Herbst di Berlin mencapai 5°C hingga 15°C, dan hari-hari menjadi lebih pendek. Musim gugur di Jerman dimulai sejak bulan September hingga November. Di luar, seseorang akan mengalami kebingungan antara memakai jaket tebal atau cukup memakai syal rajut. Dingin itu tidak menusuk, atau bisa dikatakan sejuk, yang berarti, orang tidak waras pun tahu seandainya keluar telanjang bulat, badannya akan sedikit menggigil. Lebih seperti, batang kemaluan seseorang akan sedikit mengkerut di hantam angin yang jumlahnya mencapai ribuan. Coba bayangkan. 15°C itu suhu yang nyaman dan sejuk.
Suhu tersebut sangat ideal untuk berbagai aktivitas luar ruangan; jalan cepat, bersepeda, menggali makam dengan sendok teh, atau bahkan hanya duduk di bangku taman sambil membaca buku tanpa merasa kepanasan atau kedinginan sampai ke tulang. Hari-hari berjalan konstan, tekanan demi tekanan, pikiran sebelumnya serba kalut, perlahan-lahan menjadi ringan. Yossi Bennayoun menenteng beban kecil setelah tiga hari kemudian pulang dari Cornerstone. Tetapi demikian, hingga detik ini ia belum dapat menyerap maknanya.
Barangkali mungkin karena distraksi dari hal-hal rutinitas sehingga bebannya seolah-olah hilang, atau mungkin, penyebabnya terlalu rumit jika ia dituntut harus fokus terhadap satu hal. Selalu ada kata, ah menyebalkan, yang keluar dari hatinya. Selalu tidak terpenuhi. Dan entah mengapa rasanya seperti mencari sebuah petunjuk kasus pembunuhan di mata orang yang sudah mati. Di hari keenam, ketika kebingungan belum juga menemukan ujungnya, Yossi Bennayoun berdiri di balik bar seperti bayangan yang lupa pada tubuhnya sendiri.
Lampu-lampu menggantung nyala setengah terang, memantul di botol-botol kaca seperti sisa-sisa doa yang telah ditinggalkan. Ia melamun, tetapi itu bukan sekadar pikiran yang melayang. Sesuatu yang lebih dalam tampak ikut terbakar bersamanya. Jiwanya terlihat kontras, seperti kain yang terlalu lama direndam semalaman, lalu dijemur di bawah matahari yang tidak pernah benar-benar terbit. Matanya terbuka, namun tidak melihat; napasnya ada, namun terdengar seperti milik orang lain yang sedang sekarat di dalam dirinya. Di sana, di balik bar itu, ia tidak benar-benar berdiri. Ia hanya tertinggal, dari waktu yang menjauhinya.
Karl yang melihat dirinya, meminjam sedikit kata-katanya.
“Ben, kalau kau lelah, kau bisa kebelakang. Biar aku yang gantikan.”
Ben tidak menggubris, ia masih tidak menyadari seseorang menyelinap ke dalam lamunannya. Kemudian Karl menyentil pelan telinganya, tubuh Ben akhirnya tegak kembali, tapi penuh kegamangan.
“Kenapa Karl,” tanya Ben.
“Kau ini sedang apa, kau tampak tidak baik-baik saja,” Karl memasukkan tangannya ke kantong jins.
“Apakah aku perlu menceritakan,” Ben mendengkur,
“Ya, sebaiknya,” Karl membusungkan dadanya.
Satu jam setelah kedatangan Dave dan Wilhelm menggantikan posisi mereka, giliran Karl dan Ben keluar makan siang.
Diatas matahari yang mencolok, mereka berjalan masuk ke jalan kecil yang penuh gerai makanan sederhana. Di gerai makan brahaus, hidangan penuh sosis dan daging-dagingan, mereka duduk bersama empat orang. Sambil menunggu makanan diantar ke meja mereka, Ben mengunci rokok di bibirnya, lalu di sulut oleh Karl. Dan Karl menyalin gerakan Ben. Agar tidak terdengar oleh orang di sebelah mereka Ben mengeluarkan suara pelan.
“Begini. Sebelumnya kukatakan kepadamu terlebih dahulu. Aku sudah mendatangi tempat yang Leon sarankan. Dan, sampai hari ini aku belum menemukan apa yang seharusnya aku lakukan.”
Tepat kata-kata terakhir keluar, makanan mereka datang, Karl mematikan rokok, lalu di ikuti Ben.
