri, menolak kehilangan, sekaligus menantang rasa keterasingan, meski ada orang lain di dekatnya. Di titik ini, semuanya terasa ganjil. Dari begitu banyak kehancuran yang pernah ia hadapi, ia tetap memilih berjalan sendirian.
Melihatnya, seperti seorang kapten bajak laut yang enggan memiliki satu pun awak kapal di kapalnya sendiri. Namun masih berani berdiri melawan makhluk seperti kraken. Keputusan itu tidak selalu masuk akal. Namun, itulah cara Ben bertahan. Itulah faktanya, yang perlu orang lain tahu. Menurut aturan kata hatinya saat ini, segala sesuatu tidak selamanya harus diatasi bersama-sama, ada yang memang harus dilakukan seorang diri. Dan ada juga yang hanya dibiarkan sampai benar-benar membusuk sendiri.
Lebih terdengar seperti menelan racun buatan sendiri. Dengan begitu, sisanya dibiarkan saja, sampai impian diperas hingga mengeluarkan rasa pahit. Apakah sebuah kejahatan yang memang direncakan untuk menyiksa dirinya, atau sekadar sebatas siasat agar dirinya fokus terhadap hal lain? Entah, karena hingga detik ini, tak ada seseorang pun dapat memahaminya. Bahkan rumput laut sekalipun. Beberapa kejadian pada hari itu, hingga menjelang sore. Ben, Leon, dan Dave baru sempat mendapat giliran makan siang.
Mereka bertiga, mencari jalan keluar dari hiruk-pikuk Berlin yang kian memadat kian melambat. Sampai pada akhirnya mereka kembali pada pukul empat sore, namun situasi tak sesuai harapan mereka, rupanya tamu-tamu makin berlagak gila. Bukan malah membaik, justru semakin pecah. Tak ada ruang bagi mereka bertiga untuk segera menyeselaikan pekerjaan. Tetapi sebaliknya, mereka bertiga diminta untuk lembur, membantu Wilhelm, Karl dan Alfred. Ya, mereka bertiga hanya pasrah, melihat tekanan dari segala arah.
Bersimpati saja tidak cukup, tetapi perlu menundukkan ego dan kepentingan pribadi atau semacamnya, dan merapatkan barisan lagi untuk bersiap menghadapi gempuran berikutnya. Sesuatu terus bergulir diatas langit Dessler, dan lalu berhenti tepat diatas kepala mereka, seperti semacam pecahan logam. Yang pecah dikepala, mengganggu dan membanjiri sekeras molekul atom. Barangkali itu adalah unek-unek mereka, barangkali batu amarah yang mengendap, atau barangkali ketidakberdayaan impulsif. Tidak ada yang meminta mereka untuk bersikap profesional, tetapi bisikan angin lah yang diam-diam menegakkan kepala mereka.
Malam tiba, jaraknya terasa seperti dua botol champagne dari siang yang panjang. Tidak ada masalah baru yang benar-benar muncul. Hanya saja, para pelanggan yang biasa datang di jam seperti ini kembali berdatangan, sementara tenaga orang-orang di dalam bar sudah hampir habis, termasuk Ben. Mereka, Magda Goebbels dan satu perempuan manis lagi, Ada Wong. Saat mereka masuk, suasana seketika berubah. Ben dan yang lainnya seperti robot anjing yang kehabisan baterai, lengah sedikit mereka bisa disalahkan.
Ada Wong sungguh berbeda. Dari kejauhan, ia sudah tersenyum. Senyumnya selebar sepuluh mil, namun mematikan, setajam peluru dari sebuah senapan. Lebar, hampir berlebihan. Di saat yang sama, seperti sesuatu yang indah, tapi berbahaya jika didekati tanpa hati-hati. Kedatangannya membuat jantung Ben berdetak dengan cara yang aneh. Tidak terlalu cepat, tidak pula kacau. Justru stabil, namun terasa jelas, seolah setiap detaknya ingin mengingatkan bahwa ada sesuatu yang berubah, meski ia belum sepenuhnya mengerti apa. Ia datang bukan dengan langkah pelan, melainkan penuh dengan aura mematikan.
