Hanya Kita Berdua

Bilsyah Ifaq
Chapter #8

Kepulangan yang Dinanti

Aroma tumisan bawang putih yang gurih memenuhi dapur kecil itu saat Sarah memutar pergelangan tangannya, mengaduk nasi goreng kesukaan putranya. Setiap sore, ia selalu memastikan rumah terasa hangat, sebuah benteng kecil yang ia bangun dengan susah payah sejak perceraiannya lima tahun silam. Baginya, kebahagiaan Rio adalah harga mati yang tidak bisa ditawar oleh kehadiran laki-laki mana pun dalam hidupnya.

Suara kunci yang berputar di lubang pintu memecah keheningan sore, diikuti oleh langkah kaki Rio yang terdengar lebih berat dari biasanya. Sarah segera mematikan kompor, mengusap tangannya pada celemek lusuh yang selalu ia pakai, lalu bergegas menuju ruang depan dengan senyum yang sudah disiapkan. Namun, senyum itu perlahan memudar saat ia melihat raut wajah Rio yang tampak tegang dan tidak biasa.

Rio berdiri di ambang pintu tanpa melepaskan tas punggungnya, matanya menatap lantai kayu yang mulai kusam sebelum akhirnya beralih menatap ibunya dengan intensitas yang mengejutkan. Ia tidak langsung menyapa atau mencium tangan Sarah seperti ritual harian mereka, melainkan menarik napas panjang seolah sedang mengumpulkan keberanian yang sangat besar. Atmosfer di ruangan itu seketika berubah menjadi kaku dan penuh tekanan.

"Bu, ada sesuatu yang harus aku sampaikan, dan ini mungkin bukan hal yang Ibu harapkan," ujar Rio dengan nada suara yang rendah namun tegas. Sarah merasakan jantungnya berdegup kencang, tangannya secara tidak sadar meremas ujung celemeknya, sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali ia merasa terancam. Ia takut jika dunia kecil yang ia jaga dengan sangat protektif ini akan segera runtuh oleh kata-kata anaknya.

Rio kemudian merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah amplop resmi dengan logo sebuah universitas ternama di luar negeri yang selama ini tidak pernah mereka bicarakan. Ternyata, diam-diam ia telah mengurus beasiswa penuh dan diterima di sana, namun ada syarat yang membuatnya harus pergi selama bertahun-tahun. Kejutan ini menghantam Sarah tepat di ulu hati, menyadari bahwa putra yang ia lindungi kini justru ingin melangkah jauh darinya.

Ketegangan memuncak saat Rio melanjutkan bahwa ia tidak ingin berangkat jika ibunya tetap bersikeras untuk hidup dalam kesendirian yang menyesakkan demi dirinya. "Aku tidak bisa pergi dengan tenang kalau tahu Ibu hanya menunggu di rumah ini sendirian tanpa ada yang menjaga," tegas Rio dengan sorot mata yang menuntut jawaban jujur. Sarah terpaku, menyadari bahwa pengorbanannya selama ini justru menjadi beban yang sangat berat bagi masa depan putranya sendiri.

Di bawah lampu ruang tamu yang temaram, Sarah melihat amplop itu sebagai simbol akhir dari sebuah era, sekaligus awal dari ketidakpastian yang menakutkan. Ia harus memilih antara tetap memegang teguh janjinya untuk tidak membuka hati, atau melepaskan ego demi membiarkan Rio terbang mengejar mimpinya tanpa rasa bersalah. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi, menyisakan pertanyaan besar tentang bagaimana nasib keluarga kecil mereka setelah rahasia ini terungkap sepenuhnya.

Deru mesin taksi yang berhenti di depan pagar kayu yang mulai memudar warnanya itu memecah keheningan sore di gang sempit tersebut. Sarah segera menyeka tangannya yang basah ke celemek lusuh, sementara jantungnya berdegup kencang mengikuti irama langkah kaki yang sangat ia kenali. Begitu pintu terbuka, sosok jangkung Rio berdiri di sana dengan ransel besar yang tampak berat, membawa kembali nyawa ke dalam rumah yang selama berbulan-bulan hanya dihuni oleh kesunyian dan bayang-bayang masa lalu.

Sarah tidak banyak bicara, ia hanya maju selangkah untuk mengusap bahu putranya berkali-kali, sebuah ritual bisu yang selalu ia lakukan untuk memastikan bahwa dunianya masih utuh dan nyata. "Sudah sampai, Nak? Mandi dulu, ibu sudah siapkan air hangat," ucapnya dengan nada datar namun penuh penekanan pada setiap suku kata, sebuah pola bicara yang menunjukkan betapa ia berusaha keras menahan haru agar tidak tumpah menjadi tangisan yang bisa membebani perasaan Rio.

