Malam itu, setelah pulang dari kedai currywurst. Ben duduk di tepi ranjang dengan sebuah buku jurnal terbuka di pangkuannya. Pena di tangannya sudah siap, tapi pikirannya belum benar-benar menemukan bentuk. Ia tahu persis apa yang ingin ia katakan. Perasaannya jelas, bahkan mungkin terlalu jelas. Tapi setiap kali ia mencoba menuangkannya ke dalam kata-kata, semuanya terasa berantakan, seperti sesuatu yang terus lolos dari genggaman. Di dalam dirinya, ada semacam kegelisahan. Ia membayangkannya seperti seorang pengelana kecil, kotor dan kelelahan, yang tersesat di parit sempit tanpa ujung.
Pengelana itu mencari jalan keluar, tapi setiap pintu yang ia temui dijaga ketat oleh rasa sesal, rasa yang muncul diam-diam, lalu menetap tanpa permisi. Ben berhenti menulis sejenak. Ia mengingat Diandra. Entah kenapa, huruf “D” terasa punya banyak arti malam itu. Bisa berarti dia, seseorang yang sederhana, tapi entah bagaimana selalu mampu membuat segalanya terasa lebih hidup. Atau mungkin “D” adalah sesuatu yang lain, dorongan untuk menyenangkan, untuk bertahan, untuk tetap menjadi seseorang yang pantas… bahkan jika harus sedikit berpura-pura kuat.
Ia menulis lagi, hati-hati. Bahwa mungkin, tanpa ia sadari, ia telah menjadi bagian dari sesuatu yang rumit. Sesuatu yang tiga perempat jam lalu masih terasa baik-baik saja, tapi kini berubah menjadi serangkaian pertanyaan, kompromi, dan keraguan yang tak kunjung selesai. Ben menghela napas panjang. Kadang, ia merasa hampir mencapai batas dirinya. Tapi selalu ada satu hal yang menahannya, keinginan untuk berpikir lebih dulu, untuk tidak terburu-buru merusak sesuatu yang belum terlalu ia mengerti. Ujung penanya berhenti. “Mungkin,” tulisnya, “di semesta lain, semua ini terasa lebih sederhana.”
Ben menatap kalimat itu cukup lama. Lalu menutup jurnalnya perlahan, seperti ia tahu bahwa tidak semua hal harus selesai malam ini. Ia teringat sesuatu yang ganjil, detail kecil yang entah kenapa terus tinggal di kepalanya. “Tetap kenakan bandanamu,” ia menulisnya hati-hati. Ia sendiri tidak yakin kenapa hal itu terasa penting. Mungkin karena benda itu sederhana, atau justru di situlah letak ketenangannya. Sesuatu yang tidak berubah, tidak menguji siapa pun untuk menjadi lebih dari dirinya sendiri. Ben berhenti sejenak, lalu melanjutkan.
Mungkin ada orang-orang yang hidupnya terasa seperti siang hari, terang, mudah dibaca, dan hangat. Tapi ada juga yang seperti malam, gelap, dalam, dan sulit ditebak. Dan anehnya, justru yang seperti itulah yang paling lama menetap di pikiran. Ia menghela napas, lalu menulis lagi, kali ini lebih jujur. “Kurasa kau harus tahu… kau adalah mimpi buruk terburuk favoritnya.” Kalimat itu terasa aneh, bahkan bagi dirinya sendiri. Tapi semakin ia memikirkannya, semakin masuk akal rasanya. Ada orang-orang yang menyakitkan untuk dipahami, membingungkan untuk didekati, tapi tetap saja… ingin dipertahankan.
Seperti mimpi buruk yang tak benar-benar ingin diakhiri. Ben menutup matanya sejenak, membiarkan kalimat itu mengendap. Ia tidak tahu apakah ini tentang dirinya, tentang Diandra, atau tentang sesuatu yang bahkan belum ia mengerti sepenuhnya. Lagi-lagi. Yang ia tahu, ada perasaan yang tidak bisa ia lepaskan, meskipun ia sadar, perasaan itu mungkin tidak akan pernah memberinya ketenangan. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak mencoba mencari jawaban. Ia hanya membiarkan kalimat itu tinggal, apa adanya. Tergantung di tengah halaman.
