Tanggal dua bulan Januari 1972, Ben berulang tahun ke 31, tepat dua bulan setelah kepergian Diandra. Ben memutuskan keluar dari pekerjaan. Masa-masa itu membuat Ben kembali harus menyingkirkan batu besar dalam pendakiannya. Namun kali ini, ia tidak hanya berusaha melewatinya, tetapi juga menancapkan benderanya sendiri di puncak. Hal demikian seperti ini, Yossi Bennayoun membentuknya sendiri. Ia menjadi lebih dewasa dalam melihat keadaan, dan lebih bijak dalam mengambil langkah. Apalagi setelah mendengar dari Diandra tentang kematian orang tuanya yang, sebenarnya mati dibunuh. Mereka digiring ke sebuah lubang dengan merangkak dan ditembak di bagian kepala mereka satu per satu.
Yang selama ini Ben percaya kedua orang tuanya adalah relawan perang, itu semua hanya propaganda agar dunia seolah-olah segera pulih dan berganti melupakannya. Pada awalnya, Diandra yang diketahui oleh Yossi Bennayoun adalah manusia biasa, ternyata dia adalah korban perang, yang tertinggal di puing tembok Berlin. Selama ini arwahnya menuntun orang-orang seperti Ben untuk memperlihatkan kenyataan saat waktunya tiba. Entah bagaimana hal itu bisa dijelaskan secara sains. Tidak ada yang benar-benar bisa memaparkan dengan logika yang mudah.
Tidak ada yang menyangka, bahwa Diandra kemarin bisa hadir di masa itu dengan wujud seperti manusia biasa; ia benar-benar hidup, berjalan, berbicara, dan terasa nyata seperti siapa pun yang ada di sekitarnya. Yossi Bennayoun bahkan menganggap Diandra sendiri terlalu sempurna, hampir-hampir tidak memiliki cela. Sosoknya hanya satu di dunia ini, merasa memujanya bukanlah suatu yang berlebihan bagi Ben. Itu masih terlihat masuk akal. Di lembar terakhir jurnal Ben, ia menulis tentang Diandra untuk terakhir kali.
Goresan tinta menari pelan. Ia mencoba membayangkan satu bintang paling terang di langit. Bukan untuk berharap, tapi tampak ingin menahan sesuatu yang hampir pergi, seperti angin yang berusaha ia cegat sebelum kembali ke pangkuan surga. Ia menulis tentang seseorang yang tidak bisa ia jelaskan sepenuhnya. Tentang cara orang itu bersikap, yang tetap terasa tenang bahkan saat melakukan kesalahan. Tentang kehadiran yang membawa ketenangan teramat aneh, seperti aroma dupa yang tidak terlihat tapi bisa dirasakan.
Dan tentang kebahagiaan kecil yang, entah bagaimana, terasa lebih luas dari ruang di sekitarnya. Ia menyadari, menyayangi orang itu terasa seperti melanggar sesuatu yang tidak tertulis. Namun meninggalkannya juga bukan pilihan yang lebih baik. Ada risiko di kedua sisi, dan ia berada di tengahnya. Di akhir catatan, ia menulis satu kalimat lagi, lebih pendek dari yang lain. Kadang, kehilangan bukan akhir, tapi cara lain untuk menemukan kembali sesuatu, dalam bentuk yang berbeda. Begitulah perasaannya, sebuah kesedihan yang mustahil dipahami orang lain.
Hidup tetap berjalan, membuka babak baru yang terasa seperti kehidupan kelima baginya. Di fase ini, ia berubah, lebih berani mengikuti dorongan dalam dirinya, seperti remaja yang mengalami libido tinggi. Ia sadar, ada sesuatu dalam dirinya yang tidak akan bisa sembuh. Bahkan ia sendiri tidak yakin apakah itu bisa benar-benar hilang. Kadang ia berpikir, mungkin di masa depan akan ada seseorang seperti Diandra lagi, yang membantunya melewati semua ini. Tapi pikiran itu tidak lagi ia pegang terlalu erat.
Sekarang, Ben memilih berjalan dengan caranya sendiri. Ia tidak lagi terlalu sibuk mencari jawaban atas segalanya. Yang ia yakini sangat-sangat sederhana, hidup ini sudah menempatkannya di jalan tertentu, dan ia akan terus melangkah, mengikuti arah yang ia rasa benar. Sejak dulu, cara Ben berpikir selalu berjalan dalam dua arah yang saling bertentangan. Ia bisa meyakini sesuatu dengan kuat, lalu di saat yang sama meragukannya tanpa alasan yang jelas. Di kepalanya selalu ada dua hal yang berlawanan, tapi mereka sering hidup berdampingan.
