“Apakah ini delusi? Halusinasi? Sebenarnya apa yang sedang terjadi padaku?” Ben menulis kalimat itu di bukunya sambil terbaring di atas ranjangnya, dengan tinta yang sedikit menekan kertas. Tulisan tangannya tidak rapi, seperti pikirannya yang sedang berantakan. Lampu di kamarnya redup, dan bayangannya sendiri tampak lebih panjang di dinding. Ia berhenti sejenak, menatap kalimat itu, seolah berharap jawabannya muncul dari sana. Rasanya ia sendiri ingin menahan pintu yang terbuka oleh sosok yang entah itu siapa, dan lalu membanting pintu itu dengan keras.
Beberapa hari setelahnya, Ben dan Diandra sepakat untuk tidak menunda lagi. Mereka ingin mencari jawaban yang lebih jelas, bukan hanya dari dugaan atau perasaan. Mereka memutuskan menemui Millena, bukan sekadar untuk bercerita, tapi untuk benar-benar memahami apa yang sedang terjadi pada Ben. Setidaknya, mereka ingin tahu apa nama medis dari semua itu, dan apakah ada cara yang bisa membuatnya perlahan membaik. Libur Ben jatuh pada hari Rabu, lalu pergilah mereka berdua pada pagi itu.
Ben datang ke rumah Diandra sekitar pukul sembilan. Tapi tadi di rumah sebelum berangkat, Ben sempat sarapan, saat Ben datang Diandra juga sempat menawarkan untuk sarapan dulu, tapi Ben bilang ia sudah memakan dua telur mata sapi dan roti untuk perutnya, jadi mereka langsung berangkat. Mereka naik trem menuju Cornerstone. Sesampainya di sana, mereka berdiri sebentar di depan pintu. Tepat saat itu, seseorang baru saja keluar dari dalam. Wajahnya terlihat lelah, tapi juga sedikit lega, seperti seseorang yang latihan beban selama tiga bulan berturut-turut, namun ia puas dengan hasilnya.
Barangkali ia juga seorang pasien, atau paling tidak pernah berada di situasi yang sama. Ben dan Diandra saling pandang singkat, lalu akhirnya mereka masuk ke dalam. Angin tidak membawa kabar apa pun tentang orang yang baru saja keluar tadi. Sosok itu seperti hilang begitu saja di balik jalan, saat Ben menoleh ke belakang. Di dalam, Millena sudah berdiri, seolah memang sedang menunggu. Padahal, kedatangan Ben dan Diandra tidak direncanakan sebelumnya. Mereka datang tanpa memberi kabar.
Diandra sempat berhenti sejenak, merasa ada sesuatu yang aneh, kedatangan mereka seakan sudah lebih dulu diketahui. Namun ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya melangkah masuk bersama Ben, mendekati Millena yang sudah menatap mereka. Millena tersenyum saat melihat mereka. Senyumnya tipisnya, hanya sebagai bentuk sambutan, tanpa maksud lain. Tanpa berlama-lama ia langsung meraih gagang pintu dan membukanya. Di balik pintu itu, mungkin memang khusus sudah disiapkan sejak awal. Lalu ia mempersilakan Ben dan Diandra masuk lebih dulu.
Di dalam, sudah tersedia tiga kursi yang disusun rapi. Ben melangkah masuk dan memilih duduk terlebih dahulu, seolah memang dialah tokoh utamanya. Ben sempat melirik sekeliling. Ada sesuatu yang terasa ganjil, padahal Ben yakin sekali baru saja ada seseorang duduk di kursi itu, tetapi tidak ada jejak apa pun yang tertinggal. Tidak ada lipatan, tidak bergeser, bahkan bantalan kursinya tetap rata seperti belum pernah diduduki. Mungkin Millena sudah merapikannya sebelum mereka masuk, atau mungkin entah. Seseorang barusan sengaja menyiapkan untuk orang berikutnya.
Diandra duduk di sebelah Ben, lalu tak lama Millena pun duduk. Ruangan itu tiba-tiba terasa seperti ruang sidang. Hawanya berbeda, menekan dengan cara yang halus. Ben sempat berpikir, mungkin akan lebih mudah jika ia menangis saja di luar, daripada duduk di dalam dan menghadapi semuanya secara langsung. Tapi anehnya, dadanya tidak sedikit pun berdebar. Seperti ada yang lupa, Millena berdiri lagi, lalu berjalan ke meja kecil di sudut ruangan. Mungkin niatnya baik, untuk mencairkan suasana, ia mengambil moka pot, lalu menuangkan kopi ke dalam dua cangkir.
