Hari Selasa, dua hari kemudian setelah Ben dan Diandra, berbincang di kedai currywurst. Malamnya Ben tertidur tanpa atasan. Satu-satunya alasannya ia tidur seperti itu ialah, karena pekerjaan yang lelah, hari-hari berat nan panjang. Tidak ada lagi alasan yang masuk akal selain itu. Ben membuka kembali kertas yang diberikan Diandra pada Minggu kemarin. Kertas itu sudah sedikit kusut di sudut-sudutnya, seperti sering dibuka berulang-ulang tanpa sadar. Di sana tertulis sebuah alamat, gereja yang biasa dikunjungi Diandra. Ia teringat pesan itu dengan jelas.
Waktu itu, Diandra berkata, seakan tak ingin terdengar seperti permintaan, “Kalau sempat, datanglah ke tempat ini. Aku akan ada di sana.” Sejak saat itu, alamat itu bukan sekadar tulisan. Ia seperti janji kecil yang diam-diam menunggu untuk ditepati. Pada hari Sabtu sore, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Ben meminta izin kepada Alfred untuk libur keesokan harinya. Ia menjelaskan alasannya dengan jujur agar Alfred dapat memahaminya. Beruntung, Alfred mengizinkan permintaan tersebut.
Jadwal kerja Ben yang seharusnya masuk pada hari Minggu kemudian digantikan oleh Karl, yang awalnya dijadwalkan libur. Alfred pun memberi tahu Karl bahwa mereka akan saling bertukar hari libur. Hari libur Karl diambil Ben pada hari Minggu, sementara hari libur Ben digantikan Karl pada hari Senin keesokannya. Karl tidak merasa keberatan. Sebaliknya, ia justru mendukung keinginan Ben, apalagi ia memang tidak memiliki rencana apa pun untuk keesokan harinya. Setelah percakapan itu selesai dengan Alfred yang mengangguk singkat dan Karl yang tampak setengah mengerti, jarum jam perlahan menunjuk pukul lima sore.
Cahaya di luar mulai melunak, seperti hari yang diam-diam menarik dirinya sendiri menjauh. Ben meraih jaketnya dan berpamitan. Semuanya terasa cepat. Namun sebelum ia benar-benar pergi, Karl menahan lengannya. Tidak keras, melainkan cukup untuk membuat waktu berhenti satu detik lebih lama.
“Sebentar saja,” katanya.
“Kalau ada perkembangan, sekecil apa pun… ceritakan.”
Terdapat jeda kecil dari kalimat itu, lalu Karl mengangkat dagunya ke arah belakang bangunan bar, tempat udara biasanya dipenuhi sisa-sisa asap dan percakapan.
“Kita bisa merokok di sana.”
Ben menatap Karl sejenak. Ada sesuatu dalam nada Karl, bukan sekadar rasa ingin tahu, tapi semacam keyakinan bahwa beberapa hal, jika tidak segera diceritakan, akan menguap begitu saja seperti asap rokok di udara sore. Ben mengusap mukanya, seperti ada yang meleleh, bahkan ia sendiri tidak menyadari apa itu. Secara tidak langsung, Karl berhasil membujuk. Akhirnya Ben mengangguk. Mereka berjalan ke belakang, ke tempat di mana hari perlahan berakhir, dan kata-kata terasa lebih jujur dari biasanya.
“Sepuluh menit, Karl,” kata Ben saat membuka pintu belakang.
Ia menutupnya pelan,
“Aku sedang buru-buru.”
Karl tersenyum tipis dan mengangguk. “Sepuluh menit cukup.”
Ben terdiam sejenak, lalu suaranya melembut. “Kau orang yang paling dekat denganku, Karl.”
Karl menghela napas panjang, “Kau masih ingat Judith? Pacarku… yang pergi itu.”
Ben mengangguk, lalu mengulurkan tangan. “Minta zippomu?”
Karl menyerahkan pemantik. Api kecil menyala. Dan Ben bersandar pada dinding.
“Sejak itu,” lanjut Karl pelan, “rasanya… cintaku padam selamanya.”
