Hanya Kita Berdua

Bilsyah Ifaq
Chapter #2

Tembok yang Dibangun

Cahaya lampu jalan yang remang menembus kaca jendela ruang tamu, menyinari Sarah yang sedang melipat pakaian kecil milik Rio. Jari-jemarinya yang ramping bergerak dengan ritme yang teratur, sebuah ritual penenang yang selalu ia lakukan setiap kali pikirannya mulai melantur jauh. Setiap lipatan baju adalah janji bisu yang ia sematkan untuk keamanan masa depan putranya, sebuah benteng yang ia bangun dari kain dan kasih sayang.

Suara ketukan pelan di pintu depan membuat gerakan tangannya terhenti seketika. Ia tahu itu adalah rekan kerjanya, seorang pria yang belakangan ini sering mengirimkan pesan perhatian yang tak pernah ia balas. Sarah hanya menatap daun pintu itu tanpa niat untuk bangkit, memilih untuk tetap diam dalam kegelapan agar rumahnya tampak kosong dan tak tersentuh oleh gangguan dari luar sana.

"Rio adalah segalanya, tak ada ruang untuk orang lain di meja makan ini," gumamnya lirih sambil merapikan tumpukan kaus kaki. Ia selalu memastikan nada bicaranya tetap datar dan tegas, sebuah pola bicara yang ia kembangkan untuk memutus harapan siapapun yang mencoba mendekat. Baginya, setiap kata manis dari seorang pria hanyalah ancaman tersembunyi yang berpotensi menghancurkan ketenangan yang baru saja ia bangun kembali.

Keputusannya untuk menutup diri bukanlah sebuah tindakan impulsif, melainkan sebuah strategi bertahan hidup yang sangat terukur. Ia ingat betul bagaimana sorot mata Rio yang penuh ketakutan saat melihat pertengkaran hebat di masa lalu, dan ia bersumpah tidak akan membiarkan bayangan asing masuk ke rumah mereka. Sarah lebih memilih memikul beban finansial dan emosional sendirian daripada mengambil risiko mengenalkan sosok ayah baru yang belum tentu tulus.

Saat Rio terbangun dan memanggilnya dengan suara serak khas anak kecil, Sarah segera beranjak dengan senyum yang dipaksakan agar terlihat sempurna. Ia membelai rambut putranya, merasakan kehangatan yang jauh lebih berharga daripada janji-janji romantis yang ditawarkan dunia luar. Di kamar yang sunyi itu, ia kembali menegaskan dalam hati bahwa dunia mereka sudah cukup luas meski hanya dihuni oleh dua orang saja.

Namun, sebuah surat lama yang terselip di bawah bantal Rio tiba-tiba menarik perhatiannya, berisi coretan gambar tiga orang yang berpegangan tangan. Sarah meremas pinggiran sprei, menyadari bahwa meski ia telah menutup pintu rapat-rapat, imajinasi putranya mungkin memiliki keinginan yang berbeda. Konflik batin yang selama ini ia tekan mulai merayap naik, mengancam fondasi kokoh yang ia yakini sebagai satu-satunya cara untuk melindungi kebahagiaan mereka berdua.

Ketegangan itu memuncak ketika ia menemukan sebuah nama asing yang tertulis di balik gambar tersebut dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari bahwa selama ini ada seseorang yang diam-diam mendekati Rio tanpa sepengetahuannya. Sarah berdiri mematung di tengah kamar, menyadari bahwa benteng yang ia bangun dengan susah payah ternyata memiliki celah yang sangat membahayakan stabilitas hidup mereka selama ini.

Matahari sore yang jingga memantul di jendela kaca rumah Sarah, menciptakan bayangan panjang yang seolah membelah halaman depan. Sarah sedang sibuk merapikan tanaman hiasnya, sebuah ritual harian yang ia lakukan dengan ketelitian seorang ahli bedah. Jemarinya yang ramping bergerak lincah memangkas daun-daun kering, sementara pikirannya tetap tertuju pada Rio yang sedang mengerjakan tugas sekolah di dalam rumah.

Andi, tetangga baru yang tinggal tepat di seberang jalan, melangkah keluar dari mobilnya dengan senyum yang tampak terlalu lebar bagi Sarah. Pria itu membawa sebuah kotak kecil, mungkin kue atau sekadar basa-basi tetangga baru yang lazim dilakukan di lingkungan ini. Langkah kakinya yang berat terdengar mendekat ke arah pagar kayu rendah yang membatasi dunia Sarah dengan dunia luar yang tidak ia percayai.

"Selamat sore, Mbak Sarah. Kebetulan saya tadi lewat toko roti langganan, sepertinya enak kalau dinikmati sore-sore begini," sapa Andi dengan nada suara yang hangat dan penuh percaya diri. Ia berhenti tepat di depan pagar, menunggu izin tak tertulis untuk melangkah lebih jauh ke dalam area pribadi Sarah. Namun, Sarah tidak menghentikan aktivitasnya, ia hanya menatap sekilas ke arah kotak itu sebelum kembali pada gunting steknya.

