Lima hari setelah Ben dari rumah Diandra. Yossi Bennayoun seperti terikat kontrak mustahil, tapi pada dasarnya, kontrak itu tidak disetujui oleh siapa pun, dan menurutnya itu bukan ide yang buruk. Ia berpikir mungkin salah seorang temannya harus mendengar ceritanya, karena hingga detik ini petemuannya dengan perempuan itu masih belum diketahui siapa pun kecuali dirinya sendiri. Awalnya ia tidak pernah menyangka bahwa pertemuan itu akan mengubah arah hidupnya secara perlahan.
Segalanya tampak biasa pada hari itu, hanya percakapan singkat, tatapan yang tidak terlalu lama, dan sebuah perasaan yang sulit dijelaskan. Namun sejak saat itu, sesuatu di dalam dirinya mulai bergeser. Empat Hari setelahnya menjadi lebih sunyi dari biasanya. Ia mulai menarik diri dari dunia yang dulu terasa akrab. Di tempat kerja bahkan, ia berbicara seperlunya saja, percakapan dengan orang lain terasa terlalu berat untuk dijalani. Entah teman-temannya mungkin menyadari perubahan itu atau tidak, tetapi tidak ada yang benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.
Di rumah, keheningan menjadi teman yang paling sering menemaninya. Ia lebih banyak menghabiskan waktu sendirian, duduk tanpa tujuan yang jelas, membiarkan pikirannya kembali pada pertemuan yang sama berulang kali. Seolah-olah sejak hari itu, sebagian dari dirinya tertinggal di sana. Perlahan, tanpa ia sadari, dunia di sekelilingnya terasa semakin jauh dan terasingkan. Bukan karena dunia itu berubah, mungkin karena ia sendiri yang mulai menutup jendela satu per satu, hingga akhirnya yang tersisa hanyalah dirinya, dan ingatan tentang sebuah pertemuan yang tidak pernah ia duga akan memenjarakannya seperti ini.
Tapi, dititik ini, perasaan aneh berbisik kepada dirinya, perlu ada seseorang untuk membuatnya terbangun dari ingatannya. Setelah dipikirkan kembali, mungkin Ben tidak benar-benar membutuhkan nasihat atau penjelasan apa pun. Barangkali yang ia perlukan hanya seseorang yang bersedia duduk diam di hadapannya dan mendengarkan ceritanya. Bagi Ben, itu saja sudah lebih dari cukup. Selama ia menutup dirinya dari dunia di luar, kebiasaannya perlahan berubah. Ia mulai lebih sering minum alkohol dari biasanya dan menghabiskan banyak makanan ringan.
Tanpa benar-benar ia sadari, berat badannya naik sekitar lima kilogram. Yossi Benayoun hampir tidak lagi memiliki ruang untuk bersosialisasi. Pikirannya terus kembali pada satu hal yang sama, perempuan yang pernah ia temui itu. Seakan, di tengah hari-hari yang berjalan melambat, hanya ingatan tentang perempuan itu yang masih bergerak di kepalanya. Pernah ketika ia mencoba membicarakan tentang perempuan itu kepada Karl, ia menarik lagi ucapannya, seperti ia tidak ingin menyinggung soal itu, hingga waktu benar-benar tepat. Ia rasa ini soal pemilihan waktu.
Dan memang ia berpikir, akan menceritakan suatu saat di waktu yang tepat kepada temannya. Selama dua Minggu, ia memendam perasaan ittu. Rupanya, Yossi Bennayoun, keadaan itu terasa cukup menyiksa. Di kepalanya terus muncul pertanyaan yang sama: kapan waktu yang tepat untuk membicarakan semua ini? Siang itu di Dessler terasa damai seperti biasanya. Leon, Ben, dan Alfred yang duduk di kursi favoritnya. Suasana seperti itu sudah lama tidak dirasakan Ben. Ketika tidak ada pekerjaan atau tamu yang datang, mereka menghabiskan waktu dengan bersenda gurau, seperti orang-orang pada umumnya.
