Hanya Kita Berdua

Bilsyah Ifaq
Chapter #1

Sisa Debu Perceraian

Aroma kayu lapuk dan debu tipis menyambut Sarah saat ia mendorong pintu kontrakan barunya yang sempit. Di sampingnya, Rio berdiri mematung sambil memeluk erat tas ransel bergambar robot yang warnanya sudah mulai memudar. Ruangan itu hanya beralaskan semen dingin, jauh berbeda dari rumah megah penuh teriakan yang baru saja mereka tinggalkan selamanya.

Sarah berlutut di depan putranya, lalu merapikan kerah baju Rio dengan gerakan jemari yang gemetar namun penuh penekanan. Ia selalu memastikan pakaian Rio rapi, seolah kerapian itu adalah satu-satunya benteng pertahanan harga diri mereka yang tersisa. "Di sini cuma ada kita berdua, Sayang. Tidak akan ada lagi suara pintu yang dibanting atau tangisan di tengah malam," bisiknya dengan nada suara yang tenang namun tajam.

Rio hanya mengangguk pelan, matanya menatap nanar pada dinding ruang tamu yang catnya sudah mengelupas di sana-sini. Sarah segera berdiri dan mulai membongkar kardus berisi peralatan dapur seadanya yang ia bawa dengan susah payah menggunakan taksi daring. Setiap denting piring yang ia tata di rak kayu tua itu terdengar seperti genderang perang bagi Sarah untuk memulai hidup baru yang mandiri.

Malam harinya, saat hujan mulai membasahi atap seng kontrakan yang bising, Sarah duduk di sudut ruangan sambil menghitung sisa uang di dompetnya. Ia memijat pangkal hidungnya, sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali ia harus membuat keputusan finansial yang sulit demi keberlangsungan hidup Rio. Baginya, setiap rupiah yang keluar haruslah menjadi investasi bagi kebahagiaan putra tunggalnya tanpa campur tangan lelaki mana pun.

Tiba-tiba, suara ketukan keras di pintu kayu yang rapuh itu mengejutkan mereka berdua hingga Rio melompat dari tempat tidurnya. Sarah segera berdiri tegak, menyembunyikan rasa takutnya di balik tatapan mata yang dingin dan waspada saat ia mendekati lubang intip pintu. Di luar sana, berdiri seorang pria asing berseragam yang membawa sebuah amplop cokelat tebal dengan logo firma hukum yang sangat ia kenal.

Sarah menarik napas panjang, lalu mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih karena menahan amarah yang meluap. Ia sudah bersumpah tidak akan membiarkan masa lalu menyeret mereka kembali ke dalam lubang penderitaan yang sama, apa pun risikonya. Dengan gerakan cepat, ia mengunci pintu ganda dan mematikan lampu ruang depan, membiarkan kegelapan menyelimuti mereka dalam keheningan yang mencekam.

Di bawah temaram lampu tidur, Rio menatap ibunya dengan penuh tanya, namun Sarah hanya memberikan isyarat diam dengan meletakkan telunjuk di bibirnya. Ia tahu bahwa surat itu adalah awal dari badai baru yang akan menguji keteguhan janjinya untuk tidak pernah membiarkan orang lain masuk ke dalam hidup mereka lagi. Namun, di balik bayangan pintu, Sarah menyadari bahwa rahasia yang ia simpan rapat-rapat tentang alasan perceraiannya kini terancam terbongkar ke permukaan.

Sarah menyeka butiran keringat yang membasahi dahi dengan punggung tangan yang gemetar. Ruang tamu itu terasa begitu sempit, sesak oleh tumpukan kardus cokelat yang berisi sisa-sisa kehidupan lama yang ingin ia kubur dalam-dalam. Aroma debu dan kayu tua menyeruak, menciptakan suasana asing yang menusuk indra penciumannya di sore yang gerah itu.

Di sudut ruangan yang remang, Rio duduk meringkuk sambil mendekap erat robot plastik merahnya yang mulai lecet. Matanya yang bulat menatap waspada ke arah pintu kayu yang berderit setiap kali tertiup angin kencang dari luar. Bocah tujuh tahun itu tidak banyak bicara sejak mereka meninggalkan rumah besar yang kini hanya menyisakan kenangan pahit tentang bentakan dan tangisan.

Sarah mendekat, mencoba mengatur napasnya yang menderu agar tidak menunjukkan ketakutan yang sedang mencengkeram dadanya. Ia membelai rambut Rio dengan gerakan ritmis yang biasa ia lakukan untuk menenangkan diri sendiri saat situasi memanas. Baginya, setiap inci ruang sempit ini adalah benteng pertahanan yang harus ia jaga mati-matian dari gangguan siapapun.

Tiba-tiba, suara ketukan keras menghantam pintu depan, membuat Rio tersentak hingga robot di pelukannya terjatuh ke lantai semen. Sarah membeku, jemarinya terkepal kuat di balik lipatan daster kusamnya sementara jantungnya berdegup kencang menghantam rusuk. Bayangan sosok pria yang selama ini menghantui mimpinya seolah berdiri tepat di balik daun pintu yang rapuh itu.

