Hantu Perang Di Tembok Berlin

Achmad Nanda Suryadi
Chapter #6

Mencampur melatonin untuk berjaga-jaga #6

Pagi datang perlahan, dan Ben terbangun lebih dulu oleh cahaya matahari yang menyelinap lewat kaca jendela. Cahaya itu jatuh tipis ke lantai, seperti tangan yang pelan-pelan membangunkan seseorang dari tidur yang terlalu dalam. Yossi Bennayoun bangkit dengan langkah setengah sadar, lalu merangkak menuju kamar mandi. Ia mencuci muka, menggosok gigi, dan membiarkan air dingin menyadarkan pikirannya yang masih berkabut. Setelah itu ia berjalan ke dapur kecil dan memanaskan air untuk membuat kopi. Ben membuka kaleng bubuk kopi di atas meja. Ia mengintip ke dalamnya. Ternyata hanya tersisa sedikit, cukup untuk satu cangkir saja.

Ia terdiam sejenak sambil memegang kaleng itu. Siapa orang yang rela keluar rumah hanya untuk membeli sekaleng kopi pada pukul delapan pagi seperti ini, pikirnya. Pagi masih terlalu muda untuk sebuah usaha yang terlalu serius, dan Ben merasa dunia seolah meminta dirinya menunggu sebentar sebelum benar-benar dimulai. Air mendidih dan kemudian Ben menuang cerek ke cangkir yang sudah ia takar dua sendok bubuk kopi. Selagi menunggu suhunya turun, ia teringat bahwa ada seseorang yang tinggal di rumahnya.

Setelah itu Ben berjalan menuju kamarnya dan membuka pintu. Ia berhenti di ambang pintu, diam beberapa saat. Entah pikiran apa yang tiba-tiba melintas di kepalanya. Tangannya naik menutupi wajah, lalu ia memijat dahinya, seperti mencoba merapikan sesuatu yang berantakan di dalam pikirannya. Di hadapannya, Diandra masih tertidur. Tubuhnya tenang, napasnya teratur, seakan malam tadi tidak menyisakan apa pun. Ben memandangnya sebentar dari kejauhan. Namun ia tidak berani mendekat. Akhirnya ia hanya menarik napas, lalu menutup pintu kamar itu kembali rapat-rapat.

Ben menikmati kopinya sambil membaca koran. Ia juga memutar musik dari The Doors yang mengalun pelan, seolah berjalan sejajar dengan pagi yang baru dimulai. Sesekali Ben mengambil pena dan membuka bukunya. Ia menulis beberapa catatan singkat, hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting, tetapi cukup untuk menenangkan pikirannya. Tak lama kemudian Arthur mendekatinya. Kucing itu berdiri di dekat kakinya dan mengeong pelan, seperti mengingatkan bahwa jam makannya sering kali berubah-ubah mengikuti kebiasaan Ben. Ben menoleh. Ia baru menyadari sesuatu.

Di mangkuk makan Arthur, tidak ada sepotong tuna pun. Ia menarik napas panjang sambil menutup bukunya. Ben melihat lemari pendingin, hanya cukup untuk hari ini saja rupanya. Sepertinya sebelum berangkat ke Dessler, ia harus mampir dulu ke pasar, untuk membeli beberapa bahan makanan dan sekaleng kopi. Pikirannya sempat menggantung beberapa detik, soal Diandra. Apa sebaiknya ia bangunkan atau dibiarkan saja, sementara Ben pergi keluar meninggalkan tanpa memberi tahu. Akhirnya untuk berjaga-jaga, Ben berniat menuliskan surat untuknya nanti.

Ben lalu membuat sarapan sederhana. Dua roti panggang, sedikit mentega, dan secangkir teh untuk Diandra, yang masih tidur di kamarnya, tanpa tahu bahwa seseorang di luar sana sedang mencoba bersikap hati-hati terhadap keberadaannya, Ben melirik jam dinding. Jarumnya menunjuk hampir pukul sembilan. Waktu terasa berjalan lebih cepat dari yang ia kira. Jika ia pergi ke pasar sekarang untuk membeli beberapa bahan, termasuk kopi, kemungkinan besar ia tidak akan sempat kembali ke rumah sebelum berangkat kerja. Ia berdiri sejenak di dekat meja, memikirkan itu.