Alfred dan Ben mendengarkan cerita Leon tentang masa-masa kenakalan yang ia perbuat saat remaja, dan untuk sesaat, semuanya terasa mewarnai hari Ben. Suatu ketika, Leon berkenalan dengan seorang perempuan kaya. Pada pertemuan pertama mereka, perempuan itu langsung mengundangnya untuk datang ke rumahnya. Ketika Leon tiba di rumah tersebut, ia melihat bahwa penghuni di dalamnya hanya sedikit; perempuan itu sendiri, seorang kakek tua, dan seorang anak kecil. Saat Leon melangkah masuk ke ruang tamu, ia melihat kakek itu sedang duduk di kursi goyangnya.
Leon sempat melirik Alfred sejenak sebelum melanjutkan ceritanya. Kakek tersebut tampak tenang sambil memperhatikan seorang anak kecil yang berdiri di dekat cerobong asap. Anak itu sedang mengayunkan pedang mainannya dengan penuh semangat, seolah sedang berlatih bertarung. Namun Leon merasa canggung jika harus berbincang dengan perempuan itu di depan kakek dan anak kecil tersebut. Ia pun mengatakan bahwa mungkin akan lebih nyaman jika mereka berbicara di tempat yang lebih tenang. Perempuan itu setuju dan mengusulkan sebuah tempat.
Akhirnya, mereka berdua melanjutkan percakapan di kamar perempuan itu. Selama lima menit pertama, percakapan mereka berlangsung seperti biasa. Mereka saling menceritakan latar belakang masing-masing; tentang kehidupan Leon, tentang perempuan itu, dan juga kesibukan yang mereka jalani sehari-hari. Selang beberapa menit kemudian, suasana berubah. Leon perlahan mendekat, lalu menarik wajah perempuan itu hingga bibir mereka saling bersentuhan. Kemudian tangan Leon mulai bergerak perlahan, menyentuh gaun kuning yang dikenakan perempuan itu.
Sentuhannya semakin berani, hingga akhirnya tangannya masuk ke balik pakaian tersebut. Perempuan itu tidak menolak, justru ia menuntun tangan Leon dengan lembut menuju bagian tubuhnya yang lebih intim. Tak lama kemudian, jarak di antara mereka semakin dekat. Pakaian yang tadinya membatasi tubuh mereka perlahan terlepas. Dalam suasana yang penuh dorongan dan tergesa, Leon tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Namun entah harus disebut sial atau malang, bagi Leon saat itu, keduanya terasa sama saja.
Tubuh mereka berdua masih tertutup selimut ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka. Seorang anak kecil masuk sambil membawa pedang di tangannya. Rupanya pintu itu tidak terkunci. Anak itu berjalan mendekat tanpa ragu. Dengan langkah kecil, ia menghampiri tempat tidur mereka. Lalu, tanpa berkata apa pun, ia mengayunkan pedang itu ke arah salah satu tubuh bagian atas yang tertutup selimut. Aww…, Leon berteriak, dan akhirnya Leon mengenakan pakaiannya dan segera turun ke bawah, lalu pergi dari situ.
Ben tertawa pelan, sedangkan Alfred tersenyum sambil menggelengkan kepala. Leon kemudian berbicara terus terang kepada mereka. Ia mengatakan bahwa sejak kejadian itu, ia tidak pernah lagi bertemu dengan perempuan tersebut. Beberapa saat kemudian, Ben tiba-tiba mengajukan sebuah pertanyaan. Ia menatap Leon dan bertanya, jika suatu hari nanti Leon bertemu lagi dengan perempuan itu, apa yang ingin ia katakan.
Leon terdiam sejenak, berpikir.
“Entahlah,” katanya.
“Mungkin hal pertama yang akan aku ucapkan hanya maaf. Maaf atas kejadian waktu itu. Lalu maaf lagi… karena aku menghilang. Padahal itu bukan sesuatu yang sengaja kulakukan.”