Aliran kopi hitam itu masih pekat dan panas. Asap tipis naik dari bibir moka pot, kemudian menguap pelan di udara. Aroma khas kopi mulai memenuhi ruangan, memberi sedikit jeda di antara ketegangan yang belum sempat terlaksana. Millena meletakkan dua cangkir di meja, tepat di depan Ben dan Diandra.
“Terima kasih,” ucap mereka hampir bersamaan.
Millena hanya mengangguk singkat, lalu berbalik ke meja kecil tempat ia tadi menuang kopi. Ia mengambil cangkir terakhir, yang memang untuk dirinya sendiri. Sebelum duduk atau mulai berbicara, ia berhenti sejenak. Cangkir itu ia dekatkan ke wajahnya, lalu ia menghirup aromanya. Tidak terburu-buru, seperti memberi waktu beberapa detik sebelum percakapan dimulai.
“Aku baru beli alat ini kemarin,” kata Millena sambil tersenyum tipis. “Pagi ini baru sempat aku coba.”
Ia mengangkat cangkirnya sebentar, lalu melanjutkan, “Akhir-akhir ini aku jadi suka sekali minum kopi. Makanya waktu ke Tchibo, aku langsung memutuskan untuk membelinya.”
Setelah itu, ia meletakkan cangkirnya kembali ke meja dengan pelan.
“Oh iya, sebenarnya ada hal apa yang ingin kalian bicarakan?” tanya Millena.
Diandra menarik napas sebentar, lalu mulai menjelaskan. Suaranya tenang, pelan, tetapi jelas. Ia menceritakan satu per satu hal yang selama ini terjadi pada Ben, tentang kecemasannya, suara-suara yang kadang muncul, juga bayangan yang sulit dijelaskan secara rinci. Sementara itu, Ben hanya diam. Ia menatap wajah dan bibir Diandra saat berbicara, memperhatikan setiap kata yang keluar. Tatapannya tenang, tapi ada kekaguman yang tidak ia sembunyikan. Ia melihat cara Diandra memilih kata, bagaimana ia menjelaskan tanpa ragu.
Di tengah semua itu, Ben merasa sedikit lebih tenang. Bukan karena dadanya berhenti berdebar, tapi karena ada seseorang yang mau duduk di sampingnya dan menjelaskan semuanya dengan sabar. Millena mendengar, kadang terlihat sedikit mengangguk. Rupanya penjelasan dari Diandra cukup jelas. Lalu beberapa detik setelah Diandra selesai bicara, Millena mengangkat cangkirnya lagi. Membiarkan lidahnya menerima rangsangan dari kopi sebelum mengemukakan pendapatnya, lalu Millena meletakkan cangkirnya perlahan, dan menatap Ben dengan tenang.
Ia tidak langsung bicara, seolah memastikan kata-katanya nanti bisa diterima dengan baik.
“Dari apa yang kamu ceritakan…,” katanya sambil menunjuk Diandra, “kemungkinan besar ini mengarah ke skizofrenia,” ia menoleh ke Ben.
Ben sedikit mengernyit, tapi tetap diam.
“Skizofrenia itu bukan berarti kamu ‘gila’ seperti yang sering disalahpahami orang,” lanjut Millena. “Ini kondisi di mana cara seseorang memahami realitas mulai terganggu.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan lebih perlahan.
“Misalnya, kamu bisa mendengar suara yang sebenarnya tidak ada. Itu disebut halusinasi. Atau kamu melihat bayangan yang orang lain tidak lihat.”
Ben menunduk sedikit.
“Lalu ada juga yang disebut delusi, atau waham,” kata Millena. “Kamu bisa merasa sangat yakin pada sesuatu yang sebenarnya tidak benar. Contohnya, merasa diikuti, diawasi, atau punya kemampuan tertentu yang tidak dimiliki orang lain.”
Diandra diam, mendengarkan.
“Selain itu, pola pikirmu juga bisa jadi tidak teratur. Kamu mungkin merasa sulit fokus, atau kata-kata yang keluar tidak selalu tersusun dengan jelas. Itu yang disebut kekacauan berpikir.”
Millena menatap Ben lebih dalam, tapi tetap dengan nada yang tenang.
“Perilaku juga bisa berubah. Kamu jadi lebih sering menarik diri, kehilangan motivasi, atau mulai mengabaikan hal-hal sederhana seperti merawat diri.”