Di kamar, Diandra masih tidur. Rumah terasa terlalu tenang untuk dibangunkan hanya dengan satu kalimat terburu-buru. Akhirnya Ben menarik kursi, duduk, lalu menulis surat yang sedikit lebih jelas dari catatan singkat yang tadi ia rencanakan. Ia melipat kertas itu dengan hati-hati dan meletakkannya di atas meja, tepat di samping piring sarapan yang sudah ia siapkan. Setelah itu ia mengambil jaketnya, memastikan pintu tertutup perlahan, dan meninggalkan rumah dengan perasaan yang sulit ia jelaskan, seperti seseorang yang berusaha meninggalkan jejak kecil agar tidak sepenuhnya hilang.

Saat kau membaca ini, aku mungkin sudah keluar. Kopi di rumah sudah hampir habis, jadi aku pergi ke pasar untuk membeli beberapa bahan makanan juga. Kemungkinan setelah itu aku langsung pergi bekerja. Sarapan ada di meja. Tidak terlalu istimewa, tapi setidaknya masih hangat saat aku meninggalkannya. Jika kau ingin pergi sebelum aku pulang, tidak apa-apa. Tapi kalau kau memutuskan menunggu, aku akan kembali malam ini — Ben.

Pasar masih terlalu ramai pada hari jumat, sekitar sepuluh pagi, tetapi orang-orang mengerubungi hampir tiap kios-kios kecil. Di bawah atap kios yang berjajar, para pedagang menata barang dagangan mereka; sayuran yang masih basah oleh embun pagi, roti-roti bulat berkulit keras, potongan daging yang digantung di kait besi, serta kotak-kotak ikan yang masih mengeluarkan bau asin dari laut jauh di utara. Bau kopi panggang, roti hangat, dan sedikit aroma asap rokok bercampur di udara yang masih dingin.

Orang-orang datang dengan langkah yang tidak tergesa. Beberapa perempuan membawa keranjang belanja dari anyaman, para pria tua berdiri di depan kios roti sambil berbincang pendek tentang harga atau cuaca. Sesekali sepeda melintas di antara lorong-lorong sempit pasar, rodanya menggesek batu jalan yang sudah tua. Di sudut pasar, seorang pedagang memanggil pelanggan dengan suara serak, menawarkan apel merah dari Saxony dan kentang yang baru datang dari desa-desa sekitar. Tidak jauh dari sana, seorang ibu menawar harga telur dengan sabar, sementara dua anak kecil berdiri di sampingnya memandangi tumpukan jeruk seperti benda langka.            

Di distrik Kreuzberg, tepatnya di dalam bangunan pasar tua Markthalle Neun, Ben masih berkeliling di antara deretan kios. Ia berjalan pelan dari satu lapak ke lapak lain, memperhatikan barang-barang yang tersusun rapi di atas meja kayu. Suara percakapan para pedagang dan pembeli bercampur dengan bunyi kantong kertas yang dilipat dan koin yang berpindah tangan. Setelah beberapa saat, Ben akhirnya mendapatkan beberapa kebutuhan yang ia cari, beberapa potong roti gandum, enam kotak tuna segar, dan sekaleng kopi yang ia perkirakan cukup untuk seminggu.

Akan tetapi ia belum selesai. Dengan kantong belanja di tangannya, Ben kembali berjalan menyusuri lorong pasar. Kali ini ia mencari bahan lain, telur dan sedikit daging yang bisa ia masak untuk beberapa hari ke depan. Ketika tangannya sudah penuh oleh beberapa kantong belanja, Ben berhenti berjalan. Roti, tuna, telur, kopi dan daging sudah ia dapatkan, semua yang ia butuhkan untuk beberapa hari ke depan. Ia berdiri sejenak di tengah lorong pasar, lalu mengangkat kepalanya. Di atas bangunan pasar, sebuah menara kecil dengan jam besar berdiri di tengah-tengah atap. Jarumnya bergerak, seolah tidak peduli dengan keramaian orang-orang di bawahnya.