Tanpa memberi jeda, Alfred langsung menyampaikan sarannya kepada Leon. Ia berbicara dengan tenang, tetapi jelas. Menurutnya, akan lebih baik jika Leon menemui perempuan itu secara langsung. Bukan untuk mengulang apa yang sudah terjadi, tetapi untuk menyelesaikannya agar tidak ada beban yang terus tertinggal. Alfred menduga, bisa saja mereka berdua sebenarnya sudah melupakan kejadian itu. Bahkan, mungkin perempuan itu tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai masalah. Jika dilihat secara bersamaan, tidak ada pihak yang benar-benar dirugikan. Lagi pula, peristiwa itu bukan sesuatu yang tabu.
Namun setelah mengatakan itu, nada suara Alfred berubah. Lebih pelan, tapi terasa lebih dalam. Ia menambahkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar tahu isi hati orang lain. Sesuatu yang tampak sepele bagi satu orang, bisa saja menjadi luka bagi orang lain terutama jika itu berkaitan dengan masa lalu yang belum tuntas.
Alfred menatap Leon, lalu menunjuknya.
“Kau yakin,” katanya, “tidak ada hati yang terluka?”
Ia berhenti sejenak.
“Barangkali bukan kejadian di kamar itu yang menyakitkan,” lanjutnya. “Bisa saja yang melukai justru sikapmu setelahnya. Sesuatu yang mungkin bahkan tidak kau sadari.”
Kata-kata itu menggantung di telinga Leon. Leon terdiam. Ia tidak segera menjawab, hanya menatap kosong ke satu titik.
Beberapa saat kemudian, ia akhirnya berkata,
“Mungkin… setelah ini akan kupikirkan.” katanya.
Tak lama kemudian Karl dan Wilhelm datang untuk menggantikan mereka. Mereka saling bertukar posisi seperti biasa, tanpa banyak bicara. Sementara itu, Ben dan Leon mulai membereskan sampah di bawah meja bar. Kantong plastiknya sudah penuh, berisi botol-botol kosong, kulit jeruk, kaleng bir, dan sisa cairan dari gelas yang tadi malam tak sempat dibuang. Mereka mengangkat kantong-kantong itu bersama-sama, lalu membawanya keluar. Udara siang menjelang sore, terasa lebih dingin saat mereka melangkah ke depan Dessler.
Di luar, ada kontainer sampah besar tempat semua limbah dikumpulkan. Satu per satu mereka melemparkan kantong plastik itu ke dalamnya. Sampah-sampah itu akan tetap di sana sampai esok pagi, ketika petugas kebersihan kota Berlin datang untuk mengangkutnya. Leon mengibaskan tangannya lalu menepuk-nepuk telapak tangannya sekali lagi, memastikan tak ada sisa kotoran yang tertinggal. Saat itu Ben berkata,
“Perkataanmu yang tadi… benar?” katanya sambil meniru gerakan tangan Leon.
Leon berdeham, “Soal apa?”
“Menemui perempuan itu,” kata Ben sambil berjalan ke dalam.
“Ya mungkin, bisa jadi,” Leon mengikuti Ben dari belakang.
Di dalam bar, Karl dan Wilhelm tampak sedang mendengarkan Alfred bercerita sambil menghisap cerutu. Di dalam sungguh tenang, tetapi suara mereka pelan, seperti obrolan yang sengaja dibiarkan mengalir di tengah jam-jam sepi. Ketika Ben dan Leon mendekat, barulah terasa bahwa Alfred sedang menceritakan kembali kisah Leon tadi. Ben hanya tersenyum saat mendengarnya, sementara Leon menundukkan kepala sedikit, wajahnya tampak menahan rasa malu. Namun bagi mereka semua, cerita itu tidak terdengar seperti penghinaan atau aib bagi Leon. Lebih seperti guyonan lama yang kembali diangkat, hal biasa yang mereka lakukan untuk mengusir sunyi ketika bar sedang sepi seperti sore itu.