Pada saat-saat tertentu, terutama di malam hari, ia merasa ada sesuatu yang lebih menakutkan daripada hantu ialah, keinginan untuk berbicara, tetapi tidak tahu harus ditujukan kepada siapa. Seperti mulut yang kebingungan mencari telinga. Kini, ia merasa telah menemukan apa yang selama ini ia cari, seseorang untuk diajak bercerita. Seseorang yang bisa mendengarkan tanpa menyela. Namun, sejak pertemuannya dengan Diandra, muncul dua hal yang masih sulit ia pahami. Pertama, ia ingin berbicara dengannya setiap hari. Kedua, di saat yang sama, ia justru tidak ingin mengganggunya.
*
Selasa pagi, Ben kembali bekerja. Sebelum berangkat, ia menulis surat untuk Diandra. Dalam perjalanannya menuju Dessler, Ben sempat hendak singgah ke kantor pos yang tidak jauh dari rumahnya. Melalui surat itu, Ben menyiratkan sebuah ajakan sederhana, ia berharap Diandra bersedia menemuinya di Cornerstone, pada siang esok hari. Sepulang Ben bekerja. Malam hari tepatnya pukul tujuh, Ben dan Leon pergi kerumah seseorang di wilayah Neukölln. Sebenarnya Ben hanya di minta Leon untuk menemaninya saja.
Karena permintaan khusus Leon, dan Ben juga merasakan apa yang dirasakan temannya itu, tanpa perlu dipaksa ia bersedia menemaninya. Mereka berdua pergi untuk menemui seorang gadis dari masa lalu Leon, seseorang yang entah masih menyimpan luka atau tidak. Sejak Leon menceritakan semuanya kepada Ben dan Alfred, pikiran tentang gadis itu terus mengganggunya. Berkat dorongan Alfred, Leon akhirnya memberanikan diri untuk memastikan bagaimana keadaan gadis tersebut sekarang.
Mereka menaiki trem menuju wilayah tenggara. Gerbong terasa tenang, hanya sesekali terdengar suara rel yang berderit. Leon dan Ben duduk di bagian belakang, berdampingan, memandangi pemandangan langit yang kian memudar dan bergerak mundur di balik jendela. Leon tampak gelisah. Ia menyandarkan punggungnya, lalu menghela napas panjang.
“Aku bahkan tidak tahu seperti apa wajahnya sekarang,” ujar Leon.
“Apa dia masih mengenalku atau tidak… atau bahkan masih ingat kejadian itu.”
Ben menoleh, memperhatikan wajah Leon yang dipenuhi keraguan.
“Kalau nanti semuanya tidak berjalan sesuai rencanamu, apa yang akan kau lakukan?” tanya Ben.
Leon terdiam sejenak, matanya kembali ke arah jendela.
“Entah,” jawabnya. “Mungkin aku akan mencoba meyakinkannya… sampai dia benar-benar ingat.”
Ia berhenti sebentar, lalu tersenyum tipis, meski terlihat dipaksakan.
“Dan kalau pada akhirnya dia tetap tidak ingat,” lanjutnya, “mungkin… aku hanya akan meminta maaf. Setidaknya, itu hal yang masih bisa kulakukan.”
Ben tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk beberapa kali, lalu berkata, “Wajar… lagipula itu sudah terjadi sepuluh tahun yang lalu, kan?”
Leon menoleh ke arahnya. Tatapannya singkat, tapi cukup dalam, lalu ia mengangguk kecil.
“Iya,” jawabnya.
Ben mengangkat bahu, lalu menyandarkan punggungnya.
“Ngomong-ngomong, dari mana kau tahu alamatnya?” tanya Ben, penasaran.
Leon berdeham kecil sebelum menjawab.
“Dari buku telepon. Dulu Deutsche Bundespost membagikannya gratis ke setiap rumah. Tebalnya seperti bantal.”
Ben mengangkat alis. “Serius?”
Leon mengangguk.
“Iya. Aku buka halaman putihnya, isinya daftar nama keluarga, inisial, dan alamat lengkap. Tinggal cari saja.”
“Dan kau menemukannya di sana?” tanya Ben lagi.
Leon menarik napas singkat, lalu mengangguk pelan.
“Akhirnya, iya. Butuh waktu, tapi aku menemukannya.”
Di halte Neukölln mereka turun. Trem berhenti di halte tujuan mereka, berjalan kaki. Saat pandangan Leon melirik-lirik sekitar, Ben tiba-tiba bertanya.
“Brudi… seberapa sering kau ke gereja?” Ben bertanya sedikit malu.
Leon menoleh, menatap Ben sambil sedikit menyipitkan mata.
“Belakangan ini? Hampir tidak pernah,” jawabnya setelah berpikir sejenak.
Ia mengernyit.