Ben menatap jam itu sebentar, mencoba memastikan waktu yang tersisa sebelum ia harus pergi bekerja. Ben menghitung waktu dalam pikirannya. Jarak dari pasar itu ke Dessler cukup jauh, dan perjalanan ke sana pasti memakan waktu. Namun setelah menatap jam sekali lagi, ia merasa belum terlambat. Jika ia bergegas sekarang, ia masih bisa tiba tepat waktu. Di dalam trem, Ben naik ke trem dengan dua kantong belanja di tangannya. Pintu logam menutup dengan bunyi pendek di belakangnya, lalu kendaraan itu mulai bergerak perlahan meninggalkan halte.

Di dalam, tidak terlalu penuh. Beberapa orang duduk berjajar di bangku kayu panjang. Seorang pria tua membaca koran yang dilipat rapi, sementara di ujung gerbong seorang perempuan memandang keluar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Ben berdiri di dekat tiang besi, satu tangannya menggenggam pegangan, tangan lainnya memegang kantong belanja. Setiap kali trem berhenti atau berbelok, tubuhnya ikut bergoyang sedikit mengikuti gerakan rel. Dari jendela, kota berlalu seperti gambar yang digeser perlahan. Bangunan bata, toko kecil, dan papan iklan rokok lewat satu per satu. Kadang-kadang trem mengeluarkan suara gesekan panjang saat roda besinya menekan rel.

Ben tidak benar-benar memperhatikan semua itu. Pikirannya masih berjalan di tempat lain. Sesekali ia menoleh pada jam kecil di dalam gerbong, memastikan waktunya tidak terlalu jauh dari jadwal kerja. Lalu ia kembali menatap ke luar jendela. Siang di Berlin bergerak cukup tenang, di sepanjang rel trem, dan Ben hanya ikut terbawa di dalamnya. Sesekali bayangan di kepalanya pun menangkap Diandra yang masih tertidur di rumah. Bayangan itu muncul di kepalanya seperti sebuah laci yang macet, ia memegang kuncinya, tetapi tetap saja sulit dibuka, sehingga ia tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di dalamnya.

Ia terus berjalan, namun pikirannya masih tertinggal di sana. Barangkali sekarang Diandra sudah bangun, pikir Ben. Ia bertanya-tanya dalam hati, kira-kira apa yang sedang ia lakukan saat ini. Beberapa tikungan lagi, halte yang paling dekat dengan Dessler sudah terlihat. Ben mengangkat sedikit kantong belanjaannya dan merapikan posisi tubuhnya, bersiap turun. Ketika trem berhenti, ia tidak langsung melangkah keluar. Di depannya ada seorang perempuan tua yang berjalan perlahan menuju pintu. Ben menunggu dengan sabar sampai perempuan itu turun lebih dulu.

Baru setelah itu Ben melangkah keluar dari trem. Dari halte, ia masih harus berjalan sekitar lima ratus meter menuju Dessler. Dengan kantong belanja di kedua tangannya, ia menyusuri trotoar sambil mempercepat langkah. Ketika bangunan Dessler sudah hampir terlihat di depan, Ben tersadar akan sesuatu. Seharusnya ia menaiki sepeda dari rumah. Sehingga dari segi waktu terasa lebih praktis, meskipun ia harus membayar dengan keringat yang mengalir dari kepala sampai ke kaki. Ben tiba pukul satu, masih ada satu jam lagi untuk ia memulai hari sesungguhnya.

Ben menyapa Alfred, Dave, dan Leon yang sedang sibuk mengisi ember es di belakang bar. Hari itu rekan kerjanya seharusnya Karl, tetapi wajah Karl belum terlihat di mana pun. Yossi Bennayoun kemudian membawa barang-barangnya ke ruangan khusus untuk para pekerja. Ruangan itu kecil. hanya sebesar loket tiket kereta api, tetapi cukup untuk menaruh tas, jaket, dan beberapa barang pribadi. Setelah selesai menaruh barangnya, Ben kembali keluar ke bagian belakang. Ia masih punya sedikit waktu sebelum jam menunjukkan pukul dua. Sambil menunggu, Ben menyalakan sebatang rokok dan meminum segelas ale, membiarkan waktu berjalan perlahan sebelum pekerjaannya dimulai.

