Hanya Kita Berdua

Bilsyah Ifaq
Chapter #6

Gema Masa Depan

Lampu meja yang temaram membiaskan bayangan Rio yang sedang sibuk merapikan tumpukan formulir pendaftaran universitas di ruang tamu. Sarah berdiri mematung di ambang pintu dapur, jemarinya terus-menerus memutar cincin perak di jari manis tangan kanannya, sebuah gestur yang selalu ia lakukan setiap kali kecemasan mulai merayap naik ke dadanya.

Suara gesekan kertas dan denting pulpen di atas meja kayu itu terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur sisa waktu kebersamaan mereka di rumah ini. Bagi Sarah, setiap lembar dokumen yang diisi oleh putranya adalah satu langkah lebih dekat menuju keheningan panjang yang selama belasan tahun ini selalu ia coba hindari dengan segala cara.

"Ibu, menurutmu aku harus mengambil asrama di dalam kampus atau mencari kontrakan kecil di luar agar lebih bebas?" tanya Rio tanpa menoleh, suaranya terdengar penuh semangat namun tetap tenang. Rio memiliki cara bicara yang selalu terukur, seolah setiap kata telah ia timbang bobotnya agar tidak membebani perasaan ibunya yang ia tahu sangat rapuh di balik ketegaran palsunya.

Sarah menarik napas panjang, berusaha menelan gumpalan sesak yang menyumbat tenggorokannya sebelum menjawab dengan nada yang dipaksakan ceria. "Pilihlah yang paling dekat dengan perpustakaan, Nak, agar kau tak perlu pulang terlalu larut jika tugas menumpuk," ujarnya sambil berjalan mendekat, tangannya gemetar saat menyentuh bahu kokoh putra tunggalnya itu.

Keputusan Sarah untuk menutup rapat pintu hatinya bagi pria lain selama ini didasari oleh satu keyakinan mutlak bahwa Rio adalah poros dunianya yang tidak boleh terganggu oleh kehadiran orang asing. Ia selalu merasa bahwa dengan tetap berdua, ia bisa melindungi Rio dari rasa terabaikan yang dulu pernah ia rasakan sendiri saat orang tuanya memutuskan untuk berpisah.

Namun, saat melihat koper besar yang mulai terbuka di sudut kamar, Sarah menyadari bahwa pengorbanannya untuk tidak menikah lagi mungkin tidak akan cukup untuk membendung rasa sepi yang akan datang. Ia telah membangun benteng yang begitu tinggi untuk menjaga mereka berdua, namun kini benteng itu terasa seperti penjara yang sangat sunyi bagi dirinya sendiri.

Pikiran Sarah melayang pada tawaran makan malam dari rekan kerjanya yang baru saja ia tolak mentah-mentah pagi tadi dengan alasan kesibukan rumah tangga yang sebenarnya sudah mulai memudar. Ia menatap punggung Rio dan menyadari bahwa dalam beberapa bulan ke depan, hanya akan ada satu piring di atas meja makan, dan tidak akan ada lagi suara tawa yang memecah kesunyian malam di rumah mereka.

Sinar matahari sore menerobos celah gorden ruang tamu yang mulai memudar warnanya, menyinari amplop putih di atas meja kayu. Sarah menatap logo universitas ternama itu dengan jemari yang gemetar, seolah kertas di hadapannya adalah benda rapuh yang bisa hancur kapan saja. Di sudut ruangan, Rio sedang sibuk memasukkan beberapa buku ke dalam ransel usangnya, tidak menyadari betapa berat napas ibunya saat itu.

Kabar kelulusan Rio di universitas luar kota seharusnya menjadi puncak kemenangan bagi perjuangan Sarah selama belasan tahun ini. Namun, saat ia melihat nama putranya tercetak tegas di sana, dadanya terasa sesak oleh hantaman emosi yang saling bertolak belakang. Kebanggaan itu ada, membuncah hingga ke tenggorokan, tetapi di baliknya terdapat ketakutan yang sangat besar tentang kesunyian yang akan segera datang.

Sarah terbiasa memutar kunci pintu dua kali setiap malam, sebuah ritual keamanan yang ia lakukan sejak suaminya pergi meninggalkan luka permanen. Ia selalu memastikan Rio ada di dalam rumah sebelum ia bisa memejamkan mata dengan tenang. Kini, rutinitas itu terancam hilang, menyisakan ruang kosong di meja makan yang selama ini hanya diisi oleh suara tawa dan denting sendok mereka berdua saja.