Ketika sore berjalan ke malam, di dalam bar berjalan lambat, semacam hentakkan kaki yang hendak melangkah pulang kerumah, dengan perasaan lelah. Mereka berempat berdiri di sekitar meja bar. Karl, Leon, Ben, dan Wilhelm. Sementara Alfred masih nyaman dengan kursinya, dan terlihat sedang menulis sesuatu di sebuah buku. Tiba-tiba Wilhelm memecah keheningan kecil itu. Ia menoleh kepada Karl, Leon, dan Ben, seolah baru saja mengingat sesuatu yang penting.
“Besok ada yang tahu hari apa, Jungs?” katanya.
Karl menjawab tanpa banyak berpikir, “Kamis.”
Wilhelm langsung menggeleng.
Karl menaikkan alisnya sedikit, “Lalu hari apa?”
Wilhelm tersenyum lebar.
“Besok hari gajian, jungs.”
Ia mengangkat kedua tangannya ke atas dengan sorakan kecil yang setengah serius, setengah bercanda. Di dalam bar yang sepi itu, kabar tentang gaji terdengar bagi mereka berempat, seperti sesuatu yang cukup untuk membuat malam nanti terasa sedikit lebih ringan.
“Oh iya, benar juga,” ujar Karl.
Ben dan Leon pun tersenyum.
Sebenarnya pekerjaan Ben dan Leon sudah selesai sejak tadi. Namun entah mengapa, saat itu mereka berdua merasa berat untuk pergi. Ada suasana tenang yang sulit dijelaskan, seolah tempat itu menahan mereka untuk tetap tinggal sedikit lebih lama. Pengunjung sore menjelang malam memang tidak terlalu banyak, namun keheningan itu datang tidak menggunakan riasan berlebih seperti pada biasanya. Sekitar lima belas orang duduk tenang di ruangan yang besarnya tak lebih dari empat kabin itu.
Suasananya damai, hampir seperti ruang tunggu yang lupa pada keramaian. Di atas meja-meja hanya terlihat beberapa gelas dan botol kosong, tidak banyak. Meja yang paling hidup tetap milik Madam Magda. Seperti biasanya, ia datang sendirian. Ia sudah duduk di sana bahkan sebelum Karl dan Wilhelm tiba, menempati tempatnya seakan meja itu memang menunggunya. Tangan kirinya memegang rokok, sementara tangan kanannya menggenggam gelas. Tubuhnya bersandar santai pada sandaran kursi. Asap rokok naik perlahan di depan wajahnya, tetapi matanya justru kosong.
Belakangan ini ia sering melamun seperti itu, tenggelam dalam pikirannya sendiri tanpa alasan yang jelas. Dua meja dari tempat Madam Magda duduk, seorang laki-laki dan perempuan sedang tertawa, tidak lebih tepatnya mereka cekikikan. Mereka menertawakan sesuatu yang tampaknya hanya mereka berdua yang mengerti. Dari cara mereka berbicara dan sesekali saling menatap, mereka tidak terlihat seperti pasangan lama. Lebih seperti seorang laki-laki yang sedang mencoba merayu perempuan untuk pertama kalinya.
Anehya, tepat di seberang meja Madam Magda, seorang laki-laki duduk sendirian. Usianya kira-kira tak jauh dari Alfred. Janggutnya sudah memutih, dan setiap beberapa detik ia menelan ludah, seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Ia tidak berbicara dengan siapa pun. Tangannya hanya diam di atas meja, sementara matanya sesekali bergerak tanpa arah yang jelas. Jika dari luar, sulit menebak apa yang sedang ia lakukan di sana. Mungkin ia sedang menunggu seseorang, mungkin juga hanya menghabiskan waktu. Namun siapa pun yang melihatnya barangkali akan merasa hal yang sama, ada sesuatu yang tak sepenuhnya bisa dimengerti dari laki-laki itu. Matahari mulai terbenam. Rona jingga menembus kaca jendela Dessler dan jatuh tipis ke lantai. Namun Ben dan Leon masih berada di sana. Bedanya, kali ini mereka tidak lagi di dalam ruangan, melainkan di belakang bangunan.
