Hanya Kita Berdua

Bilsyah Ifaq
Chapter #3

Pertumbuhan Dalam Sunyi

Cahaya jingga dari lampu meja menyinari jemari Sarah yang sibuk membetulkan kancing seragam SMA milik Rio. Setiap gerakannya penuh presisi, sebuah ritual kecil yang selalu ia lakukan setiap malam sebelum anaknya tidur. Ia sering kali memutar cincin polos di jari manis kirinya yang kini kosong, sebuah gestur bawah sadar yang mengingatkannya pada janji yang ia buat sendiri di depan cermin retak sepuluh tahun yang lalu.

"Ibu, kenapa tidak coba pergi makan malam dengan Om Hendra?" celetuk Rio sambil menyandarkan tubuh jangkungnya di ambang pintu kamar. Sarah hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak pernah mencapai matanya, lalu menjawab dengan suara lembut namun tegas. "Rio, fokus Ibu itu cuma memastikan kamu punya masa depan yang lurus, bukan mencari teman makan malam yang hanya akan menambah piring kotor di dapur kita."

Keputusan Sarah untuk tidak membuka hati kembali bukanlah sebuah pengorbanan yang ia ratapi, melainkan sebuah benteng yang sengaja ia bangun setinggi langit. Ia selalu memilih jalan yang paling aman bagi perasaan Rio, meskipun itu berarti ia harus menelan kesepiannya sendiri di tengah malam yang dingin. Baginya, kehadiran pria baru hanya akan menjadi variabel pengganggu yang berpotensi merusak harmoni kecil yang telah susah payah ia bangun dari puing-puing perceraian.

Suatu sore, Sarah menemukan sebuah brosur panti asuhan di tas Rio yang terbuka, lengkap dengan coretan tangan anaknya tentang rasa bersalah karena merasa menjadi beban bagi ibunya. Jantung Sarah berdegup kencang, ia segera menghampiri Rio dan menggenggam tangannya dengan erat hingga buku jarinya memutih. "Dengar, jagoan, Ibu tidak butuh siapa pun untuk merasa lengkap selama ada kamu di sini, jadi jangan pernah berpikir untuk pergi," bisiknya dengan nada yang bergetar hebat.

Namun, sebuah kejutan pahit menghantam Sarah saat ia menemukan surat pengadilan lama yang selama ini ia sembunyikan di bawah tumpukan kain di lemari. Rio berdiri di belakangnya dengan mata berkaca-kaca, memegang salinan surat yang sama yang ternyata sudah ia ketahui sejak lama. "Ibu berbohong tentang Ayah yang mengabaikan kita, padahal Ibu yang melarangnya bertemu denganku melalui surat perintah ini selama bertahun-tahun," ucap Rio dengan nada dingin yang belum pernah Sarah dengar sebelumnya.

Kepercayaan yang selama ini dipupuk Sarah hancur seketika saat Rio melangkah mundur, menolak sentuhan ibunya yang gemetar karena rahasia gelap itu akhirnya terbongkar. Dunianya yang selama ini ia jaga agar tetap murni untuk Rio kini justru menjadi penjara yang menyesakkan bagi mereka berdua. Tanpa sepatah kata pun, Rio mengambil tas ranselnya dan melangkah keluar rumah, meninggalkan Sarah yang terduduk lemas di lantai dingin sambil meratapi kehancuran yang ia ciptakan sendiri.

Malam itu, hujan turun dengan deras seolah ikut meratapi pengkhianatan emosional yang terjadi di dalam rumah kecil tersebut. Sarah menyadari bahwa dedikasinya yang berlebihan justru telah menjadi racun yang memisahkan dirinya dari satu-satunya alasan ia bertahan hidup. Ia hanya bisa menatap pintu yang terbuka lebar, menyadari bahwa putra kesayangannya mungkin tidak akan pernah kembali ke pelukannya dengan cara yang sama seperti dulu lagi.

Asap tipis mengepul dari permukaan kue bolu coklat yang baru saja dikeluarkan Sarah dari oven tua di sudut dapur. Jari-jarinya yang kasar karena terlalu sering mencuci piring segera memoleskan krim putih seadanya di atas permukaan kue yang tidak rata itu. Sarah mengusap butiran keringat di dahi dengan punggung tangan, sebuah kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan setiap kali merasa cemas atau terlalu lelah bekerja.

"Ibu, apakah lilinnya sudah siap?" suara Rio memecah keheningan malam yang sunyi di rumah kontrakan sempit mereka. Bocah itu berdiri di ambang pintu dengan mata berbinar, mengenakan kaus oblong yang sudah mulai memudar warnanya namun tetap terlihat rapi. Sarah tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang ia berikan kepada orang lain sejak perceraian pahit yang menghancurkan kepercayaan dirinya pada laki-laki.

Sarah meletakkan kue itu di atas meja kayu yang permukaannya sudah mulai terkelupas, dikelilingi oleh dua piring plastik berwarna pudar. Tidak ada balon warna-warni, tidak ada tumpukan kado mahal, dan tidak ada tamu undangan yang datang membawa keriuhan pesta. Ruang tamu itu terasa begitu luas namun sekaligus menyesakkan dengan kenangan-kenangan masa lalu yang terus berusaha Sarah kubur dalam-dalam demi ketenangan putra tunggalnya.