Ben bisa merasa dekat dengan seseorang, namun sekaligus merasa jauh. Ia bisa percaya pada satu jalan, tapi tetap ingin berbelok ke arah lain. Pikirannya seperti lorong dengan dua pintu yang selalu terbuka bersamaan. Ia melangkah ke salah satu, tapi bayangan dirinya sudah lebih dulu masuk ke pintu yang lain. Bagi sebagian orang, melihat impian mereka terpampang di papan iklan adalah sebuah kehormatan. Itu seperti bukti bahwa mereka pernah sampai di satu titik yang diinginkan. Namun, ada juga yang percaya bahwa itu hanya berlangsung sebentar, paling lama dua bulan.
Setelah itu, wajah dan mimpi itu akan diganti, dilupakan, apalagi jika tidak ada yang benar-benar tertarik atau membelinya. Suatu hari, Ben berjalan di sebuah taman di Berlin. Ia baru saja pulang bekerja ketika seorang anak laki-laki menghampirinya. Usianya sekitar sepuluh tahun. Dengan ragu, anak itu menawarkan diri untuk bekerja apa saja. Satu-satunya yang ia punya hanyalah beberapa buku panduan yang ia jual seharga dua dm atau setengah dolar per eksemplar. Ben sempat mendengarkan ceritanya.
Dalam setahun, anak itu berpindah-pindah tempat. Ia pernah bekerja di toko sulap, membantu pertunjukan kecil. Namun tidak lama, ia sadar bahwa yang ia sukai bukan trik sulapnya, tetapi reaksi orang-orang, tawa mereka, perhatian mereka. Dari situ, ia mencoba melawak dengan caranya sendiri. Tapi suatu saat, ia berkata pada Ben dengan wajah datar, bahwa ia tidak merasa dirinya lucu. Ia hanya merasa berbeda. Bukan penghibur, melainkan lebih terlihat seperti seseorang yang berjalan di batas tipis antara sadar dan tidak. Dan sejak itu, ia mulai menyebut dirinya bukan sebagai anak yang lucu, tapi sebagai anak yang gila.
Dari pengalaman-pengalaman itu, Ben mulai melihat manusia dengan cara yang berbeda. Ia merasa setiap orang membawa sesuatu yang tidak terlihat, seperti kemampuan yang tersembunyi di balik tubuh mereka. Dunia, dalam pikirannya, seperti wadah besar, tempat berbagai peran berjalan bersamaan untuk menjaga keseimbangan. Setiap orang memiliki kelebihan masing-masing, meski tidak selalu disadari. Ada yang kuat pada instingnya. Mereka peka terhadap keadaan sekitar, bisa merasakan perubahan sebelum benar-benar terjadi, seperti memiliki indra tambahan yang membimbing langkahnya.
Ada juga yang unggul dalam kekuatan fisik. Tubuh mereka kokoh, gerakannya tegas, dan kehadirannya terasa nyata. Sering kali, merekalah orang-orang yang berdiri di garis terdepan demi orang yang mereka cintai, menghadapi sesuatu secara langsung. Lalu ada yang memiliki pengaruh lewat dirinya sendiri. Bukan karena kekuatan atau kecepatan, tapi karena cara mereka hadir. Tatapan, suara, dan sikap mereka mampu membuat orang lain diam, mendengar, bahkan mengikuti tanpa banyak pertanyaan. Bahkan Ben sendiri tidak tahu, apakah semua itu benar-benar bisa dijelaskan.
Tapi baginya, setiap orang seperti membawa satu unsur, seperti elemen yang berbeda dalam satu dunia yang sama. Dan mungkin, semua itu ada bukan tanpa alasan. Masing-masing berjalan di jalurnya, menjaga keseimbangan dengan cara yang tidak selalu terlihat. Penderitaan dan kesedihan pernah menatap Ben cukup lama. Tapi dari semua itu, ia mulai memahami satu hal. Seseorang pria bisa saja berkali-kali dihancurkan, tapi tidak serta-merta benar-benar kalah. Alfred pernah mengajarkan sesuatu kepadanya, bahwa kekalahan fisik atau kekalahan hasil, bukan berarti kekalahan mental.
Terkadang yang menentukan bukan apa yang terjadi di luar, tetapi bagaimana seseorang bertahan di dalamnya. Selama lebih dari dua puluh tahun, Ben berjalan tanpa hasil yang jelas. Orang-orang mungkin melihatnya sebagai seseorang yang kurang beruntung. Tapi di dalam dirinya, ia merasa sedang belajar sesuatu yang lain, seperti mengemudikan kapal di tengah laut yang tidak selalu tenang. Ia tetap mengemudikan kapal, apa pun yang datang. Rasa sakit, baik yang terasa di tubuh maupun yang tidak terlihat, ia terima tanpa banyak keluhan. Mungkin saja, bukan karena ia kuat sepenuhnya, bisa jadi karena ia memilih untuk tidak berhenti.