Ben menghela napas pelan.
“Dan dalam beberapa kasus,” lanjut Millena, “seseorang bisa merasa lebih aman dengan menjauh dari dunia. Bahkan tanpa sadar, mulai membangun ‘dunianya sendiri’. Bukan karena ingin berbohong, tapi karena realitas yang ia rasakan sudah berbeda.”
Ruangan kembali hening sejenak.
“Yang penting kau tahu,” tambah Millena, suaranya lebih lembut, “ini bukan sesuatu yang tidak bisa ditangani. Tapi kau memang perlu bantuan untuk memahaminya… dan perlahan menghadapinya.”
“Apa penyakit semacam itu bisa di sembuhkan total?” tutur Ben.
Millena mengangkat bahunya, sebelum menjawab.
“Begini,” lanjut Millena, “Skizofrenia tidak dapat disembuhkan sepenuhnya dalam arti hilang total seperti menyembuhkan demam. Tapi, skizofrenia sangat bisa dikelola dan dikendalikan.”
Ben menelan ludah.
Millena menyandarkan punggungnya sebentar, lalu menatap Ben dengan tenang.
“Dalam dunia medis, obat-obatan memang jadi dasar utama perawatan,” katanya. “Skizofrenia itu berkaitan dengan ketidakseimbangan zat kimia di otak, terutama dopamin dan serotonin.”
Ben mengangguk,
“Tapi obat saja tidak cukup,” lanjut Millena. “Obat antipsikotik hanya salah satu bagian dari penanganan. Kamu tetap butuh proses lain, seperti terapi dan pola hidup yang lebih teratur.”
Ia mengambil jeda sebentar, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tenang.
“Banyak orang dengan kondisi seperti ini tetap bisa hidup dengan baik. Mereka bisa bekerja, punya hubungan sosial, bahkan menjalani hidup yang stabil, asal perawatannya dijalani dengan disiplin.”
Diandra melirik Ben, memastikan ia masih mendengarkan.
“Ada juga hal-hal yang perlu kamu hindari,” kata Millena. “Alkohol, obat-obatan terlarang, itu bisa memperburuk kondisi. Lalu soal lingkungan, dukungan dari orang terdekat sangat penting.”
Ia menatap keduanya bergantian.
“Keluarga atau orang di sekitarmu perlu memahami situasimu. Jangan sampai mereka memberi tekanan berlebihan, karena itu bisa memicu stres. Tapi di sisi lain, kamu tetap butuh struktur dan dukungan emosional yang stabil.”
Ben menarik napas pelan.
Millena kemudian menambahkan, “Dan benar seperti yang Diandra bilang tadi… dalam kondisi seperti ini, kamu bisa mengalami apa yang disebut hiperealitas.”
Millena terdiam sejenak, lalu menatap Ben seperti sedang mencari cara yang lebih sederhana untuk menjelaskan.
“Bayangkan kau sedang berada di Disneyland,” katanya. “Semua yang ada di sana dibuat semenarik mungkin, warna-warna cerah, suara, suasana. Bahkan kadang terasa lebih hidup daripada dunia di luar.”
Ben mengangguk, mencoba membayangkan.
“Padahal kita tahu itu buatan,” lanjut Millena. “Tapi saat kita ada di dalamnya, kita bisa terbawa. Kita ikut percaya, ikut merasa.”
Diandra ikut menoleh ke arah Ben.
“Nah, hiperealitas itu mirip seperti itu,” kata Millena. “Apa yang kamu rasakan di dalam pikiranmu bisa terasa lebih kuat, lebih nyata, dibandingkan kenyataan yang sebenarnya ada di depanmu.”
“Makanya,” lanjutnya, “kalau kamu dipaksa keluar dari ‘dunia’ itu dengan cara kasar, rasanya bisa seperti ditarik paksa dari tempat yang sedang kamu yakini.”
Ia menatap Ben dengan tenang.
“Lebih baik ditemani pelan-pelan. Diingatkan bahwa dunia di luar itu tetap ada, tanpa harus menghancurkan apa yang kamu rasakan saat itu.”
Ia berhenti sejenak, memastikan Ben memahami.
“Kadang apa yang kamu rasakan di dalam pikiran bisa terasa sama nyatanya, atau bahkan lebih kuat dibandingkan kenyataan itu sendiri.”
“Coba saja kau berdiri beberapa menit, tanpa memikirkan apa pun,” kata Millena. “Pikiran kosong. Tapi tanpa sadar, tubuhmu mulai bergerak aneh.”