“Bagaimana ya bilangnya,” Ben melanjutkan,
“Yossi Bennayoun di hadapanmu sekarang, sejak pulang dari sana, bisa dikatakan membaik, bisa juga di katakan semakin keruh. Aku tidak menyangka, masalah baru malah bertumpuk di satu titik yang sama, aku pikir akan berakhir dan selesai di sana. Ternyata tidak semudah itu, ternyata masih ada tahap selanjutnya untuk keluar dari segitiga bermuda,” ujar Ben sambil melihat makanannya sendiri.
Sementara Karl mengunyah sambil mengangguk berkali-kali.
“Aku tidak yakin ini bisa berjalan dengan mudah, rasanya seperti aku di paksa berenang ke tepian di lautan dingin,”
“Setelah sampai di tepi pantai, perutku kram. Perutku seolah berkata kepadaku, ia perlu mencari buah-buahan atau berburu kelinci untuk menunda lapar, atau setidaknya duduklah sebentar agar kramnya hilang,” Ben mengangkat garpu dan pisau.
Sejenak ia berhenti berbicara. Seakan ia sadar tujuan ia bersama Karl kesini untuk apa. Dan makanan Karl tersisa sedikit, sangat sedikit. Hingga dia mengelap mulutnya dengan selembar kain, lalu meletakkannya kembali.
“Maaf, aku tidak bermaksud menyela semuanya,” Karl menggeser piringnya,
“tetapi kau lupa menceritakan detailnya dari awal.”
Ben baru menyadari, ia menghilangkan sendiri potongan ceritanya, sehingga Karl di paksa menelan mentah-mentah ceritanya.
“Kau tahu gambarannya seperti apa?” Karl menyulut rokoknya kembali,
“Seperti aku dan kau masuk bersama ke sebuah museum, tetapi saat aku sedang menikmati lukisan yang indah, kau justru pergi dan meninggalkanku sendirian di dalamnya.”
Lalu Ben merintih tertawa, dan meminta maaf.
“Karl, kedatanganku kesana awalnya berjalan baik. Aku berkata jujur, hingga di pertengahan aku merasa tidak ada yang salah. Tetapi di akhir justru aku tidak mengerti yang di katakannya, aku di berikan benda ini.”
Ben mengeluarkan sepatu kuda yang di berikan Millena.
“Kalau kau jadi aku, kau pun akan bereaksi sama sepertiku.”
Karl mengangguk.
“Untuk apa benda ini, kataku kepadanya. Tetapi dia hanya mengatakan, jika aku mengalami hal serupa, seperti dejavu atau tremor, aku harus melihat benda bodoh ini. Betapa konyolnya. Ketika aku merasa, sesuatu akan memegang kendali pikiranku, ingat baik-baik lagi benda ini. Kau mengerti maksudku Karl?” nada bicara Ben menjadi tinggi sehingga orang di sampingnya menoleh kearahnya.
Karl mengangguk sekali. Sedangkan Ben nampaknya kehabisan kata-kata, lalu ia menggeleng-geleng.
“Sepatu kuda, sepatu kuda, sepatu kuda.” Karl mengucap sebanyak tiga kali, seolah ia ikut merasakan apa yang Ben rasakan, dan menderita hal sama.
“Andai saja dibukakan sedikit petunjuk, mungkin aku atau kau bisa memecahkan maksud di balik itu, dan aku yakin pasti dia mengatakan yang bisa mengetahui hanya dirimu sendiri, benarkan?” Karl menopang dagunya.
Ben menjawab, “ya semacam itu. Dan dia bilang, kalau aku mengalami kebuntuan, aku disuruh kembali lagi kesana.”
“Berapa lama waktu yang di berikan, untuk mengetahui hasil dari tebak-tebakan ini?” Karl mematikan rokoknya.
“Sepekan,” Ben mengeluarkan asap dari hidungnya, “dan sudah berjalan enam hari.”
Lalu Ben mengikuti gerakan Karl.
“Hal yang bisa kukatakan kepadamu, sebaiknya kau kembali lagi kesana setelah waktunya tiba,” kata Karl sambil berdiri.
Seakan ia mengajak Ben kembali ke Dessler, dan Ben meniru gerakan Karl. Mereka membayar lalu pergi dari tempat itu. Sepanjang perjalan mereka kembali, orang-orang di sekitar berjalan tergesa-gesa, Ben dan Karl saling melirik satu sama lain. Langkah-langkah itu terasa asing, mengingat jam seperti ini bukan salah satu jam sibuk di jalanan Berlin siang hari begini. Namun langkah Ben dan Karl tetap mementingkan ritmenya sendiri, meski gravitasi di sekitar mereka berubah.
