Di sela-sela makan siang, tanpa kabar apa pun dari Diandra, Ben mulai menulis sesuatu di bukunya. Ia menunduk, lalu mencoret beberapa kalimat dengan hati-hati, seperti ia sedang berbicara pada dirinya sendiri. “Aku tidak mengerti,” tulisnya. “Terlalu banyak hal yang harus diabaikan. Termasuk dua hal ini: pertama, aku sangat ingin berbicara denganmu. Kedua, aku tidak ingin mengganggumu.” Ia berhenti sejenak, menatap tulisannya, lalu menutup buku itu perlahan. Pukul satu siang, Ben dan Karl sudah berada di sebuah kedai makan. Hari itu adalah dua hari setelah Ben membuat janji dengan Diandra di Cornerstone, janji yang hingga kini masih menggantung.
Rasanya setelah pulang bekerja, dari Dessler, ia ingin menemuinya, kalau perlu ia ingin datang kerumah Diandra. Walaupun bisa saja Diandra tidak dirumah. Namun Ben tidak sama sekali cemas, di hatinya hanya ingin melihat wajahnya, jika tidak bisa, berdiri di depan pintu rumahnya dirasa sudah cukup membuat hatinya lega. Ada kesadaran bahwa perasaan Ben saat itu indah, tapi mungkin saja sementara. Seperti Karl yang sejak dari tadi menatap sikap Ben yang terlalu lama memandang piring kosong sambil sesekali tersenyum tanpa sebab.
Gelas kaca, piring, asbak, pena, buku dan lamunan Ben. Karl memungut hingga satu diantaranya tidak lagi dalam keadaan lumpuh. Suara deham yang sedikit serak dari Karl terdengar, namun Ben sama sekali tidak menggubris. Apa alasannya Karl sendiri pun tidak tahu, Yang jelas, orang di hadapannya itu tampak seperti seseorang yang duduk sendirian di kedai kopi yang sepi, saat hujan turun rintik-rintik di luar. Di dekat kasir, radio tua memutar lagu jazz dari tahun 60-an, diputar dengan suara statis yang tipis.
Kemudian tiba-tiba, dia memikirkan seseorang, dan rasanya seperti ada seekor kucing kecil yang diam-diam masuk ke dalam rongga dadanya, lalu meringkuk tidur di sana. Hangat, tapi sedikit menggelitik. Beberapa saat kemudian, Ben menatap Karl, bukan untuk menjelaskan perasaannya. Tetapi malah mengajaknya kembali ke Dessler. Karl hanya bersikap biasa terhadap tingkah aneh Ben hari ini. Semacam tidak ada yang di sembunyikan dari seorang Karl, lagi pula ini sudah biasa terjadi pada diri temannya itu. Dan paling tidak, nanti Ben juga akan bicara dengan sendirinya.
Ben dan Karl setelah sampai di panggil oleh Alfred, mereka diminta tolong untuk mengambilkan obatnya di apotek terdekat, Alfred memberikan sebuah kertas berisi resep. Tanpa banyak tanya, mereka berdua langsung mengangguk dan bersiap pergi. Hal seperti itu sebenarnya sudah biasa terjadi. Selama bar tidak ditinggalkan kosong, siapa pun bisa pergi sebentar untuk urusan pribadi atau keperluan mendesak. Tidak ada aturan yang terlalu kaku, asalkan tetap ada yang berjaga. Seperti siang itu, Dave dan Wilhelm sedang bertugas di bar. Jadi Ben dan Karl bisa pergi dengan tenang, memastikan permintaan Alfred segera dipenuhi.
Karena jaraknya tidak terlalu jauh, mereka berjalan kaki. Hingga mereka selesai mengambil obat, mereka kembali. Akan tetapi saat di tengah perjalanan pulang, Ben yang membawa kantong plastik berisi obat, sekonyong-konyong melihat pengemis di bahu jalan sedang tertidur. Sepintas saat dia berjalan melewati pengemis itu, ada sesuatu yang juga melintas di benaknya. Bagaimana jika selama ini Tuhan justru hadir dalam wujud seperti itu, seorang pengemis yang menyamar? Langkah Ben sedikit melambat. Ia sempat berpikir, jika benar begitu, mungkin ia akan berbalik, memberikan beberapa uang, lalu diam-diam berharap sesuatu sebagai balasan.