Mereka duduk santai, kaki diluruskan ke depan. Sesekali Leon mengurut dahinya, sementara Ben menyalakan rokok lagi. Asap tipis naik perlahan ke atas. Tanpa terasa, hampir setengah bungkus rokok sudah habis di antara mereka berdua. Beberapa waktu kemudian, saat api kecil membakar tembakau kering. Di kepala Ben terbesit beberapa pertanyaan.
Ben menghembuskan asap rokoknya pelan sebelum akhirnya berbicara.
“Aku bertemu seorang perempuan beberapa Minggu lalu,” kata Ben.
“Mungkin kedengarannya biasa saja bagi orang lain.”
Ia berhenti sebentar, menimbang kata-katanya.
“Tapi menurutku… perempuan itu seperti bisa membawaku ke tempat yang berbeda. Tempat yang tidak ada lagi penderitaan,” Ben tersenyum tipis.
“Atau mudahnya, mungkin dia bisa membantuku sembuh… setidaknya secara mental.”
Ben menatap ujung rokoknya yang menyala redup.
“Masalahnya,” lanjutnya, “aku belum menemukan alasan yang tampak masuk akal untuk menemuinya lagi.”
Lalu Ben menoleh ke arah Leon.
“Kalau kau jadi aku… apa yang akan kau lakukan?”
Leon terdiam sejenak sebelum menjawab. Lalu menoleh ke arah Ben, menatapnya dengan tenang.
“Kalau itu menyangkut keselamatan diriku,” suaranya serak, “aku akan berlabuh ke dalam kehidupannya… apa pun risikonya.”
Ben termangu, dan mungkin yang dikatakan Leon barusan ada benarnya.
*
Keesokan harinya, Ben pergi mengambil gajinya di sebuah bank di kota Berlin. Pagi masih terasa segar ketika ia tiba di sana, tepat sekitar pukul sembilan. Ia berdiri di antara beberapa orang lain, menunggu nomor antriannya dipanggil. Waktu terasa berjalan cukup cepat. Namun suasana antrean tetap tertib, tidak ada orang yang saling mendorong atau berdesakan untuk maju lebih dulu. Semua orang hanya menunggu dengan sabar. Melihat kursi yang kosong di sudut ruangan, Ben akhirnya memilih duduk daripada terus berdiri di tengah kerumunan.
Ben menyandarkan punggungnya dan menarik napas. Lagi pula ia tahu, cepat atau lambat nomor antrean di tangannya pasti akan dipanggil juga. Tak lama kemudian, nomor antrean Ben akhirnya berbunyi lewat pengeras suara di sudut ruangan, dan nomor itu muncul di sebuah papan atas loket. Angka itu berkedip, disertai bunyi pendek yang memecah keheningan ruangan. Ben berdiri dari kursinya, merapikan jaketnya sebentar, lalu berjalan menuju loket. Ruangan loket itu terasa luas dan tenang, dengan lantai ubin gelap yang tersusun rapi seperti papan catur yang memudar.
Di sepanjang dinding, deretan loket dipisahkan oleh rangka besi dan kaca tinggi, memberi jarak yang jelas antara petugas dan orang-orang yang datang membawa urusannya. Di depan loket, beberapa kursi kayu berjejer menghadap meja kecil tempat formulir diletakkan. Kursi-kursi itu tampak lesuh, namun tersusun rapi. Cahaya masuk dari pintu, tepat di mana orang datang dengan harapan, urusan, dan amplop kecil yang akan mereka bawa pulang. Di balik rangka besi loket, seorang petugas bank sudah menunggu dengan wajah tenang dan gerakan yang terlatih.