“Memangnya kenapa kau tiba-tiba nanya begitu?”
“Tidak apa-apa,” gumam Ben.
Malam di Neukölln terasa berbeda dari wilayah Berlin yang lain, meski berada di tenggara pusat kota, Neukölln jelas berbeda dengan Pankow yang pemukimannya cukup padat. Distrik dimana Ben tinggal. Lampu-lampu jalan Neukölln memantul di aspal yang sedikit lembap, sementara deretan toko kecil dan bar masih menyala, memancarkan cahaya ke trotoar. Beberapa orang berkumpul di pelataran rumah-rumah sekitar. Ada yang bernyanyi sambil menggenggam kaleng bir, suaranya sedikit sumbang tapi berat.
Di sudut lain, seseorang memetik gitar, mengalunkan lagu pelan yang menyatu dengan malam. Ben dan Leon berjalan tanpa banyak bicara. Sesekali mereka hanya saling melirik, lalu melangkah pasti. Kaki mereka seolah sudah tahu arah, mengikuti alamat yang tertulis. Di tengah suasana yang riuh itu, udara malam membawa campuran asap rokok, makanan dari rumah dan kedai makan yang belum tutup. Di antara keramaian yang tidak terlalu padat itu, ada kesan sepi yang aneh. Tetapi cukup sejuk dan bulan diatas kepala mereka, tampak menggantung di langit dengan bentuk yang hampir penuh, namun belum sempurna.
Cahayanya menerangi sekitar tiga perempat bagiannya, membuatnya terlihat lebih besar dari setengah lingkaran. Mereka tiba di tujuan, Leon mengetuk pintu rumah itu, sementara Ben berdiri persis di belakangnya. Selang beberapa menit kemudian, seorang perempuan membuka pintu, ia berdiri dengan sikap tenang. Ia mengenakan gaun tanpa lengan berwarna krem dengan motif titik-titik kecil. Gaun tersebut pas di tubuhnya dan dipadukan dengan sabuk berwarna hijau kebiruan yang melingkar di pinggang, rapi dan teratur.
Rambutnya ditata rapi dengan gaya bergelombang, disisir ke belakang dengan bagian depan sedikit terangkat. Wajahnya tampak bersih dengan riasan yang sederhana, namun tegas, terutama pada lipstik merah yang memberi aksen kuat. Ia juga mengenakan anting kecil berbentuk bulat yang melengkapi penampilannya. Tatapannya lurus mengarah ke seseorang di depannya dan sesekali ia mengintip Ben yang berdiri di belakang Leon. Ekspresinya tenang dan sedikit serius, tanpa banyak menunjukkan emosi. Tidak seperti di bayangan Ben dan Leon, usia perempuan itu ternyata lebih matang dari usianya.
Nampaknya ia bukan lagi gadis yang di ceritakan oleh Leon. Sampai-sampai Leon pun terlihat menelan ludah sebelum benar-benar ia memperkenalkan dirinya. Leon terdiam beberapa detik, memejamkan mata sambil menjentikkan jari, seperti sedang mencoba mengingat sebuah nama. Ketika ditanya oleh Leon tentang nama, perempuan itu mengangguk. Kemudian dengan kata terbata-bata, Leon menjelaskan maksud kedatangannya. Perempuan itu menyimak, sambil mengangguk berulang. Sementara itu, Ben memusatkan pandangannya pada seorang laki-laki yang tiba-tiba menghampiri mereka.
Laki-laki itu berdiri di belakang perempuan tersebut, lalu memeluk pinggangnya dengan santai, kata-kata Leon pun terhenti seketika. Perhatian mereka beralih ketika perempuan itu, Ann namanya, sedikit menoleh dan berbisik pelan kepada laki-laki itu. Yang ternyata, dia adalah suaminya.
“Tidak apa-apa, kau masuk saja,” bisik Ann.
Laki-laki itu mengangguk, lalu melepaskan pelukannya dan masuk ke dalam rumah, meninggalkan mereka bertiga dalam suasana yang tiba-tiba terasa canggung.
Leon kemudian mulai menjelaskan kejadian di masa lalu dengan hati-hati, memilih setiap kata agar tidak melukai. Ia berterus terang, mengatakan bahwa ia tidak pernah berniat menyakiti, dan kepergiannya yang tiba-tiba dulu bukanlah sesuatu yang ia rencanakan. Suaranya terdengar pelan, namun jujur. Sementara itu, perempuan di hadapannya tetap berdiri diam. Wajahnya tenang, tetapi dingin. Dari sikapnya, terasa jelas bahwa ia memperlakukan Ben dan Leon dengan kurang hangat. Kedua tamu itu tidak dipersilahkan masuk ke dalam rumah. Sebaliknya, mereka dibiarkan berdiri dan berbincang di depan pintu.