Namun pikiran itu hanya lewat begitu saja. Ia kembali berjalan, mengikuti Karl, sementara kantong plastik di tangannya sedikit berayun. Setelah dua puluh menit mengambil obat, Ben dan Karl tiba di pintu Dessler, dari luar Alfred tampak tertidur di kursinya, tubuhnya bersandar santai, satu tangan terjatuh lemas di samping kursi, sementara tangan lainnya berada di perut. Kakinya disandarkan di bangku kecil di depan, dan masih mengenakan kaus kaki tebal. Karl yang lebih dulu, membuka pintu lalu di ikuti Ben dari belakang. Karl membangunkan Alfred, kemudian Ben mengulurkan kantong plastik setelah Alfred bangun.
Ketika Ben dan Karl masuk ke dalam bar, Wilhelm langsung mendekat dan berbisik pelan kepada Ben. Ia memberi tahu bahwa tadi ada seorang perempuan yang mencarinya. Ben sedikit terkejut. Ia menoleh cepat ke arah Wilhelm.
“Siapa? Sekarang dia di mana?” tanyanya.
Wilhelm tidak banyak bicara. Ia hanya mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah sudut paling ujung, dekat pilar. Seketika tatapan Ben mengikuti arah itu. Tanpa berpikir lama, ia langsung melangkah cepat menghampiri. Dari kejauhan, Diandra menyadari kehadiran Ben. Ia perlahan mengangkat kepala, lalu tersenyum. Senyumnya kali ini, tidak meninggalkan bekas, tetapi justru tegas, ditujukan oleh siapa senyum itu. Ben sudah di hadapannya, tetapi mulutnya tersendat. Entah bukan atas kehendaknya, barangkali itulah yang di bilang kalau melihat seseorang yang disukai tepat di depan mata sering kali memicu reaksi berantai, baik secara fisik maupun psikologis.
Seperti ada badai kecil di dalam tubuh Ben. Aliran darahnya naik ke wajah, membuat pipi dan telinganya memerah. Ia kehilangan kata-kata. Jantungnya berdetak cepat, seperti sedang berlari maraton, bahkan terasa begitu keras sampai ia bisa mendengar sendiri telinganya. Diandra awalnya duduk dengan kedua lengannya disilangkan di atas meja, tubuhnya sedikit condong ke depan. Ben berdiri tepat di hadapannya, masih belum banyak bergerak. Tak lama kemudian, Diandra bangkit dari kursinya dan melangkah sedikit mendekat.
Kini ia berdiri tepat di depan Ben, tinggi wajahnya sejajar dengan mulut Ben. Kedua tangannya saling menggenggam di depan perut.
“Maaf soal kemarin,” kata Diandra. “Aku menerima suratmu dan sempat membacanya. Tapi aku tidak bisa datang, karena harus menghadiri pra-sakramen.”
“Tidak apa-apa, aku paham,” jawab Ben. Ia mengangguk, lalu menambahkan, “Kau mau minum sesuatu?”
“Tidak, terima kasih. Aku hanya ingin menyampaikan itu saja,” ujar Diandra. Ia menatap Ben sejenak. “Aku tahu, saat itu kamu pasti menungguku. Maaf kalau membuatmu kecewa.”
Ben menggeleng pelan, “Tidak usah dipikirkan. Itu bukan salahmu juga. Aku yang terlalu mendadak memberi kabar.”
Diandra menundukkan wajahnya.
“Oh iya… kalau kau mau, kau bisa ikut menghadiri sakramen bersamaku hari Minggu,” kata Diandra sambil menyibakkan rambut yang sempat menutupi matanya.
Ben tidak langsung menjawab. Ia terlihat berpikir sejenak.
“Sebentar, hari apa tadi?” tanya Ben sambil menggaruk kepalanya.
“Minggu,” jawab Diandra singkat.
Ben mengangguk dua kali.
“Aku harus minta izin dulu, tukar jadwal libur dengan rekanku. Kalau dia mengizinkan, aku ikut. Kalau tidak… aku minta maaf, ya.”
Diandra tersenyum kecil, “Iya, tidak apa-apa. Aku mengerti.”
Lalu Diandra menepuk pelan pundak Ben dengan satu tangan.
“Kalau begitu, aku pulang dulu. Nanti kau tulis saja surat untukku soal itu. Tenang, aku pasti membalasnya.”
Ben mengangguk.
“Iya, aku akan segera mengabarimu,” jawab Ben.
“Setelah ini aku juga mau bicara dulu dengan rekanku,” tutur Ben sedikit gagap.