Ben menyerahkan slip gaji dan kartu identitasnya melalui celah kecil di bawah kaca. Petugas itu memeriksanya, lalu mengangguk. Beberapa saat kemudian, ia membuka laci uang dan mulai menghitung lembar-lembar uang dengan gerakan cepat namun rapi. Suara gesekan kertas uang terdengar singkat. Setelah selesai, petugas itu menyelipkan uang tersebut ke dalam amplop cokelat kecil dan mendorongnya kembali melalui celah besi. Ben menerimanya, menghitung sekilas untuk memastikan jumlahnya, lalu mengangguk sebagai tanda terima kasih.
Tanpa banyak kata, ia menyimpan amplop itu ke dalam saku jaketnya dan melangkah menjauh dari loket, memberi giliran bagi orang berikutnya yang sudah menunggu giliran. Saat Ben hendak mundur dari loket, petugas itu tiba-tiba berkata sesuatu yang membuatnya berhenti.
“Simpan uangmu baik-baik,” kata petugas itu.
“Gunakan sebaik-baiknya.”
Ben mengangguk. Nasihat seperti itu terdengar wajar, hal biasa yang mungkin sering diucapkan kepada siapa pun yang baru menerima uang.
Namun petugas itu menambahkan satu kalimat lagi.
“Dan jangan buat kesalahan yang sama.”
Ben sempat terdiam. Kalimat pertama terasa seperti nasihat biasa. Tapi yang kedua… terdengar berbeda. Bukan sekadar ucapan ramah dari seorang petugas bank, melainkan seperti peringatan, seolah orang itu tahu sesuatu yang bahkan tidak diketahui oleh orang-orang di sekitarnya. Setelah keluar dari bank, Ben berhenti sejenak di depan pintu. Ia menggaruk-garuk kepalanya, masih memikirkan perkataan petugas tadi. Entah kenapa kalimat itu terasa aneh baginya, seperti sesuatu yang seharusnya tidak perlu diucapkan kepada orang asing.
Namun tak lama kemudian ia menghela napas dan mencoba mengabaikannya. Mungkin itu hanya ucapan biasa yang kebetulan terdengar sedikit ganjil. Ben lalu berjalan menuju tempat sepedanya diparkir. Hari itu ia mendapat jadwal bekerja siang hari, mulai pukul dua. Ia melirik jam tangannya, masih sekitar pukul sepuluh lewat. Artinya masih ada beberapa jam sebelum ia harus mulai bekerja. Dengan waktu yang masih cukup panjang, Ben menaiki sepedanya perlahan, membiarkan pagi di kota berlalu di sekelilingnya.
Baru beberapa meter meninggalkan bank, Ben tiba-tiba teringat perkataan Leon kemarin, tentang perempuan itu. Yang namanya pernah ia coba usir dari kepalanya. Ia memperlambat kayuhan sepedanya, lalu menepi ke sisi jalan. Sepeda itu berhenti, sementara lalu lintas pagi tetap berjalan seperti biasa di belakangnya. Ben menaruh satu kaki di tanah dan menatap kosong ke depan. Ia memberi dirinya waktu untuk berpikir. Di kepalanya, ia mulai menghitung-hitung rencana hari ini, seolah sedang menyusun ulang agenda yang sudah ada. Bagaimana jika menemui perempuan itu sekarang, pikirnya.
Akhirnya Ben memutuskan melaju ke arah timur. Ia mengayuh sepedanya melewati beberapa jalan hingga tiba di distrik Mitte. Perjalanan itu memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Tak lama kemudian, Ben sudah berdiri lagi di depan rumah Diandra, tempat yang sudah berminggu-minggu tidak ia datangi. Ia menghentikan sepedanya, turun, lalu menuntunnya sebentar sebelum berhenti di depan pintu. Saat berjalan mendekat, pikiran Ben mulai dipenuhi keraguan. Ia merasa seharusnya ia tidak berada di sana. Bahkan mungkin tidak seharusnya ia menemui perempuan itu pada waktu seperti ini.