Tanpa suara, Sarah berdiri dan mengunci pintu tambahan dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi sedikit pun. Ia telah bersumpah dalam hati bahwa tidak akan ada laki-laki lain yang diizinkan melintasi ambang pintu rumahnya lagi. Baginya, cinta hanyalah jeratan yang akan menghancurkan ketenangan yang baru saja ia bangun untuk putra semata wayangnya.

Rio menatap ibunya dengan tatapan bertanya, sebuah sorot mata yang menuntut kepastian tentang keamanan mereka di tempat baru ini. Sarah hanya memberikan senyum tipis yang dipaksakan, sebuah topeng ketegaran yang selalu ia pakai setiap harinya. Ia tahu bahwa mulai detik ini, dunianya hanya akan berputar pada poros kecil yang bernama Rio, tanpa ruang bagi orang asing.

Namun, sebuah amplop putih yang terselip di bawah pintu tiba-tiba menarik perhatian Sarah, membuatnya tersentak mundur dengan wajah pucat pasi. Surat itu berisi tuntutan hak asuh yang ditandatangani oleh mantan suaminya, menghancurkan ilusi kebebasan yang baru saja ia rasakan. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan Sarah sadar ia tidak boleh kalah demi masa depan putra tercintanya.

Uap tipis membumbung dari piring porselen retak yang berisi nasi putih dan sepotong telur dadar yang dibagi dua. Sarah menggeser piring yang paling besar ke arah Rio, memastikan putranya mendapatkan porsi lebih banyak malam itu. Meja kayu yang kaki-kakinya sudah mulai goyah itu berderit setiap kali Rio menyendok makanannya dengan pelan.

Sunyi merayap di antara mereka, hanya menyisakan simfoni jangkrik yang bersahutan dari balik jendela kaca yang buram oleh embun malam. Sarah terus memutar ujung kain serbet di pangkuannya, sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali ia berusaha menelan kecemasan yang menyesak di dada. Tangannya yang kasar karena deterjen tampak gemetar saat ia mulai menyuap nasi hambar ke mulutnya.

Sarah selalu menyelipkan kata "kita pasti kuat" di setiap akhir kalimatnya, sebuah pola bicara yang menjadi mantra pelindung bagi mereka berdua. Ia memandang wajah Rio yang tertunduk, menyadari betapa bocah itu merindukan suara tawa yang dulu sering mengisi ruang makan ini. Namun, Sarah dengan tegas membuang jauh-jauh pikiran untuk mencari pengganti sosok lelaki di rumah itu.

Baginya, mengizinkan orang asing masuk ke dalam kehidupan mereka hanya akan menciptakan luka baru yang lebih dalam bagi Rio. Keputusan Sarah sudah bulat; ia lebih memilih menua dalam kesendirian daripada harus melihat Rio merasa tersisih atau terancam oleh kehadiran ayah tiri. Ia seringkali menolak ajakan makan siang dari rekan kerjanya dengan alasan yang selalu sama, yaitu Rio menunggunya di rumah.

Lampu neon di langit-langit berkedip sekali, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding ruang makan yang catnya mulai mengelupas. Sarah tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang ia paksakan demi meyakinkan Rio bahwa dunia mereka tidak sedang runtuh. Ia menjangkau tangan kecil Rio, meremasnya lembut seolah ingin menyalurkan seluruh sisa keberanian yang ia miliki malam itu.

Rio mendongak, matanya yang besar menatap Sarah dengan binar yang sulit diartikan, seolah ia mengerti beban yang dipikul ibunya sendirian. "Ibu tidak makan telurnya?" tanya Rio dengan suara serak, menyodorkan potongan telur bagiannya kembali ke piring Sarah. Sarah menggeleng pelan sambil mengusap rambut Rio, bersikeras bahwa ia sudah merasa sangat kenyang hanya dengan melihat putranya makan dengan lahap.

Di balik ketenangan yang ia tunjukkan, Sarah menyimpan sebuah rahasia besar tentang alasan sebenarnya di balik perceraiannya yang traumatis setahun lalu. Ia tahu bahwa janji untuk tidak menikah lagi adalah satu-satunya cara agar ia bisa menebus kesalahan masa lalu yang hampir menghancurkan masa depan Rio. Setiap sudut rumah ini adalah saksi bisu dari perjuangan seorang ibu yang rela mematikan perasaannya sendiri demi keutuhan jiwa anaknya.

Malam semakin larut ketika Sarah mulai membereskan piring-piring kotor, sementara Rio sudah mulai mengantuk di kursi kayunya yang keras. Ia menggendong bocah itu menuju kamar, merasakan beban tubuh Rio yang semakin berat setiap harinya sebagai pengingat akan waktu yang terus berjalan. Di ambang pintu, Sarah berbisik pelan bahwa esok akan ada hari yang lebih cerah, meski ia sendiri tidak tahu dari mana cahaya itu akan datang.

Lihat selengkapnya