Rio segera meniup lilin angka sepuluh itu dengan penuh semangat hingga tawa renyahnya memenuhi setiap sudut ruangan yang remang-remang. Sarah memperhatikan garis wajah anaknya, mencari-cari jejak pria yang dulu pernah berjanji akan melindungi mereka namun justru pergi meninggalkan luka. Ia meremas ujung celemeknya dengan kuat, sebuah ritual bawah sadar untuk menahan amarah yang sewaktu-waktu bisa meledak jika ia mengingat pengkhianatan itu.

"Hanya kita berdua, Rio. Selamanya hanya kita berdua, Ibu janji tidak akan ada orang asing yang masuk ke rumah ini," bisik Sarah dengan nada suara yang rendah namun penuh penekanan. Ia selalu menggunakan kalimat itu sebagai mantra pelindung, sebuah janji suci yang ia pegang teguh agar Rio tidak perlu merasakan kepedihan yang sama seperti dirinya. Rio hanya mengangguk patuh sambil mengunyah potongan kue bolu yang terasa manis di lidahnya.

Suasana hangat itu tiba-tiba terganggu oleh ketukan keras di pintu depan yang membuat Sarah tersentak hingga hampir menjatuhkan piringnya. Jantungnya berdegup kencang saat ia melihat bayangan seorang pria berdiri di balik kaca buram pintu rumah mereka yang rapuh. Sarah berdiri dengan kaku, menghalangi pandangan Rio dari pintu, sementara tangannya gemetar hebat saat ia mengenali siluet yang sangat ia benci tersebut.

Pintu itu terbuka dengan paksa sebelum Sarah sempat menguncinya, menampakkan sosok mantan suaminya yang datang dengan wajah penuh tuntutan. Pria itu melemparkan sebuah amplop coklat ke atas meja, tepat di samping kue ulang tahun Rio yang masih tersisa separuh. "Aku tidak datang untuk kembali, Sarah. Aku datang untuk mengambil hak asuh Rio karena kau tidak akan sanggup menghidupinya sendirian selamanya," ucap pria itu dingin.

Dunia Sarah seolah runtuh saat ia menyadari bahwa selama ini mantan suaminya telah menyusun rencana untuk merebut satu-satunya alasan ia bertahan hidup. Ia memandang Rio yang kini gemetar ketakutan di pojok ruangan, menyadari bahwa janji yang ia bangun dengan susah payah terancam hancur dalam sekejap. Amarah yang selama ini ia pendam akhirnya meluap, menciptakan ketegangan yang begitu tajam hingga udara di ruangan itu terasa mencekik.

Sarah melangkah maju dengan tatapan mata yang menyala, meraih pisau pemotong kue yang masih berlumuran krim coklat di atas meja. Ia tidak lagi peduli dengan aturan atau belas kasihan, karena baginya, keselamatan mental Rio adalah harga mati yang harus dibayar dengan apa pun. Di bawah lampu neon yang berkedip redup, Sarah menyadari bahwa perjuangannya untuk menyendiri justru telah memicu perang yang jauh lebih besar dan berbahaya.

Aroma teh melati yang mengepul dari cangkir porselen di atas meja kerja Sarah seketika kehilangan daya pikatnya. Di tangannya, sebuah amplop putih dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali terasa seberat bongkahan batu. Jemari Sarah mulai gemetar saat matanya menyisir baris demi baris kalimat yang meminta izin untuk menemui Rio, putra semata wayangnya yang kini sedang asyik bermain mobil-mobilan di ruang tengah.

Sarah meremas kertas itu hingga membentuk bola tidak beraturan, kuku-kukunya memutih karena tekanan yang begitu kuat. Ia bisa merasakan denyut jantungnya berpacu lebih cepat, seolah-olah gema masa lalu yang penuh luka kembali mengetuk pintu rumahnya tanpa diundang. Lima tahun telah berlalu sejak ia memutuskan untuk pergi, namun ketakutan akan bayang-bayang pria itu masih sanggup membuat napasnya terasa sesak dan berat.

Setiap sudut rumah ini telah ia tata dengan penuh cinta demi menciptakan benteng keamanan bagi Rio, jauh dari pertengkaran hebat yang dulu menghiasi hari-hari mereka. Sarah selalu memastikan bahwa tidak ada ruang bagi kesedihan untuk menyusup masuk kembali ke dalam kehidupan kecil mereka yang tenang. Baginya, kehadiran surat ini bukan sekadar permintaan pertemuan, melainkan ancaman nyata terhadap kedamaian yang telah ia bangun dengan cucuran keringat dan air mata.

"Ibu, lihat! Mobil ini bisa terbang!" seru Rio dengan tawa yang memenuhi ruangan, memecah keheningan yang mencekam di meja kerja Sarah. Sarah segera

Lihat selengkapnya