Namun ketika tangan kanannya terangkat untuk mengetuk pintu, tangannya kembali gemetar. Kali ini getarannya lebih ringan, lebih jinak, seolah masih bisa ia kendalikan. Ben mengatur napas dan megeluarkannya perlahan. Lalu ketukan pertama terdengar di pintu. Tok… tok. Dua menit menunggu tidak ada suara langkah kaki yang turun, kemudian ia mengetuk lagi dan sampai sepuluh menit berlalu, tak ada seorang pun yang keluar. Semacam bimbang, ragu. Apakah lebih baik ia pergi, atau tetap berdiri di situ berharap seseorang keluar menyambutnya.
Ben melirik jam di pergelangan tangannya. Rupanya sudah tepat dua puluh menit ia berdiri menunggu di depan pintu itu. Darahnya terasa mengalir lebih cepat. Nadinya berdenyut keras di pelipis, sementara keringat mulai muncul di dahinya dan perlahan turun menyentuh kumis tipisnya. Udara terasa lebih panas dari sebelumnya, atau mungkin hanya perasaannya saja. Ben menarik napas. Ia memutuskan akan mengetuk sekali lagi, untuk terakhir kalinya. Jika setelah itu tetap tidak ada yang membuka pintu, mau tak mau ia harus pergi dan meninggalkan tempat itu.
Tiga kali ketukan telah ia berikan. Namun pintu itu tetap diam, tidak ada langkah kaki, tidak ada suara yang menjawab dari dalam. Ben menunggu beberapa detik lagi, memberi kesempatan terakhir. Ketika tak ada apa pun yang terjadi, ia akhirnya membalikkan badannya perlahan ke arah sepeda. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket, lalu berdiri sejenak di depan sepedanya. Seperti seseorang yang duduk di stasiun, menunggu seseorang datang, akan tetapi seorang yang ditunggu justru ternyata salah turun stasiun.
Ben melaju secepat mungkin menuju Dessler, matanya melihat sesekali ke jam tangannya. Meski lehernya berkeringat, namun bajunya belum tampak basah sedikit pun. Di persimpangan jalan, lalu lintas tiba-tiba macet tanpa alasan yang jelas. Mobil-mobil berhenti begitu saja, membentuk barisan panjang seperti ular besi yang kelelahan bergerak. Mesin masih menyala, tetapi tak ada yang benar-benar berjalan. Orang-orang di dalam mobil menatap ke depan, seakan-akan di ujung jalan ada sesuatu yang penting, padahal yang ada hanya lampu merah yang terlalu lama berubah.
Ben memperlambat sepedanya. Dari sela-sela mobil yang berhenti, ia melihat wajah-wajah yang tampak sama, sedikit lelah, sedikit kosong. Tidak ada klakson, tidak ada kemarahan. Hanya waktu yang berhenti berputar. Seperti dunia yang tiba-tiba lupa bagaimana cara melanjutkan langkahnya. Di belakangnya, dua polisi menghentikan laju motor BMW mereka, tepat beberapa meter di belakang Ben. Suara mesin motor yang tadi terdengar berat perlahan mereda, lalu diam. Ben menoleh ke belakang sejenak. Seragam mereka rapi, motor itu berdiri tegak di sisi jalan.
Melihat pemandangan itu, Ben teringat sesuatu dari masa kecilnya. Saat usianya sekitar sembilan tahun, ia pernah memiliki keinginan sederhana, menjadi polisi di kota Berlin. Namun itu hanyalah mimpi lama yang telah memudar. Ben bahkan hampir lupa bahwa dulu ia pernah menyimpannya di dalam keranjang mimpinya. Sekitar dua kilometer dari Dessler, ia berhenti di sebuah persimpangan. Lampu lalu lintas masih merah, dan kendaraan di depannya menunggu dengan sabar. Beberapa detik kemudian lampu berubah menjadi hijau.