Ketika jarum jam tepat menunjuk angka dua, Ben mulai bekerja. Siang itu tidak ada kejadian aneh. Segalanya berjalan seperti biasa, tenang dan sesuai dengan ritmenya. Waktu pun berlalu tanpa terasa bagi Ben dan Karl. Tanpa mereka sadari, enam jam sudah mereka jalani. Kini hanya tersisa tiga jam lagi bagi mereka, sebelum mereka mulai bersiap menutup Dessler pada malam itu. Pukul delapan malam, suasana di Dessler mulai berubah. Jika pada sore hari tempat itu terasa setengah hidup, maka pada jam seperti ini bar itu benar-benar bangun dari diamnya.

Beberapa meja sudah terisi. Ada yang berbicara pelan sambil mengadu gelas di tangannya, ada pula yang tertawa keras seolah ingin mengusir kelelahan setelah seharian bekerja. Kursi-kursi kayu sesekali bergeser, menimbulkan bunyi pendek di lantai. Di balik bar, Ben dan Karl bekerja tanpa banyak bicara. Tangan mereka bergerak cepat menuang minuman, mengambil gelas, menukar uang kertas dengan koin. Di sudut ruangan, musik dari mesin pemutar lagu mengalun, cukup untuk mengisi ruang kosong di antara percakapan para tamu.

Pada pukul sembilan malam adalah tempat yang berada di antara dua keadaan; belum terlalu ramai, tetapi juga sudah terlalu hidup untuk disebut sepi. Sebuah jam ketika malam baru mulai membuka dirinya. Dua jam kemudian Ben dan Karl, bersiap-siap pulang. Mereka membersihkan kekacauan di meja-meja, dan merapikan seperti semula. Lalu ketika mereka selesai, mereka berhenti sejenak, sekadar mengisi bensin ke dalam tanki mereka. Mereka duduk di bawah lantai kayu yang sudah bersih, dan Alfred duduk di kursinya, menunggu mereka benar-benar selesai. Karl meluruskan kakinya kedepan sambil memegang tongkat pel.

“Jadi… urusanmu dengan gadis itu sudah selesai?” tanya Karl sambil memutar tongkat pel.

Ben menatap lurus ke depan. Tatapannya kosong.

“Entahlah,” jawabnya pelan, “kurasa belum.”

Karl menoleh padanya.

“Tadi dia bersamaku di rumah,” lanjut Ben. “Tapi sekarang aku tidak tahu… dia masih di sana atau sudah pergi.”

Karl berhenti sejenak, terlihat sedikit tercengang.

“Jadi… dia menginap di rumahmu, Ben?”

“Iya,” jawab Ben singkat.

Karl menatap Ben dengan wajah setengah serius.

“Jangan macam-macam dengannya,” katanya.

“Dia kelihatan seperti gadis yang baik.”

Ben hanya tersenyum mendengar itu.

“Mana mungkin aku seperti itu,” jawabnya ringan.

“Kau kan mengenalku Karl,” tambahnya.

Pekerjaan mereka selesai, dan mereka akhirnya pulang kerumah masing-masing. Ben, Karl dan juga Alfred berpisah di depan pintu Dessler. Beruntungnya trem beroperasi 24 jam, Ben segera menuju halte terdekat sambil membawa barang belanjanya. Di halte, Ben tidak perlu menunggu lama sampai trem datang. Begitu trem berhenti, ia segera naik. Di dalamnya hanya ada satu penumpang lain selain dirinya. Meski hampir kosong, trem itu tetap berjalan lemas. Seperti seekor keledai yang sudah terbiasa dengan jalannya sendiri.

Entah, jika penumpangnya dua puluh orang atau hanya satu, lajunya tetap sama. Pelan dan setia pada langkahnya. Setibanya di rumah, Ben membuka pintu. Rupanya lampu dalam keadaan tidak menyala, itu tandanya berarti tidak ada siapa-siapa selain Arthur. Ben menyalakan lampu, posisi semua perabotan tampak seperti saat Ben meninggalkan rumah pagi tadi. Tetapi ada sesuatu yang membuat sedikit beda. Di atas meja ada secarik kertas, dilipat rapi. Bukan kertas yang Ben tinggalkan untuk Diandra, tetapi itu kertas yang sepertinya jika dilihat baik-baik, tampak beda dari lipatan Ben sebelumnya.