Ben mengisap rokoknya, menunggu.
“Aku kira dia akan tetap di Berlin setelah kami lulus,” kata Karl lagi.
“Tapi ternyata… dia memilih Paris.”
Ben mengangguk. “Ya, aku tahu. Dia memang gadis kaya.”
Karl tersenyum pahit. “Dan mungkin… aku bukan alasan yang cukup kuat untuk membuatnya tinggal.”
Karl menghembuskan asap rokoknya pelan, matanya menerawang ke langit jingga di depan mereka.
“Dia itu… gadis kaya dari kota ini,” katanya akhirnya. “Selalu bergerak cepat, rupanya dunia memang menunggunya. Dan, ya… dia cantik. Terlalu cantik untuk seseorang sepertiku.”
Ia tersenyum, tapi anehnya lebih mirip luka yang terbuka.
“Aneh, ya. Setelah dia pergi, aku malah sering… membuat-buat kemungkinan tentangnya. Tentang kami. Tentang apa yang seharusnya bisa terjadi.”
Karl terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih tenang.
“Sekarang dia di Paris. Belajar di sana. Atau entah dia sudah mendapatkan kehidupan yang layak di kota yang memang cocok untuk orang sepertinya.”
Ia menunduk, memutar rokok di antara jarinya.
“Aku kadang bertanya… apakah dia masih ingat janji-janji yang pernah kami ucapkan. Atau semuanya sudah larut begitu saja, seperti asap ini.”
Karl mengangkat wajahnya sedikit, matanya tampak lebih berat dari sebelumnya.
“Padahal… sesederhana itu saja yang kuinginkan. Menatapnya lagi, sekali saja… dengan mata ini.”
Ia tersenyum pahit.
“Dengan semua kesedihan yang tersisa.”
Karl menarik napas panjang sebelum berbicara lagi, suaranya terdengar lebih berat.
“Bahkan sekarang… aku sama sekali tidak tahu dia ada di mana,” katanya pelan.
“Mungkin dia masih hidup. Memiliki anak, suami yang tampan, dan hidup yang baik-baik saja tanpa pernah mengeluh.”
Ia berhenti lagi, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dingin.
“Atau… bisa juga dia sudah mati.”
Ben tetap diam, memperhatikan dengan serius.
Karl menatap ke depan, matanya kosong, seperti sedang melihat sesuatu yang jauh.
“Yang tersisa di antara aku dan dia itu bukan cuma kesedihan. Bukan juga sekadar cerita,” lanjutnya.
“Tapi… jarak. Jarak yang rasanya mustahil untuk dilipat, sejauh apa pun aku mencoba.”
Ia kemudian menoleh ke arah Ben.
“Aku tidak bisa melakukan apa-apa,” gumamnya.
“Kalau sudah seperti ini… yang paling sulit ditembus itu bukan waktu.”
Karl menggeleng sambil tersenyum.
“Tapi jarak… dan keyakinan.”
Kemudian Ben berdeham, “Karl… aku paham maksudmu,” katanya.
Ia menatap ujung rokoknya, dibiarkan menyala, lalu melanjutkan.
“Dulu aku pernah berpacaran… dua kali,” ujar Ben dengan suara datar.
“Tapi setiap kali, entah kenapa aku selalu merasa muak. Risih. Bahkan… jijik, sama tingkah mereka.”
Karl mengerutkan kening, tapi tetap diam mendengarkan.
“Aku ini orangnya mudah memutus hubungan,” lanjut Ben.
“Kalau di tengah jalan aku melihat sesuatu yang terasa aneh, mau disengaja atau tidak, aku bisa pergi meninggalkannya.”
Ia tersenyum, tapi tidak ada hangat di sana.
“Pernah suatu siang, kami habis makan dan jalan bareng. Dia tiba-tiba ia melepas tanganku, lalu lari ke arah penjual boneka. Dia kelihatan senang sekali… teriak-teriak kecil, seperti anak-anak.”
Ben berhenti sebentar, menarik napas.
“Tapi waktu dia lari, dia tersandung kerikil kecil… dan jatuh.”