Ben hanya diam, memperhatikan percakapan di antara mereka. Akhirnya, Ann membuka suara. Ia tersenyum.
“Jadi, kalian berdua datang hanya untuk meminta maaf dariku?” tanyanya. “Sudahlah, lupakan saja. Hal seperti itu sudah biasa terjadi pada masa itu,” katanya, juga sambil melirik Ben.
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Leon lebih dalam.
“Sekarang kita sudah dewasa. Seharusnya kamu…” Ann mengangkat tangannya, menunjuk Leon, “…tidak lagi tinggal di masa lalu.”
Leon mengangguk perlahan. “Iya,” jawabnya singkat.
“Jadi… setelah ini, kurasa aku bisa tidur lebih nyenyak,” ucap Leon pelan sambil menunduk. “Aku harap kau benar-benar memaafkanku.”
Ia berdeham sebentar, lalu melanjutkan, “Aku hanya ingin menyampaikan itu. Aku tidak mau ada orang yang terluka karena sikapku.”
Ann tersenyum tipis, dan kali ini menatapnya dengan hangat.
“Caramu bicara seperti orang yang besok mau mati saja,” katanya ringan. “Aku sudah memaafkanmu, dari tadi. Sekarang… kalian sebaiknya pergi.”
Leon sedikit membungkuk, sambil menggengam flatcap miliknya.
“Baiklah, terimakasih, dan maaf sudah mengganggu kalian.”
Ben dan Leon berjalan menjauh saat pintu rumah Ann tertutup pelan di belakang mereka. Tidak ada yang mereka katakan lagi. Hanya langkah kaki yang terdengar, menyusuri jalan yang mulai sepi. Di dalam diri Leon, pasti. Ada sesuatu yang terasa retak, seperti wadah lama yang akhirnya pecah. Perasaan yang belakangan ini ia pendam, keruh dan mengendap, perlahan mengalir keluar. Bukan lagi menyakitkan seperti dulu, melainkan terasa lega, meski menyisakan sedikit perih samar. Sepanjang perjalanan menuju halte, Leon berjalan santai sambil merangkul bahu Ben.
Ia bersiul. Ben meliriknya sekilas. Dari raut wajah Leon, terlihat jelas rasa lega yang sulit disembunyikan. Saat itu Ben menyadari sesuatu, bahwa orang seperti Leon pun ternyata sama sepertinya. Mereka sama-sama mudah gelisah ketika isi kepala terlalu penuh, dan sama-sama resah ketika sesuatu dibiarkan terlalu lama mengendap di dalam hati. Di dalam trem yang bergerak pelan, Ben duduk di samping Leon. Suasana tidak terlalu ramai, hanya suara rel dan gesekan roda yang terdengar berulang. Ben sempat diam beberapa saat, seperti menimbang-nimbang kata.
Lalu ia menoleh ke arah Leon. Ia menceritakan tentang malam terakhirnya di tempat currywurst bersama Diandra, tentang ajakan untuk mengikuti sakramen ekaristi pada hari Minggu. Setelah itu, Ben menarik napas sebentar.
“Menurutmu… bagaimana?” tanya Ben, meminta pendapat.
Leon menoleh, sedikit terkejut, lalu memperhatikan Ben dengan lebih serius.
Leon tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke depan, mengikuti garis rel yang seperti tak pernah putus, seolah sedang merangkai kata-kata yang tepat. Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya berbicara.
“Kalau kau bertanya pendapatku…” ucapnya, “itu bukan soal benar atau salah, Ben.”
Ia menoleh, menatap Ben dengan air muka yang lebih tenang.
“Kadang, hal seperti itu bukan tentang keyakinan yang besar. Tapi tentang… apa yang ingin kau cari dari sana.”
Leon mengangkat bahunya sedikit, lalu bersandar.
“Kalau kau datang hanya karena Diandra, mungkin itu tidak akan bertahan lama. Tapi kalau ada sesuatu dalam dirimu yang ingin kau pahami… atau mungkin ingin kau sembuhkan, ya tidak ada salahnya mencoba.”
Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum.
“Lagipula, tidak semua orang pergi ke tempat seperti itu karena mereka sudah percaya. Banyak juga yang datang karena mereka sedang mencari.”
Leon kembali menatap ke depan.