Pada akhirnya, langkah mereka tetap akan menyentuh satu jam hingga mereka kembali. Dan tidak melebihi waktu yang telah diberikan Alfred terkait waktu istirahat. Saat-saat mendekati malam, suasana berubah dingin, angin berteriak sekencang-sekencangnya dari timur. Tepat setelah matahari terbenam. Pelanggan-pelanggan istimewa berdatangan, satu per satu. Magda Goebbels datang mengenakan Dirndl atau gaun wanita tradisional Jerman, berwarna coklat. malam itu ia terlihat sensual dengan tambahan haube putih di atas rambutnya.
Lalu tiga puluh menit kemudian, Ada Wong dan satu laki-laki bernama Oliver datang dalam waktu yang berjarak sedikit. Namun sayangnya, Ben telah selesai dengan pekerjaannya. Dave dan Wilhelm mengambil alih tugas sepenuhnya. Alih-alih ingin beristirahat sejenak, saat Ben dan Karl berjalan menuju pintu belakang untuk memberi jeda pada tubuh mereka, Ben justru dipanggil oleh Wilhelm. Ia mengatakan bahwa seseorang ingin dibuatkan minuman, dan orang itu secara khusus meminta Ben yang membuatnya.
Seseorang yang dimaksud adalah Ada. Sejak kedatangannya, ia belum dilayani sama sekali dan bahkan tidak memesan sendiri. Mendengar itu, Ben tidak mengerti apa yang sebenarnya orang itu pikirkan. Air muka Ben mudah ditebak oleh Dave, Wilhelm, dan termasuk Karl, ia tampak bingung sekaligus lelah. Namun Karl mengelus punggung Ben, seolah mengingatkannya bahwa dorongan moral bisa datang kapan saja, bahkan di saat tubuh dan pikirannya sama-sama ingin berhenti. Bagaimanapun juga, di tengah kelelahan atau kekacauan yang dialami seseorang, selalu ada orang lain yang menuntut kesempurnaan.
Begitulah hidup sebagai pencari matahari. Ben pun kembali ke posisinya. Ia mengambil gelas, memeras limun ke dalam shaker stainless steel, lalu memasukkan es batu. Ketika hendak meraih penutup shaker, tiba-tiba tremor di tangannya muncul. Namun, alih-alih menghentikan gerakannya, ia justru memaksakan diri menutup shaker tersebut dan mencoba mengocoknya. Akibatnya, air perasan limun menyembur keluar dan mengenai kemeja serta suspender yang dikenakannya.
Dave melihatnya, “Kau kenapa Ben?”
“Tidak apa-apa,” jawab Ben.
Ben tidak terlalu memikirkannya, ia sempat menatap jari-jarinya sejenak. Rupanya tidak begitu buruk, namun pekerjaannya berantakan. Jadi, ia harus mengulangnya dari awal. Setelah selesai, minuman itu diantar olehnya. Saat langkah Ben mengarah ke Ada yang sedang merokok, Ada tersenyum tipis. Ben tidak menggubris, tetapi ia justru. Menatap beberapa detik mata perempuan itu, tidak tajam, tidak ada ambigu. Tetapi sinyal itu diterima langsung oleh Ada sendiri.
“Kau terlihat lelah, nampaknya,” kata Ada saat meraih gelas,
“maafkan aku, karena memakai cara itu di saat suasana hatimu tidak bagus.”
Ada membuang pandangannya kesamping.
“Tidak apa-apa, tidak perlu meminta maaf. Sudah menjadi tugasku.” Akhirnya Ben tersenyum.
Dan Ben pamit ke Ada, lalu Ada berterima kasih. Sebenarnya, dalam hatinya. Yang dikhawatirkan Ben bukan kejadian canggung itu, melainkan kejadian barusan, saat ia sedang menuang es batu. Perasaan itu masih tertinggal di benaknya. Semacam ucapan selamat tinggal dari orang yang sudah tidak ingat namanya. Ben segera menyusul Karl. Di belakang, Karl sudah selesai mengabiskan dua batang rokoknya. Tetapi Karl terlihat seperti sedang menanti seseorang membawakan berita bahagia kepadanya. Ben keluar sambil menekan-nekan pelipisnya.
Senyum karl gugur dikit demi sedikit, karena melihat perilaku Ben, lalu Ben duduk di sebelah Karl.
“Hmm…kukira kau akan dengan senang hati melayaninya,” Karl menyelipkan rokok di bibir Ben, kemudian menyulutnya.