Bagi Ben, rasa sakit maupun kekecewaan bukan hanya sesuatu yang harus dihindari lagi. Ia melihatnya sebagai ujian yang diam-diam mengukur dirinya sendiri. Dan dari cara ia meresponsnya, ia mulai mengenal seperti apa sebenarnya kekuatan yang ia miliki. Ben membuat semacam judul khusus yang ia buat sendiri, lalu meletakkannya kedalam sebuah lemari yang ia beri nama pengalaman. Pengalaman hanyalah nama yang manusia berikan untuk kesalahan di masa lalunya. Rasa sakit yang diterima oleh orang adalah hal mutlak, pasti akan ada. Namun, penderitaan adalah sebuah pilihan.
*
Malam sebelumnya beberapa bulan lalu. Pada malam sebelum Diandra pergi, kepergiannya terjadi dengan cara yang sulit dijelaskan, hanya bisa dibayangkan lewat imajinasi yang nyaris melampaui batas manusia. Paginya, Ben dan Diandra berjalan menyusuri sekitar Rathaus Schöneberg. Udara pagi itu terasa sejuk dan langit menggambarkan seperti malamnya akan turun hujan. Mereka berada di tengah pasar yang sedang ramai. Beberapa kios sudah buka, para penjual menata sayuran segar di depan kios. Ben dan Diandra berhenti di salah satu kios, memilih bahan untuk makan malam.
Mereka berencana membuat sup kari. Diandra memeriksa beberapa tomat, menekannya pelan untuk memastikan kematangannya. Sementara itu, Ben berdiri di dekat keranjang wortel, memilih satu per satu dengan gerakan yang tidak terlalu yakin.
“Yang ini bagus?” tanya Ben, mengangkat satu wortel.
Diandra melirik, lalu tersenyum, “Lumayan. Ambil saja.”
Saat Ben hendak berpindah ke sisi lain, Ben berpapasan dengan Dave. Mereka saling menatap sebentar, lalu sama-sama menganggukkan kepala, dan juga tidak ada tanda-tanda percakapan yang berlanjut. Dave melanjutkan langkahnya, dan Ben kembali ke sisi Diandra. Sehabis dari pasar membeli beberapa bahan, mereka kembali ke rumah Ben. Hujan turun menjelang malam. Suaranya begitu rapat dari balik jendela, sesekali disusul petir yang membuat udara terasa lebih dingin. Diandra berdiri di dekat meja dapur, memotong daging ayam dan wortel dengan gigih.
Saat yang sama, Ben memperhatikan panci di atas kompor, memastikan airnya tidak menyusut. Ben mengangkat tutup panci, uap hangat langsung menyentuh wajahnya.
Diandra melirik sekilas, “Ben,” bisiknya, “kenapa kau memilih jadi bartender?”
Ben menoleh sebentar, lalu kembali fokus pada panci.
“Entahlah… mungkin karena aku merasa cocok saja.”
Diandra tersenyum sambil mengangguk.
“Kalau begitu, menurutmu apa hal paling penting yang harus dimiliki seorang bartender?”
Ben diam sejenak, seperti menyusun jawabannya. Suara hujan tetap terdengar di luar.
“Menurutku… naluri dan ketelitian,” tutur Ben.
Diandra berhenti memotong, mendengarkan.
“Semangat dan usaha itu memang penting,” lanjut Ben.
“Tapi kalau kau tidak punya naluri dan tidak teliti, semuanya jadi percuma. Kau tidak akan bisa bertahan lama di balik bar, ” katanya sambil menutup panci dengan hati-hati.
“Dua hal itu lebih seperti syarat dasar,” tambahnya. “Bukan sekadar kualitas tambahan.”
Diandra mengangguk kecil.
“Bayangkan mobil semewah apa pun,” kata Ben sambil tersenyum, “kalau tidak ada bensin, tetap tidak akan jalan.”
Lalu Diandra tertawa kecil, “Iya juga.”
Diandra melanjutkan memotong dengan ritme pelan. Potongan wortel dimasukkan ke dalam mangkuk, disusul potongan daging ayam. Setelah itu, ia menyerahkan mangkuk tersebut kepada Ben.
“Ini,” katanya singkat.
Ben menerimanya, lalu menuangkan isi mangkuk ke dalam panci yang sudah mendidih.
“Ben…apa kau mencintai pekerjaanmu sekarang?” tanya Diandra sambil membersihkan tangannya.