Sarah hanya memberikan anggukan singkat yang nyaris tidak terlihat, sebuah gestur yang sudah menjadi benteng pertahanan paling efektif baginya selama bertahun-tahun. Ia merapikan rambutnya yang tidak berantakan, sebuah kebiasaan kecil setiap kali ia merasa terdesak oleh kehadiran orang asing. Baginya, setiap kata ramah dari lawan jenis adalah sebuah ancaman tersembunyi yang berpotensi merusak kedamaian yang ia bangun untuk Rio.

"Terima kasih, Pak Andi. Tapi kami sedang tidak ingin makan kue," jawab Sarah dengan nada datar, tanpa sedikit pun bumbu keramahan di dalamnya. Ia selalu menggunakan pilihan kata yang formal dan menjaga jarak, memastikan tidak ada celah bagi percakapan yang lebih akrab. Ia tidak ingin memberikan harapan sekecil apa pun kepada pria mana pun yang mencoba mendekat, terutama mereka yang terlihat terlalu berusaha.

Keputusan Sarah untuk menutup diri bukanlah tanpa alasan yang kuat, melainkan sebuah janji bisu yang ia buat sejak hari perceraiannya yang memilukan. Ia telah bersumpah dalam hati bahwa ruang tamu rumahnya hanya akan diisi oleh tawa Rio dan dirinya sendiri, tanpa intervensi pihak ketiga. Ia tidak ingin putranya harus beradaptasi lagi dengan sosok ayah tiri yang mungkin saja tidak benar-benar tulus mencintai mereka berdua.

Andi tampak sedikit canggung, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil mencoba mencari topik pembicaraan lain yang lebih netral. Namun, Sarah justru semakin menundukkan kepalanya, pura-pura sangat fokus pada akar tanaman mawar yang sebenarnya sudah bersih dari gulma. Keheningan yang diciptakan Sarah terasa begitu dingin dan tebal, membuat Andi perlahan-lahan menyadari bahwa kehadirannya tidak diinginkan di sana.

Setiap kali ada pria yang mencoba mendekat, Sarah selalu membayangkan wajah Rio yang mungkin akan merasa tersisih jika ia membuka hati kembali. Ia lebih memilih kesepian yang tenang daripada harus berjudi dengan kebahagiaan putra semata wayangnya di masa depan nanti. Baginya, menjadi ibu tunggal bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah misi suci yang menuntut pengabdian penuh tanpa ada ruang untuk asmara pribadi.

Andi akhirnya berbalik arah dengan langkah yang lebih lambat dari sebelumnya, membawa kembali kotak rotinya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Sarah menghela napas panjang saat mendengar suara pintu pagar yang tertutup kembali, merasa lega karena bentengnya tetap kokoh berdiri. Ia bangkit berdiri, membersihkan debu di celananya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah untuk memastikan Rio baik-baik saja tanpa gangguan siapa pun.

Namun, saat ia menutup pintu depan, Sarah melihat sebuah amplop cokelat tua terselip di bawah keset yang tadi sempat terinjak oleh Andi tanpa ia sadari sama sekali. Dengan tangan gemetar, ia membuka kertas di dalamnya yang berisi dokumen resmi pengadilan mengenai hak asuh anak yang seharusnya sudah selesai bertahun-tahun lalu. Di sana tertulis nama mantan suaminya dengan stempel merah yang menandakan bahwa pertempuran yang ia kira sudah berakhir, ternyata baru saja dimulai kembali.

Cahaya lampu neon di kantor mulai meredup saat jarum jam menyentuh angka lima. Sarah dengan cekatan merapikan tumpukan berkas di mejanya, gerakannya terukur dan efisien. Di sudut ruangan, Arman bersandar pada sekat meja sambil memutar kunci mobil di jarinya, matanya menatap Sarah dengan binar yang sulit diartikan.

"Sarah, ada restoran steik baru yang buka di ujung jalan," ujar Arman dengan nada bicara yang sengaja direndahkan agar terdengar akrab. "Tim lain sudah pulang lewat jam ini. Kurasa kita berhak mendapatkan hadiah kecil setelah laporan bulanan yang melelahkan itu. Bagaimana kalau kita makan malam di sana?"

Sarah menghentikan gerakannya sejenak, lalu jemarinya mulai mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu dengan ritme cepat yang menjadi kebiasaan uniknya setiap kali merasa terdesak. Ia menarik napas dalam, mencium aroma kopi basi dan pembersih lantai yang tajam, sebuah lingkungan yang ingin segera ia tinggalkan demi pelukan hangat putranya.

"Terima kasih tawaran manisnya, Arman, tapi jadwal makan malamku sudah terkunci rapat untuk satu-satunya pria paling penting dalam hidupku," sahut Sarah dengan nada bicara yang tegas namun tetap menjaga kesopanan profesional. Ia tidak memberikan celah sedikit pun bagi Arman untuk mendebat atau mencoba merayu kembali.

Keputusannya sudah bulat sejak hari perceraian itu; ia tidak akan membiarkan orang asing masuk ke dalam ruang privat yang ia bangun bersama Rio. Baginya, setiap detik yang dihabiskan untuk basa-basi romantis adalah pengkhianatan terhadap waktu berkualitas yang seharusnya menjadi hak milik Rio sepenuhnya tanpa harus berbagi perhatian.

Lihat selengkapnya