Ben membuka kertas itu, dan benar, kertas itu berisi tulisan atau mudahnya surat yang di buat oleh tangan Diandra. Tulisan itu lebih rapi dari tulisan Ben sendiri

Terima kasih atas sarapan yang kau siapkan. Ternyata kau cukup pandai memasak. Maaf kalau aku melakukan hal serupa sepertimu, pergi lebih dulu dan hanya meninggalkan surat. Bedanya, aku tidak sempat meninggalkan apa pun untukmu hari ini. Aku bangun cukup siang, jadi teh yang kau buat sudah dingin. Tapi tidak apa-apa. Rasanya masih enak, apalagi ditemani roti panggang yang kau buat. Saat kau membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada di rumahmu. Bukan karena aku tidak suka berada di sini. Justru sebaliknya, aku sangat menyukai tempat ini. Dan tentu saja, aku juga menyukai Arthur. Aku memutuskan kembali pulang ke rumahku, karena ada sesuatu yang harus kuurus. Maaf, untuk sekarang aku belum bisa menceritakannya kepadamu. Semoga kau mengerti. — Diandra.

Di kursi bekas Diandra makan, Ben membaca surat itu, lalu melipatnya. Pikirannya ia bekukan sementara, ia tidak ingin berspekulasi terlalu jauh. Ben menata barang belanjaannya ke tempatnya masing-masing, lalu setelah itu ia pergi membersihkan wajahnya, juga kotoran yang menempel di tubuh. Setelah selesai Ben memakai pakaian tidur dan mengambil bir dingin. Ia duduk di sofa dan Arthur senantiasa duduk di pangkuannya. Ben masih ingat dengan jelas. Terakhir kali ia melihat wajah Diandra juga pada jam-jam seperti ini.

Mereka duduk saling berhadapan, berbicara, dan sesekali Diandra tersenyum, senyum yang muncul sebentar, lalu menghilang begitu saja. Bir di tangannya sudah habis, sementara asbak di meja juga penuh. Ben bangkit, mengambil sebotol bir lagi, lalu sekalian mengosongkan asbak itu. Setelah kembali duduk, ia baru menyadari sesuatu, sudah beberapa hari ini tangannya tidak lagi bergetar. Bahkan sejak pertama kali ia bertemu Diandra, gejala itu seolah menghilang begitu saja. Apalagi perasaan-perasaan lama yang dulu sering hinggap, kini terasa semakin jauh. Yossi Bennayoun menatap ke atas, lalu tertawa kecil, seperti menertawakan pikirannya sendiri.

“Kalau benar dia bisa menarikku keluar dari semua kekacauan ini…” gumam Ben dalam hati, “aku rela menyelam sampai ke dasar samudra, demi menemukan kembali Atlantis yang pernah hilang dariku.”

*

Akhirnya, setelah sekian lama, Ben benar-benar merasakan libur di hari Minggu. Pukul delapan pagi, ia terbangun dengan tubuh yang masih menyimpan sisa lelah dari malam sebelumnya. Seperti biasa, ia pulang larut dari Dessler, Sabtu yang selalu berjalan dengan pola yang sama dan mudah ditebak. Hari itu memang selalu melelahkan, seolah tenaga terkuras habis tanpa sisa. Mata sedikit merah dan sembap, rambut terjatuh semauanya, dan mulut kering. Ia berjalan ke kamar mandi seperti orang yang lupa pada tubuhnya, sedang tertinggal di ranjang.

Mengulangi hari yang sama sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri Yossi Bennayoun. Ia menjalaninya seperti sesuatu yang alami, tanpa banyak bertanya atau mencoba melawan. Pagi yang dimulai dengan rutinitas yang sama, langkah kaki yang menuju tempat yang sama, hingga percakapan-percakapan yang terasa berulang, semuanya seperti lingkaran yang tidak pernah benar-benar putus. Ada semacam keselarasan yang aneh di dalamnya. Seperti pinang yang dibelah dua, kehidupan yang ia jalani seakan selalu menemukan potongan puzzle dalam pola yang sama.