Diandra tersenyum singkat, lalu perlahan melepaskan tangannya dari pundak Ben. Diandra kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu, meninggalkan Ben sendirian di tempat itu. Langkahnya pelan, namun pasti. Ben tidak memalingkan pandangannya sedikit pun. Ia terus melihat ke arah Diandra, mengikuti setiap langkahnya, hingga sosok itu benar-benar menghilang di balik pintu. Beberapa detik terasa seperti berhenti. Ben masih berdiri di tempat yang sama, tanpa bergerak sedikit pun.
Meski Diandra sudah tidak terlihat lagi, rasanya kehadirannya masih ada di dekatnya. Seakan-akan ia belum benar-benar pergi, padahal sudah beberapa menit berlalu sejak ia keluar. Setelah itu, Ben kembali ke bar. Dalam hatinya ingin sekali Alfred dan Dave mengizinkan rencana kecilnya, berhasil. Pertama-tama yang perlu ia lakukan, berbicara dengan Dave, kemudian Alfred. Dan yang paling penting sebenarnya dari semua itu, ia perlu menanyakan kata hatinya terlebih dahulu. Ben mulai bertanya dalam hati, apakah ia perlu menerima tawaran dari Diandra.
Kalau itu memang bisa membantu menyembuhkan hati dan jiwanya, apakah ia harus berani melangkah ke arah yang berbeda, atau setidaknya memahami batasan-batasan dalam dirinya sendiri. Selama ini pun ia sadar, ia juga bukan seorang Yahudi yang benar-benar taat. Mungkin justru karena itu, ia merasa berada di persimpangan, antara tetap pada yang ia kenal, atau mencoba sesuatu yang baru di jumpai. Ada saat-saat tertentu ketika Ben merasa keyakinan yang ia pegang sekarang hanyalah seperti warisan dongeng ninabobo yang dulu diajarkan kepada orang-orang yang kini sudah tiada. Bahkan ia sendiri tidak pernah benar-benar tumbuh bersama ajaran itu.
Sejak kecil, ia tidak banyak menerima doktrin atau dogma secara utuh, karena hidupnya berpindah dan diasuh oleh orang lain. Mungkin itu sebabnya, hingga sekarang, ia sering merasa berdiri agak jauh, tidak sepenuhnya terikat, juga tidak benar-benar lepas. Pada kesempatan lain, Ben bahkan tidak pernah benar-benar merasa ingin mencari tahu tentang warisan yang dibawa keluarganya. Ia tidak berusaha mempelajarinya, apalagi memahaminya lebih dalam. Dan barangkali, semua itu berawal dari sikapnya sendiri yang cenderung acuh. Ia membiarkan hal-hal itu lewat begitu saja, tanpa merasa perlu ada yang penting.
Ben meminta izin kepada Dave untuk menukar jadwal liburnya. Percakapan itu berlangsung singkat, hampir tanpa emosi, seperti dua orang yang sama-sama tahu bahwa keputusan kecil hari itu akan mengubah arah sesuatu yang lebih besar. Dave mengangkat bahu, lalu mengangguk, terdengar seperti pertukaran hari libur hanyalah urusan biasa, padahal bagi Ben, itu seperti memindahkan satu batu kecil dari jalur yang ingin dia lewati. Ben tidak menunjukkan air muka girang di hadapan Dave, tetapi justru hanya memperlihatkan sedikit senyum yang sudah lama di nantikan.
Malam itu, di rumah, Ben sempat duduk dengan kertas kosong di depannya. Ia berniat menulis surat untuk Diandra, tetapi tidak satu pun kata terasa tepat. Ia akhirnya melipat kertas itu tanpa tulisan, lalu membiarkannya tergeletak di meja, Ia tampak ragu untuk menuliskan beberapa kalimat. Semua terasa rumit begitu ia ingin tuangkan ke dalam kata-kata. Karena itu, ia sengaja tidak menjanjikan kedatangannya. Ia takut memberi harapan kepada seseorang. Pengalaman kemarin masih teringat jelas. Bagaimana jika kali ini ia menulis surat, memberi kabar bahwa ia akan datang, tetapi saat harinya tiba, justru ia yang mengingkari janji itu? Pikiran itu membuatnya memilih diam, menahan diri untuk tidak mengatakan terlalu banyak.