Dapur yang biasanya dingin kini berubah menjadi pusat kehangatan saat aroma ketumbar dan lengkuas mulai menari-nari di udara, bercampur dengan uap panas dari panci gulai ayam kesukaan Rio. Sarah bergerak dengan tangkas di antara bumbu-bumbu, memotong cabai dengan ritme yang presisi seolah-olah setiap irisan adalah bentuk dedikasi mutlaknya untuk menjaga kebahagiaan putra tunggalnya. Baginya, tidak ada ruang untuk orang asing di dapur ini, karena setiap sudut ruangan telah ia kunci rapat hanya untuk mereka berdua saja.

Saat mereka duduk berhadapan di meja makan kayu yang kecil, Rio tiba-tiba meletakkan sendoknya dan menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan, sebuah ketegangan yang tidak biasa muncul di sela kunyahan mereka. "Bu, aku bertemu Ayah di stasiun tadi pagi," bisik Rio perlahan, membuat tangan Sarah yang sedang memegang gelas mendadak kaku dan gemetar hebat. Pengakuan itu menghantam pertahanan Sarah, memaksanya menyadari bahwa benteng yang ia bangun selama bertahun-tahun ternyata memiliki celah yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Wajah Sarah mengeras saat ia meletakkan gelasnya dengan denting yang cukup keras di atas meja, sebuah reaksi spontan yang selalu muncul setiap kali nama pria itu disebut kembali dalam hidupnya. Ia menatap mata Rio dalam-dalam, mencari kejujuran yang mungkin menyakitkan, sementara pikirannya mulai menyusun rencana untuk menjauhkan putranya dari pengaruh masa lalu yang kelam itu. Di balik kehangatan makan malam tersebut, sebuah badai baru mulai terbentuk, mengancam janji suci yang telah ia ikat erat demi masa depan mereka berdua.

Suasana sore di ruang tamu terasa begitu tenang, hanya suara detak jam dinding yang mengisi kekosongan. Sarah sedang merapikan taplak meja bermotif bunga kesukaannya saat pintu depan terbuka perlahan. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantung yang tak menentu sejak Rio mengabarkan akan membawa seseorang pulang untuk makan malam bersama.

Rio melangkah masuk dengan senyum lebar yang jarang terlihat sesempurna itu, diikuti oleh seorang gadis berambut sebahu. "Ibu, kenalkan, ini Maya," ucap Rio dengan nada suara yang penuh kebanggaan sekaligus kehati-hatian. Sarah segera meletakkan kain lapnya, lalu menyeka telapak tangannya ke apron yang masih melilit pinggangnya sebelum melangkah maju menyambut tamu istimewa itu.

Maya mengulurkan tangan dengan sopan, memberikan senyum manis yang tampak tulus di mata Sarah. "Halo, Tante, akhirnya saya bisa bertemu langsung," sapa Maya dengan suara lembut yang menenangkan. Sarah membalas jabat tangan itu dengan hangat, meski di sudut hatinya ada secuil rasa nyeri yang asing, sebuah kecemburuan kecil yang muncul saat menyadari putranya kini memiliki pusat perhatian baru.

Meski ada rasa sesak yang samar, Sarah tetap menunjukkan keramahan terbaiknya sebagai seorang tuan rumah. Ia segera mempersilakan Maya duduk di kursi kayu jati yang sudah ia bersihkan berkali-kali sejak pagi tadi. Baginya, kebahagiaan Rio adalah prioritas utama, bahkan jika itu berarti ia harus berbagi ruang di hati putranya dengan kehadiran orang asing yang kini mulai masuk ke dalam kehidupan mereka.

Sarah berbalik menuju dapur untuk mengambilkan minuman dingin, membiarkan Rio dan Maya berbincang santai di ruang tamu. Sambil menuangkan sirup ke dalam gelas kristal, ia menatap bayangannya di cermin lemari makan, meyakinkan dirinya sendiri bahwa janji setianya untuk tidak menikah lagi adalah demi menjaga keutuhan dunia kecil mereka berdua. Ia tersenyum tipis, menyadari bahwa waktu memang terus berjalan dan anaknya kini telah tumbuh dewasa.

Saat ia kembali ke ruang tamu, Sarah melihat bagaimana Rio tertawa lepas mendengar cerita Maya tentang kampusnya. Pemandangan itu membuatnya sadar bahwa perannya sebagai pelindung tunggal mungkin akan segera berubah menjadi pendamping yang melihat anaknya terbang lebih tinggi. Ia meletakkan nampan di atas meja dengan gerakan yang sangat halus, berusaha agar tidak merusak momen berharga yang sedang tercipta di depan matanya sendiri.

Lihat selengkapnya