Tidak ada kejutan yang berarti, tidak ada perubahan besar yang mengguncang. Justru di situlah letak kenyamanannya, meski terkadang juga terasa menyesakkan. Di satu sisi, pengulangan itu membuatnya merasa aman, ia tahu apa yang akan terjadi, tahu bagaimana hari akan berjalan, dan tahu bagaimana semuanya akan berakhir. Namun di sisi lain, ada ruang kosong yang perlahan membesar, seolah ada sesuatu yang hilang tapi sulit dijelaskan. Seperti berjalan di jalan yang sama setiap hari, hingga suatu saat ia lupa alasan awal mengapa ia memilih jalan itu.

Yossi Bennayoun tidak selalu memikirkannya secara serius. Kadang ia hanya tersenyum, menerima semuanya begitu saja. Karena baginya, mungkin hidup memang bukan tentang mencari sesuatu yang baru setiap waktu, atau tentang bagaimana bertahan di dalam hal-hal yang terus berulang, meski diam-diam, ia tahu, ada bagian dari dirinya yang berharap suatu hari lingkaran itu akan retak, walau hanya sedikit. Dan saat ini, sedikit demi sedikit ia tahu kemana arahnya, kemana ia harus menemukan ramuan ajaib.

Hari libur itu datang, mengenakan wajah hari Minggu. Ben memulainya dengan cara yang paling ia kenal, duduk di tepi meja, membuka buku jurnalnya yang sudah mulai aus di sudut-sudutnya, lalu membiarkan pena bergerak lebih dulu daripada pikirannya. Ia tidak benar-benar “menulis” dalam arti biasa. Lebih seperti bertutur, pelan, jujur, tanpa berusaha terdengar baik. Tinta mulai meresap di kertas. Hari ini aku menyadari sesuatu yang aneh. Tangannya berhenti sebentar, memberi ruang pada kalimat itu untuk bernapas, sebelum akhirnya melanjutkan.

Semakin aku berusaha mencarimu dengan cepat, semakin muncul perasaan bahwa sebenarnya aku tidak ingin tahu di mana harus menemukanmu. Seperti pencarian itu sendiri lebih mudah daripada menghadapi kemungkinan bertemu. Ben menggeser duduknya sedikit. Kursi kayu itu berderit, seperti ikut membaca apa yang ia tulis. Aku tidak yakin ini tentangmu, atau tentang diriku sendiri. Mungkin aku hanya takut pada apa yang akan terjadi jika akhirnya kita benar-benar berhadapan.

Setelah titik terakhir, ia tidak langsung menutup bukunya. Ia hanya menatap halaman itu cukup lama, seolah kata-kata tadi ditulis oleh orang lain, seseorang yang lebih jujur darinya. Di luar, pagi berjalan seperti biasa. Tapi di dalam dirinya, sesuatu terasa ada yang terbuka. Tidak lebar. Tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa ada hal-hal yang tidak bisa ia kejar, tanpa juga bersiap untuk menemukannya. Jauh di dalam hatinya, keinginan untuk bertemu sebenarnya sangat kuat. Namun, Ben juga dihantui kekhawatiran yang sama seperti sebelumnya, ia takut harus mengulang kejadian itu lagi.

Berdiri lama di depan pintu, menunggu tanpa kepastian, sementara orang yang ia tunggu tak kunjung muncul. Sekali lagi, Ben teringat pada sebuah pemikiran sederhana, seseorang tidak akan pernah tahu apa yang menunggunya, jika ia tidak pernah mencoba melangkah. Namun, pikiran itu justru menyeretnya pada sosok Millena. Ia sadar, perempuan itu telah menghabiskan begitu banyak waktu dan tenaga untuk membantunya menemukan jalan. Ada semacam rasa tidak nyaman yang perlahan muncul, apa yang kini ia rasakan bisa dianggap sebagai pengkhianatan. Ben menarik napas pelan. Ia membayangkan, jika Millena mengetahui semua ini, mungkin ia sendiri pun akan merasa telah mengecewakan dirinya.

Lihat selengkapnya