*
Pagi hari Minggu, sebelum kota benar-benar terbangun, Ben sudah berdiri di depan rumah Diandra. Udara masih dingin, dan jalanan terasa seperti belum sepenuhnya nyata. Ia berdiri di sana cukup lama, tampak sedang menunggu sebagian dirinya lagi menyusul kesini. Ada perasaan aneh menyelinap tiba-tiba, seperti ia telah berjalan jauh hanya untuk sampai pada sebuah pintu yang tampak benar-benar semu. Ia tidak mengetuk dengan tergesa, hanya pelan, sekali. Setiap detiknya memberi ruang baginya untuk bertanya, apakah ini langkah yang ia pilih, atau langkah yang selama ini diam-diam memilih dirinya.
Ben mengetuk pintu kedua kalinya, dan selang beberapa menit, Diandra akhirnya keluar. Diandra keluar dari pintu dengan mengenakan gaun panjang berwarna gelap, dihiasi motif bunga-bunga kecil yang tersebar halus di seluruh kain. Potongan gaunnya sederhana dan pas di tubuh, tanpa banyak detail berlebihan. Tapi gaun itu memiliki belahan di bagian bawah, yang memperlihatkan sedikit celana panjang berwarna biru yang ia kenakan di dalamnya. Rambutnya diikat ke belakang, membuat wajahnya terlihat lebih jelas. Dilihat-lihat sama sekali ia hanya mengenakan sesuatu yang nyaman untuk dirinya sendiri.
Wajahnya hanya penuh senyum saat pertama melihat siapa yang berdiri di depan pintu, energi yang ia miliki pada pagi itu, terasa sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya. Sampai-sampai Ben pun di buat tidak berkedip. Mungkin orang yang berdiri di hadapannya sekarang bukanlah manusia, tapi malaikat yang benar-benar lupa membawa kedua sayapnya, pikir Ben.
“Kau datang juga akhirnya,” kata Diandra sambil tersenyum.
“Iya… tapi awalnya aku ragu,” jawab Ben. “Aku takut malah membuatmu kecewa. Makanya waktu itu aku sengaja tidak memberi kabar. Tapi sebenarnya aku memang ingin datang.”
Lagi-lagi Diandra hanya tersenyum, menatap Ben dengan tenang.
“Aku tidak akan memaksamu untuk ikut. Lagipula, ini semua soal kebutuhan batinmu sendiri.”
Ben mengangguk pelan.
Diandra kemudian meraih tangan Ben.
“Kalau begitu, ayo kita berangkat,” ujarnya, lalu dia mulai melangkah lebih dulu.
Ben tidak benar-benar tahu apa yang ia cari saat berjalan berdampingan dengan Diandra menuju gereja pagi itu. Diandra berjalan di sampingnya, tidak sedikit pun berbicara, hanya sesekali melirik, paling tidak sebatas memastikan Ben masih ada di sebelahnya. Mereka datang ke gereja yang sama kemarin. Di dalam gereja, semuanya berjalan dengan ritme yang teratur. Orang-orang duduk rapi, suara langkah pelan, dan gema doa yang terdengar seperti sesuatu yang sudah diulang ribuan kali. Ben dan Diandra duduk bersebelahan di bangku kayu panjang, ketika misa berlangsung, Diandra menundukkan kepala dengan khusyuk.
Sementara itu, Ben hanya mengikuti dengan mata. Ia melihat roti dan anggur diangkat oleh seorang imam, sesuatu yang, bagi banyak orang di ruangan itu, bukan lagi sekadar simbol. Ada keyakinan yang perlahan mengisi ruangan, seperti ada sesuatu yang telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Ben tidak sepenuhnya mengerti tentang itu. Tentang bagaimana roti bisa menjadi tubuh, dan anggur menjadi darah. Tentang bagaimana sebuah ritual bisa menyatukan begitu banyak orang dalam satu keheningan yang sama.
Tapi entah kenapa, ia tidak merasa perlu untuk segera mengerti. Di sebelahnya, Diandra tampak tenang. Seperti orang yang sudah menemukan tempat dan namanya sejak lama. Dan untuk pertama kalinya, Ben merasakan sesuatu yang ganjil, tapi tidak mengganggu. Seperti duduk di sebuah ruangan yang bukan miliknya, tapi tetap memberinya rasa diterima. Ia tidak datang bukan sebagai seseorang yang percaya, tapi justru sebagai seseorang yang sedang mencoba untuk mengerti. Ben sempat bertanya dalam hati, trik apa sebenarnya yang dimainkan oleh orang-orang di tempat ini, hingga siapa pun bisa tunduk dan merasa takut.