Biasanya langit telah menyediakan tempat untuknya sementara, namun tempat itu jauh dari kata sederhana, ia nyata dan kadang ia seperti utopia, yang pasti, tempat itu tak pernah lenyap walau dibiarkan dimakan kumbang. Ada, kalau tidak salah bola mata itu terlalu sipit, potongan rambutnya juga hanya sepanjang telinga, semacam, seseorang sengaja tidak ingin menyembunyikan identitas aslinya kalau dia berasal dari mana. Suara itu ringan dan halus, tapi meski begitu suara itu tersangkut ditelinga siapapun; yang berarti, tidak ada makna ganda, tidak ada angka, tidak ada gambar, hanya kosong belaka.
Siapakah langit yang dimaksud disitu? Ya benar, Ben. Namun, Ben bukan berarti menyukainya. Ia cukup mengaguminya, barangkali karena Ada memiliki wajah oriental, Ben kagum. Masalahnya tidak banyak perempuan di Berlin yang memakai wajah itu. Seperti biasa, mereka sudah tahu apa yang ingin dipesan perempuan itu. Kali ini kebetulan Ben yang membuatkan minumannya. Setiap pelanggan yang mencatat kunjungan lebih dari lima kali dalam sepekan, maka tak perlu lagi barman-barman disini, berbasa-basi untuk menanyakan pesanan. Karena, tipikal pelanggan disini kebanyakan tidak ingin membuang waktunya.
Bukan berarti mereka arogan, tapi pikiran dan waktu mereka tidak ingin terbagi dua. Oleh karena itu Ben bergegas meracik, tak ada yang lebih, tak ada yang kurang. Tepat tiga menit ia duduk, negroninya jadi. Ben langsung menghidangkan di depannya.
“Cepat seperti biasa,” pandangannya lurus. Tapi bola matanya menjuling ke arah Ben, dan bibirnya membentang horizontal.
Ben mengangkat jari telunjuk dan tengah bersamaan dan kemudian ditempel ke pelipisnya. Seakan ia melakukan penghormatan kepada seorang yang memiliki pangkat lebih tinggi darinya.
“Silahkan. Selamat mencicipi,” Ben membalik badannya.
Lalu Ada mengangkat gelas dan menghirup aromanya, seolah mereka sedang bermain kontes memasak, dan tiba ke tahap penilaian.
“Tapi, tunggu dulu. Kita lihat, apa ini seperti biasanya,” ujar Ada, seperti menekan tombol jeda waktu, dan Ben sejenak terdiam.
Ben hanya menatap, setelah bibir Ada basah. Ia tersenyum dan mengangguk kecil. Tanda Ben lolos dari penilaiannya, lalu Ben kembali memutar badannya dan kembali ke dalam bar.
“Apa dia memujimu lagi?” tanya Leon.
Ben melipat kedua tangannya di atas perut, bahunya sedikit terangkat.
“Entahlah. Dia tetap saja begitu. Tidak berubah, bahkan kalau besok alien menyerbu tempat ini.”
Leon berdeham pelan.
“Kau butuh istirahat. Gayamu seperti Johann Wolfgang, tapi lebih kaku.”
Ia menepuk pundak Ben, lalu pergi.
Tak lama kemudian, Karl yang sejak tadi sibuk akhirnya mendekat.
“Pekerjaanmu sudah selesai, kan, Ben?” tanyanya.
Tanpa menunggu jawaban, Karl merangkulnya.
“Ayo keluar sebentar. Aku ingin merokok.”
Ben menghela napas pendek.
“Terus terang, aku sudah lelah. Tapi karena kau yang mengajak… ya sudah, ayo.”
Mereka berjalan keluar, ke belakang. Di sana, Leon sudah lebih dulu duduk bersila.
“Apa di dalam sudah tenang, Karl?” tanya Leon.
“Sudah. Itu sebabnya aku keluar sebentar.”
Leon menoleh ke Ben.
“Kau belum pulang? Kita dari pagi di sini. Apa kau tidak lelah?”
“Mungkin setelah ini,” jawab Ben sambil mengambil pemantik dari tangan Leon. “Kau sendiri kenapa belum pulang?”
Leon tersenyum tipis.
“Entah. Kurasa aku tiba-tiba lupa jalan pulang.”
Mereka bertiga tertawa.
Di bawah bulan yang menggantung tenang di atas kepala, percakapan mereka perlahan mereda. Hening yang tersisa terasa ringan, hampir seperti sesuatu yang ikut bernapas bersama mereka. Namun di tengah ketenangan itu, Ben merasakan getaran lagi di tangannya, kali ini sedikit lebih cepat.
Karl yang pertama menyadari.
“Tanganmu, Ben. Lagi-lagi.”
Leon langsung menoleh.
“Kau tremor, Ben?”
Ben terlihat tenang.