“Karl…,” ucapannya berhenti tiba-tiba, “entah kenapa, perasaan itu muncul lagi. Tadi di dalam kepalaku. Sangat- sangat samar. Tapi. Getaran di tanganku, tidak seperti biasanya, ia lebih ringan dan singkat,” seketika Ben menjentikkan jarinya.
“Oh iya, benda bodoh itu, ” lalu Ben segera mengeluarkan dari sakunya.
Ia mengamati dalam-dalam, tapi bibirnya enggan bergerak. Akibat memasang wajah aneh. Di hadapan Karl, ia menjadi terlihat bodoh, menunduk dan mengusap pelan-pelan benda itu.
Karl menjulurkan kakinya, “Coba kau ceritakan detail kejadian tadi.”
Ben menoleh pelan.
“Aku tidak tahu persis, Karl.”
Ia menarik napas sebentar, seperti mencoba merangkai ulang kejadian itu di kepalanya.
“Aku yakin sekali, tidak ada sesuatu yang memicunya.”
Ben berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah.
“Seperti yang lain melakukannya. Sesuai tata cara, aku memeras limun, dan ketika aku ingin menuang es batu ke dalam shaker… pandanganku terpisah menjadi dua. Setengah berpendar, setengahnya lagi mengambang, seperti benang tipis yang dibuang pada malam hari.”
Ia menatap tangannya sendiri, seperti memastikan semuanya masih di tempatnya.
“Di saat itu juga, getaran itu menyusul. Sedikit lebih tenang dari biasanya, tapi… pandanganku kembali normal.”
“Tetapi getaran itu berhenti, tepat ketika aku sadar bahwa aku harus berhati-hati dalam membuat pesanan itu,” lanjut Ben.
“Sebab dampaknya bisa jauh lebih berbahaya, bahkan jika kesalahannya sangat kecil… dan bisa membuat orang itu tidak puas.”
“Ben, ah…, aku tidak berani menyimpulkannya. Takut bukan itu jawabannya, nanti justru kau malah salah menduga,” Karl menggeleng dan menampik ucapannya.
“Lalu setelah itu apalagi?” Karl menyibak rambutnya.
“Aku berjalan ke arah Ada, yang kulihat, ia sedikit tersenyum. Tapi aku tidak bereaksi. Dia meminta maaf, karena harus memakai cara seperti itu agar minumannya dibuatkan olehku. Aku bilang, tidak apa-apa, sambil tersenyum, Lalu aku menghampiri kau disini.”
Ben memiringkan kepalanya ke kanan, “Tapi anehnya,”
“pada saat aku membuat minumannya dan tremor itu muncul, aku justru tidak mempedulikan dan tidak sama sekali terpikir pada benda ini. Tapi setelah berjalan meninggalkan Ada, sebaliknya. Aku tidak memikirkan kecanggungan dengannya, tapi justru perasaan tadi yang datang. Ya, aku yakin. Perasaan itu jadi pikiran yang tertinggal.”
Karl mematikan rokoknya, “Besok kau libur?”
“Tentu,” jawab Ben.
“Mungkin sudah waktunya kau kembali kesana,” ujar Karl,
“Kurasa juga begitu.”
Sekitar pukul tujuh malam, Ben dan Karl bersiap untuk pulang. Ini menjadi bukti jika keduanya sepakat, tubuh mereka tak lagi dapat menampung apapun lagi, misal. Alfred datang kepada mereka, meminta mereka untuk menambah jamnya karena alasannya, tiba-tiba wajah-wajah tanpa nama berduyun-duyun memasuki bar miliknya. Mungkin Ben dan Karl akan menolaknya. Bukan dengan suara keras atau gebrakan tangan di atas meja, justru dengan kalimat sederhana yang terdengar masuk akal. Mereka akan menyebutkan alasan-alasan yang rapi.
Dan Ben mungkin akan menatap ke luar jendela lebih dulu sebelum berbicara, seolah jawaban itu melayang di antara kabel listrik dan langit malam yang kelabu. Karl akan mengangguk pelan, menambahkan satu atau dua alasan yang terdengar praktis, tentang waktu yang tidak tepat, tentang hal-hal yang perlu dipertimbangkan. Namun di balik ketegasan itu, ada sesuatu yang tidak mereka ucapkan. Sesuatu yang tipis dan hampir tak terlihat, bahwasannya hari mereka sudah selesai dan ingin tubuh-tubuh mereka mengangkasa di antara nebula.