"Ibu, aku akan belajar sangat keras di sana agar Ibu tidak perlu bekerja lembur lagi," ucap Rio sambil mendekat, suaranya terdengar penuh semangat masa muda. Sarah hanya mampu mengangguk pelan sembari memaksakan sebuah senyuman, meski tangannya secara refleks merapikan kerah kaus Rio yang sebenarnya sudah rapi. Ia selalu punya kecenderungan untuk memperbaiki hal-hal kecil demi menutupi kekacauan besar di dalam hatinya.

Setiap sudut rumah kecil ini menyimpan jejak pertumbuhan Rio, mulai dari goresan krayon di dinding dapur hingga tumpukan piala di rak kayu yang mulai miring. Sarah menatap sofa tua tempat mereka biasa menonton televisi bersama, membayangkan bagaimana rasanya duduk di sana sendirian tanpa ada yang meminta dibuatkan teh hangat. Kesunyian yang ia bangun sebagai benteng perlindungan bagi Rio, kini berbalik menjadi penjara yang akan mengurungnya dalam sepi.

Keputusan Sarah untuk tidak pernah membuka hati bagi pria lain adalah janji suci yang ia pegang teguh demi menjaga perasaan putra tunggalnya. Ia tidak ingin Rio merasa tersisih atau harus berbagi kasih sayang dengan orang asing yang mungkin tidak akan pernah memahaminya. Namun, pengabdian tanpa henti itu kini membawanya pada sebuah persimpangan di mana ia harus merelakan satu-satunya alasan hidupnya untuk pergi menjauh.

Malam itu, Sarah duduk di kursi goyangnya sambil memandangi langit malam dari jendela yang terbuka sedikit, membiarkan angin dingin menyentuh kulitnya. Ia tahu bahwa mulai bulan depan, suara langkah kaki Rio di koridor rumah tidak akan terdengar lagi, digantikan oleh detak jam dinding yang monoton. Rumah ini akan tetap berdiri kokoh, namun jiwanya seolah-olah ikut terbawa pergi bersama koper-koper yang mulai berjajar rapi di dekat pintu keluar.

Saat Rio tertidur lelap, Sarah mengambil sebuah foto lama mereka berdua dan menyelipkannya ke dalam saku tas ransel putranya dengan gerakan sangat perlahan. Ia menyadari bahwa perannya sebagai pelindung utama kini telah memasuki babak baru yang menuntut keberanian untuk melepaskan. Meskipun hatinya terasa seperti dicabik oleh rasa sepi yang amat sangat, ia tetap memilih untuk berdiri tegak demi masa depan emas yang sudah di depan mata.

Lampu ruang tamu yang temaram memantulkan bayangan lelah di wajah Sarah saat ia duduk di tepi sofa tua yang kainnya mulai menipis. Dengan jemari yang bergetar halus, sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali ia merasa terdesak, ia mengeluarkan sebuah buku tabungan kusam dari balik laci meja kayu yang terkunci rapat.

Ia menyodorkan buku itu ke arah Rio, putranya yang kini sudah beranjak remaja dan mulai mempertanyakan mengapa mereka selalu hidup dalam keterbatasan yang menyesakkan. "Lihat ini, Nak. Baca setiap angka yang tertulis di sana dengan teliti," ucap Sarah dengan nada suara yang rendah namun bergetar hebat karena emosi yang tertahan.

Rio menerima buku itu dengan ragu, lalu matanya membelalak lebar saat melihat deretan angka yang tercetak di setiap halamannya. Saldo akhir yang tertera di sana jauh melampaui apa pun yang pernah ia bayangkan bisa dimiliki oleh seorang ibu tunggal yang bekerja sebagai buruh jahit harian seperti ibunya.

Setiap baris setoran menceritakan kisah tentang makan malam yang dilewatkan Sarah, sepatu tua yang terus diperbaiki hingga tak berbentuk, dan penolakan tegasnya terhadap setiap pria yang mencoba mendekat. Sarah selalu memilih untuk menyimpan setiap rupiah demi masa depan Rio, memastikan putra tunggalnya tidak akan pernah merasa kekurangan kasih sayang maupun biaya pendidikan.

Ketegangan di ruangan itu memuncak saat Rio menyadari bahwa ibunya sengaja menyembunyikan kekayaan kecil ini hanya untuk menjaganya agar tetap merasa aman dan tidak merasa terancam oleh kehadiran orang baru. "Aku tidak butuh ayah baru, Rio. Aku hanya butuh memastikan langkahmu tidak terhenti karena uang," tegas Sarah sambil meremas ujung daster batiknya.

Namun, suasana yang semula penuh haru mendadak berubah menjadi dingin saat Rio menemukan sebuah slip penarikan besar yang dilakukan hanya beberapa hari yang lalu. Matanya menatap tajam ke arah Sarah, mencari penjelasan atas hilangnya sebagian besar dana yang telah dikumpulkan dengan darah dan air mata selama belasan tahun tersebut.

Lihat selengkapnya