Menjelang pukul dua siang, Ben dan Karl mulai bersiap menggantikan posisi Wilhelm dan Dave di bar. Suasana belum terlalu ramai, tetapi ritme pekerjaan perlahan mulai terasa. Sebelum keluar dari ruang belakang, Ben berdiri sejenak di depan cermin. Ia menatap bayangannya beberapa kali. Tangannya kemudian merapikan suspender yang sedikit terlilit di bahunya. Di saat yang sama, dari pantulan cermin itu, sosok Yossi Bennayoun tampak tersenyum kecil ke arahnya, senyum yang singkat, tapi cukup untuk membuat Ben menyadari bahwa hari kerja mereka akan segera dimulai lagi, seperti biasa.
Dave dan Wilhelm, memberitahu sesuatu kejadian pada sekitar pagi menjelang siang tadi. Bahwa ada seseorang, entah siapa namanya, seorang lelaki yang terlalu pagi berkenalan dengan alkohol tiba-tiba kehilangan wibawanya. Ia berdiri beberapa detik seperti patung yang lupa bagaimana caranya menjadi manusia. Wajahnya pucat, matanya setengah terbuka, dan tubuhnya bergoyang seperti tiang bendera yang diterpa angin kecil. Lalu tanpa peringatan, bencana kecil itu terjadi. Dari mulutnya keluar muntahan yang terdengar seperti sungai yang tersumbat dan akhirnya menemukan jalan pulangnya.
Suaranya memecah keheningan Dessler, membuat dua pengunjung di sudut ruangan serentak menoleh dengan wajah yang memperlihatkan campuran jijik dan simpati. Bau asam segera menyebar di udara, naik seperti kabut tak terlihat yang perlahan menaklukkan ruangan. Lelaki itu sendiri tampak bingung. Ia berdiri di sana dengan napas berat, memegang meja seakan dunia sedang berputar terlalu cepat. Sementara di lantai, muntahannya terhampar dramatis, semacam ia baru saja memuntahkan seluruh dosa malam sebelumnya ke lantai Dessler.
Dan sialnya, Wilhelm terpaksa membersihkan bekas muntahan tersebut. Tanpa banyak komentar, ia mengambil ember, kain pel, dan beberapa tisu dari belakang bar. Beberapa pengunjung hanya melirik sekilas, lalu kembali pada minuman mereka. Wilhelm berjongkok dan mulai membersihkannya perlahan. Bau asam masih terasa di udara, membuatnya sesekali menahan napas sambil mengusap lantai dengan kain basah. Lelaki yang muntah tadi sudah duduk lemas di kursinya, dan tampak lebih malu daripada sakit.
Ben dan Karl yang mendengar cerita itu langsung tertawa. Bukan karena ingin mengejek, tetapi karena membayangkan nasib Wilhelm yang harus membersihkan semuanya. Padahal kejadian seperti itu sebenarnya bukan hal yang aneh di tempat seperti Dessler. Orang mabuk terlalu pagi, kehilangan kendali, lalu membuat masalah kecil, hal semacam itu kadang memang terjadi. Namun bagi Ben dan Karl, selama mereka bekerja di sana, mereka belum pernah benar-benar mengalami kejadian seperti itu secara langsung. Karena itu, mendengar cerita Wilhelm terasa sedikit lucu bagi mereka, setidaknya sampai hari ketika mungkin giliran mereka sendiri yang harus menghadapinya.
Siang hari seperti Kamis biasanya terasa sepi di Dessler. Tidak terlalu banyak orang yang datang pada jam-jam seperti itu. Kebanyakan orang baru mulai berdatangan setelah pukul tujuh malam, ketika kota sudah mulai melambat. Kadang ada juga yang singgah sekitar pukul empat sore, saat orang-orang baru pulang dari kantor. Namun jumlahnya biasanya hanya satu atau dua orang saja, sekadar duduk sebentar, minum, lalu pulang. Hari yang paling ramai biasanya justru hari Jumat. Banyak orang lebih suka datang pada sore hari, ketika mereka tahu besok adalah hari Sabtu, dan malam terasa sedikit lebih panjang dari biasanya.